Ruben Onsu Foto : Dok Dream.co.id
Dream - Ruben Onsu mengaku belum membaca teguran tertulis Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk program acara yang dia bawakan, Pesbukers. Dia baru tahu teguran tersebut dari media sosial.
" Belum tahu, aku belum baca. Baru hari ini kan aku lihatnya di Instagram ada yang nge-tag. Dan di grup Pesbukers belum ada omongan apa-apa," ucap Ruben Onsu, saat ditemui di Jakarta, Jumat 16 Maret 2018.
Teguran tersebut diberikan KPI akibat perkataan Elly Sugigi, dalam acara itu, yang dianggap kurang pantas saat beradu akting dengan Jessica Iskandar. Menurut Ruben, teguran tersebut harus diterima untuk pembelajaran agar acara yang mereka pandu lebih baik.

Menurut suami Sarwendah itu, KPI merupakan lembaga yang mengawasi pertelevisian Indonesia. Sehingga teguran tersebut harus dihargai.
" Gini ya, ketika kita dapat teguran ya harus bisa menerima karena KPI kan badan yang mengawasi. Kalau kita mau menjadi lebih baik ya harus kita perbaiki," kata Ruben Onsu.
Namun bagi Ruben, selama ini Pesbukers sudah menjalankan semua aturan yang diberikan KPI. Kalau ada yang tidak sesuai aturan, maka sudah menjadi kewajiban KPI untuk mengingatkan program acara tersebut.
" Saya rasa Pesbukers menjadi program yang patuh. Semua TV programnya yang mengawasi kan KPI. Kalau lagi ditegur yang anggap ditegur sama orangtua kita," jelasnya.
© Dream
Dream - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) telah menjatuhkan sanksi penghentian sementara sinetron Ganteng-ganteng Serigala (GGS) selama 3 (tiga) hari berturut-turut, yaitu mulai 21, 22 dan 23 Oktober 2014.
Pemberian sanksi itu karena adanya pelanggaran Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 & SPS) pada tayangan sinetron yang diputar di SCTV setiap hari pukul 19.30 WIB.
Adegan apa saja yang membuat tayangan GGS dihentikan?
KPI mencatat pada tayangan 16 Agustus 2014, sinetron ini menayangkan adegan seorang remaja perempuan melompat ke dalam api serta adegan remaja laki-laki dan remaja perempuan yang mengenakan seragam sekolah berpelukan di lingkungan sekolah.
Adegan bermesraan dan berpelukan dengan menggunakan seragan sekolah di lingkungan sekolah ini sebelumnya ditemui pada 30 Mei 2014.
Kemudian GGS menayangkan secara eksplisit adegan murid berseragam sekolah tengah memakan kelinci hiudp dengan mulut berdarah-darah.
Sebelumnya, surat peringatan sudah dilayangkan KPI pada 30 April 2014, ketika GGS menampilkan adegan kekerasan. Sinetron yang dibintangi Aliando Syarif dan Ricky Harun ini memperlihatkan perkelahian siswa di sekolah.
" KPI menilai inti cerita program sinetron GGS tidak mengandung nilai-nilai pendidikan, ilmu pengetahuan dan budi pekerti," tulis keterangan KPI dalam situs resminya.
Tampilan yang muncul di sinetron ini juga tidak sesuai dengan perkembangan psikologis remaja, serta bertentangan dengan etika yang ada di lingkungan pendidikan, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 6 ayat (2) huruf b dan Pasal 37 ayat (1) dan (2) Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 & SPS).
KPI meminta SCTV segera memperbaiki keseluruhan alur cerita program sinetron GGS yang sesuai dengan tujuan, arah dan fungsi dari penyiaran sesuai dengan aturan dari KPI.
© Dream
Dream - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memberikan teguran kepada pengelola program acara musik Dahsyat dalam salah satu tayangan yang menampilkan adu ketangkasan anggota TNI yang tengah menjadi perbincangan di media sosial.
Peneguran dilakukan karena program tersebut menampilkan tayangan acara tersebut melanggar perilaku dan standar program penyiaran televisi yang ditetapkan oleh KPI.
Koordinator Bidang Pengawasan Isi Siaran KPI, Hardly Stefano Fenelon Pariela mengaku lembaganya sudah memberikan sanksi kepada pengelola acara yang dipandu oleh Raffi Ahmad, Denny Cagur dan Felicya Angelista itu.
" Sudah diproses. Hari ini diberikan sanksi. Besok dipanggil. Sanksinya setelah di-publish yah. Nanti hari ini dikeluarkan," ujar Hardly Stefano Fenelon Pariela, di Kawasan Tendean, Jakarta Selatan, Senin 22 Januari 2018.

Menurut Hardly, KPI juga akan memanggil pihak pengelola TV dan program acara tersebut agar bisa memahami dengan jelas teguran yang diberikan KPI.
" Karena kalau cuma surat, nanti tidak paham-paham mereka. Jadi panggil saja sekalian. Selain ngasih surat, kita panggil juga," imbuhnya.
Disinggung kemungkinan penghentian program tersebut, Stefano mengaku jika teguran KPI kali ini memang tidak akan langsung menghentikan program yang tayang tiap hari itu.
Dengan memberikan sanksi secara tertulis serta melihat perbaikan yang dilakukan pengelola TV usai pemberian teguran, KPI baru akan mempertimbangkan apakah tayangan tersebut layak dilanjutkan atau harus diberhentikan.

" Kita lihat bobotnya. Ini akan diproses sama teman-teman di kantor. Pasti kita minta langsung untuk diperbaiki dulu. Masalah kemampuan mereka memperbaiki kita lihat nanti hasilnya. Setelah diperbaiki masalah lagi, ya kita berentiin," ucapnya.
Dalam pemanggilan pengelola program acara tersebut, KPI akan mengundang pihak-pihak yang terlibat termasuk para pembawa acara. Namun, siapa saja saksi yang datang mewakili Dahsyat tidak bisa dibeberkannya.
" Semua kita panggil yang terkait dalam program itu besok siang. Yah kalau kita ngundang tv dan programnya. Masalah nanti produser mau mendatangkan siapa itu urusannya mereka," tuturnya.