Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Seorang petapa asal Serbia, Panta Petrovic, sudah 20 tahun tinggal menyendiri di dalam gua di sebuah gunung curam. Selama 2 dekade itu Petrovic tidak pernah sekalipun keluar dari Goa dan tahu tahu situasi dunia yang dilanda pandemi Covid-19.
Pria 70 tahun itu diketahui memutuskan untuk menyendiri di sebuah goa di Pegunungan Stara Planina yang berada di selatan Serbia. Ia memutuskan menyendiri karena ingin menghindar dari orang lain.
" Saya merasa tidak bebas tinggal di kota. Selalu ada orang disekitar saya. Saya harus beradu argumen dengan istri, tetangga, bahkan terkadang polisi," katanya kepada AFP dikutip dari World of Buzz, Senin 16 Agustus 2021.
Dalam wawancaranya, Petrovic baru mengetahui tentang pandemi Covid-19 saat dirinya memutuskan untuk pergi ke pasa di Kota Pirot. Ia melihat banyak orang yang menggunakan masker.
Setelah mengetahui bahaya dari wabah virus Corona tersebut, Petrovic bergegas mengambil kesempatan untuk menerima vaksin.
" Covid itu tak memiliki. Mereka bisa saja datang ke gua saya. Saya ingin mendapatkan tiga dosis semuanya, termasuk dosis booster. Saya meminta agar seluruh warga bersedia divaksin," ungkapnya.
Lebih lanjut, Petrovic mengaku heran dengan kelompok antivaksin yang meributkan suntikan tersebut.
Padahal diketahui, di Serbia sudah lebih dari 7.000 penduduknya tewas akibat Covid-19. Data terakhir menyebutkan, nyari 750.000 orang terinfeksi Covid-19.
Sumber: World of Buzz
Dream - Seorang pengacara asal Bournemouth, Inggris, bernama Leslie Lawrenson, 58 tahun, meninggal dunia di kediamannya pada 2 Juli 2021. Leslie meninggal setelah terinfeksi virus corona.
Dikutip dari BBC, Jumat 6 Agustus 2021, kekasihnya Amanda Mitchell, 56 tahun, yang saat ini juga sedang berjuang melawan Covid-19 dengan kondisi parah, menyebutkan bahwa Les--panggilan akrab Leslie, percaya bahwa vaksin Covid-19 hanya eksperimen.
" Saya merasa sangat bodoh. Les meninggal dengan tidak sepatutnya atas kesasalahan besarnya," ungkap Amanda.
Dalam wawancaranya dengan Stephen Nolan, Les merupakan jebolan Universitas Cambridge dengan gelar master. Sehingga menjadikan Les orang berpendidikan tinggi, namun ia memilih percaya dengan misinformasi yang beredar di sosial media.
Akibatnya, Les menolak menerima suntikan vaksin.
" Dia (Les) biasa berkata seperti ini: 'Kamu tidak perlu menerima vaksin, kamu akan baik-baik saja, hanya perlu berhati-hati'," jelas Amanda.
Lebih jauh Amanda menjelaskan bahwa Les percaya jika vaksin hanyalah hal yang bersifat eksperimental dan belum diuji secara menyeluruh.
" Les berpendidikan tinggi, jadi jika dia memberitahu saya sesuatu, saya cenderung mempercayainya," tutur Amanda.
Les sebelumnya dilaporkan terinfeksi virus Corona dan sempat pulih dari pnemumonia. Namun suatu hari, putranya menemukan Les meninggal di tempat tidurnya.
" Les membuat kesalah besar dan dia terpaksa membayarnya dengan harga inggi," ujar Amanda.
Sang anak, Carla Hodges, mengatakan kepada BBC bahwa sang ayah sering menghabiskan waktu menonton video di YouTube dan menerima informasi mentah di media sosial.
" Dia berkata kepada saya: 'Banyak orang meninggal karena mendapatkan vaksin, ketimbang yang tertular Covid," tutur Carla.
Sumber: BBC