`Pesantren Impian`, Film Religi Mencekam Sarat Pesan

Reporter : Ratih Wulan
Selasa, 1 Maret 2016 14:31
`Pesantren Impian`, Film Religi Mencekam Sarat Pesan
Sebagai penulis novelnya, Asma Nadia merasakan kepuasan luar biasa setelah melihat jalan cerita film tersebut.

Dream - Satu lagi novel best seller karya novelis Asma Nadia diangkat ke layar lebar. Novel yang berjudul 'Pesantren Impian' ini diadaptasi dengan judul yang sama oleh MD Pictures, bersama sutradara kenamaan Ifa Isfansyah dan produser Hanung Bramantyo.

Film yang tayang serentak di Indonesia mulai Kamis, 6 Maret 2016 ini mengangkat cerita religi kehidupan sebuah pesantren. Namun dibalut dengan kisah pembunuhan yang menegangkan. Sehingga Ifa menyebutkan sebagai perpaduan dua genre, religi dan thriller.

Sebagai penulis novelnya, Asma Nadia merasakan kepuasan luar biasa setelah melihat jalan cerita film itu. Ia takjub terhadap gaya penyajian Ifa yang dapat menghadirkan kisah pembunuhan mencekam tanpa harus mengeksploitasi kekerasan.

" Ini kerjasama saya yang kedua dengan MD Pictures. Film ini ramah ya dibanding film-film pembunuhan lainnya. Saya suka gemes dengan film horor Indonesia yang mengekspose keseksian," ungkap Asma saat premier film Pesantren Impian di CGV Blitz pada Senin, 29 Februari 2016.

Hal ini sekaligus menjawab rasa penasaran Asma terhadap jalan cerita film religi yang berbeda dengan biasanya. Ia pun berani menjamin bahwa film `Pesantren Impian` aman ditonton untuk remaja dan orang tua.

Ditambahkan penulis skenario, Alim Sudiyo ini merupakan novel Asma Nadia yang paling menarik dengan pendekatan yang berbeda. Sehingga ia tertantang untuk menggambarkan setiap adegan-adegan religi yang penuh teka-teki dan tidak terduga.

" Film ini dipersembahkan untuk penonton yang berpikiran terbuka. Apalagi jalan ceritanya pembunuhan di pesantren kalau tidak disikapi dengan terbuka akan membahayakan," imbuhnya.

Lebih jauh Asma Nadia menyampaikan, film mengandung pesan mengenai kesempatan kedua dalam hidup seseorang. Melalui pendekatan religi tentang bagaimana seseorang menemukan kematian dan bekal apa yang akan ia bawa menuju liang lahat.

" Dan kenapa peran perempuan yang dipilih karena selain kecantikan memang banyak sisi perempuan yang bisa dikupas. Film ini juga mengangkat isu mengenai polwan berhijab," tuturnya.

Selanjutnya, Asma berharap bahwa film ini dapat mengajak para penonton menuju kebaikan tanpa kesan menggurui. Serta dapat mengembalikan citra positif pondok pesantren yang berubah menjadi sarang teroris sebagai rumah kebajikan untuk menuntut ilmu agama. (Ism) 

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More