Kecewa Tak Didukung, Caleg Gagal Minta 4 Makam Keluarga Dipindah

Reporter : Maulana Kautsar
Selasa, 11 Juni 2019 12:36
Kecewa Tak Didukung, Caleg Gagal Minta 4 Makam Keluarga Dipindah
Makam tersebut sudah puluhan tahun.

Dream - Pemilihan legislatif 27 April 2019 telah usai. Tapi, dampak pemilu rupanya belum mereda.

Seorang warga Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, yang juga calon anggota legislatif di Dapil 1 Takalar diakanarkan kecewa lantaran suaranya tak memenuhi target untuk menjadi anggota legislatif.

Dilaporkan Sulselberita.com, caleg yang tak disebut namanya itu mengaku tak mendapat dukungan penuh dari keluarga Daeng Ngampa di Kelurahan Pattene. Kekecewaan itu dia luapkan dengan meminta empat makam milik keluarga Daeng Ngampa dipindindahkan.

Empat makam keluarga Daeng Ngampa tersebut disebut berada di tempat pemakaman milik caleg gagal.

Uniknya, makam tersebut sejatinya telah berada di area pemakaman Pangkarode, Kelurahan Pattene, Polsel, sejak puluhan tahun silam.

 

1 dari 3 halaman

Pengakuan Kerabat

Muhammad Rusli Ronrong, kerabat keluarga yang makamnya dibongkar, mengatakan, sang caleg gagal dan istrinya sempat mendatangi rumah kakaknya, Daeng Ngampa. Tapi, saat itu Daeng Ngampa sedang tak berada di rumahnya.

" Kebetulan saya ada di situ dan istri dari sang caleg gagal mengatakan, beri tahu Daeng Ngampa, suruh pindahkan itu kuburan istrinya, Daeng Lebong ke tempatnya Haji Bonto, karena Daeng Nampa tidak memilih suamiku," kata Rusli.

Rusli sempat menyayangkan sikap caleg gagal itu. Dia menyebut, perbedaan pilihan politik membuat orang yang puluhan tahun meninggal seolah ikut campur.

" Terus terang saya ini timnya si caleg, tapi saya sangat kecewa karena hanya beda pilihan (politik) keluarga kami yang sudah meninggal jadi korban kejamnya politik," kata dia.

Rencananya, masin-masing makam keluarga itu akan dipindahkan ke pemakaman keluarga bear Abdul Rauf Daeng Ngampa, yang berlokasi tak jauh dari lokasi pemakaman sebelumnya.

2 dari 3 halaman

Beda Pilihan Politik, 2 Makam Dibongkar

Dream - Kasus pembongkaran makam karena perbedaan poltik kembali terjadi di Gorontalo. Setelah di Kabupaten Gorontalo Utara, kasus serupa kini terjadi di Bone Balango.

Warga Desa Toto Selatan, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, terpaksa membongkar makam keluarga karena beda pilihan calon legislatif dengan pemilik lahan.

Cerita itu berawal dari ajakan pemilik lahan, AH, kepada keluarga Abdulsalam Pomontolo untuk memilih calon legislatif. Tapi, keluarga besar Abdulsalam menolak lantaran telah memiliki sosok yang akan dipilih.

" Awano Hasan merupakan pemilik lahan sempat melontarkan kata-kata kepada kami, 'Kalau tidak mau ikut plihannya makan silakan pindahkan kuburan keluarga kalian yang ada di tanah saya`," ucap Abdulsalam kepada Liputan6.com, Senin 14 Januari 2019.

Abdulsalam juga menyebut, AH kerap mencaci keluarganya. " Ia kemudian memblokade pintu masuk menuju kuburan, jadi dua kuburan ini kami pindahkan," kata dia.

Kabar pemindahan kuburan itu dibenarkan Kepala Desa Toto Selatan, Taufik Baladraf. " Iya benar. Kami sudah berusaha melakukan mediasi dan hasilnya kuburan tersebut tetap dipindahkan," ucap Taufik.

Saat prosesi pemindahan kerangka jenazah pada Sabtu, 12 Januari 2019, terdengar isak dari keluarga Abdulsalam. Dua makam yang dipindahkan itu milik Masri Dunggio dan Siti Aisyah Hamzah.

Sumber: Liputan6.com/Arfandi Ibrahim

3 dari 3 halaman

5 Makam Dibongkar

Dream - Perbedaan pilihan politik harusnya disikapi secara bijak. Tetapi, harapan itu rupanya tidak terjadi pada sebuah desa di kabupaten Gorontalo Utara, Gorontalo.

Perbedaan pilihan politik membuat lima makam di Desa Jembatan Merah, Kecamatan Tomilito, Gorontalo Utara, dibongkar paksa pada Minggu 9 Desember 2018.

Lima makam yang dibongkar dan dipindahkan itu merupakan kuburan atas nama Nur Humolungo, Sumiatin Ahmad, Abdin Dude, Asma Katili, dan Idrus Katili. Makam-makam itu merupakan kuburan keluarga Ramin Suleman, salah satu calon kepala desa yang menjadi lawan politik sang petahana.

" Persoalan ini bermula masalah pilkades, mereka tidak mau dikritik warga desa setempat. Karena tidak tahan dikritik, keluarga pihak petahana ini mengungkit para pengkritik ini, yang mana orangtua dan keluarga mereka dibukur di tanah milik calon kades petahana," kata Ris Dude, kerabat keluarga Ramin Suleman, kepada Liputan6.com, Senin, 10 Desember 2018.

Mediasi telah dilakukan polisi dan pemerintah setempat. Tetapi, menurut Kapolsek Kwandang, Iptu Cecep Ibnu Ahmadi, upaya mediasi kedua belah pihak menemui jalan buntu. Akhirnya, lima kuburan itu diputuskan tetap dibongkar.

" Pihak keluarga kepala desa yang petahana bersama keluarga tetap ngotot untuk meminta memindahkan lima kuburan itu," kata Cecep.

" Hingga akhirnya keesokan harinya tepat pada hari Minggu, dieksekusi. Alhamdulillah evakuasi kelima kuburan yang dibongkar itu berjalan dengan aman dan lancar," ujar dia.

Sumber: Liputan6.com/Arfandi Ibrahim

Detik-detik Bom Bunuh Diri Meledak di Polrestabes Medan