Negara Minim Turis
Dream - Dengan kecanggihan teknologi internet, kini setiap orang bisa mengetahui destinasi wisata yang akan dikunjunginya. Review netizen tentang pengalaman berkunjung ke sebuah negara bisa membantu jadi tidaknya seorang pelancong berkujung.
Sahabat Dream juga bisa menemukanya ulasan sebuah destinasi lewat beragam aplikasi sosial media. Hal ini tentunya membantu kamu membuat perencanaan maupun persiapan yang sebaik-baiknya.
Namun tahukah Anda jika di dunia ini terdapat pula negara yang setiap tahunnya hanya dikunjungi oleh ratusan wisatawan saja?
Ada berbagai faktor kenapa sebuah negara sangat sedikit dikunjungi traveler padahal mereka juga memiliki pesona alam yang tak kalah menarik.
Adalah faktor lokasi, ketersediaan visa, akomodasi hingga keamanan suatu negara sangat berpengaruh terhadap minat traveler untuk berkunjung.
Nah penasaran bukan negara apa sajakah yang sangat minim turis? yuk simak ulasanya dibawah ini. (berbagai sumber)
© Dream
7. Kiribati – 6.000 Pengunjung

Kiribati termasuk negara yang sukses mendongkrak kunjungan wisatawan ke negaranya. Setelah menempati posisi 4 di tahun 2011, dua tahun berselang negara ini berhasil berada di peringkat tujuh dengan 6.000 pengunjung setiap tahun. Saat ini ada banyak pilihan penerbangan menuju Kiribati, traveler bisa menumpang pesawat dari Nauru atau Kepulauan Marshall yang datang setiap dua minggu sekali atau dari Fiji yang memiliki jadwal penerbangan setiap minggu. Uniknya dalam satu negara ini diduga hanya memiliki satu taksi saja.
6. Equatorial Guinea – 5.700 Pengunjung

Equatorial Guinea merupakan satu-satunya negara di Afrika yang menggunakan bahasa Spanyol. Sepanjang tahun 2014, menurut Bank Dunia negara ini hanya dikunjungi oleh 5.700 traveler saja. Lantas mengapa hal ini bisa terjadi? Negara ini termasuk dalam daftar terburuk bagi wisatawan untuk mendapatkan visa.
Hanya pemegang paspor Amerika saja yang dengan mudah bisa mendapatkan visa, selebihnya akan dihadapkan pada birokrasi yang sulit dan menyebalkan dan tidak jarang permohonan pembuatan visa ditolak mentah-mentah. Namun jika berhasil mendapatkan visa, traveler tidak akan bebas begitu saja mengeksplorasi alamnya, setiap traveler dilarang mengambil foto di sana atau Anda akan masuk penjara.
5. Sudan Selatan – 5.500 Pengunjung

Sudan Selatan merupakan negara baru yang merdeka setelah referendum di tahun 2011. Negara ini memisahkan diri dari Sudan setelah terjadi perang saudara yang berkepanjangan. Menilik dari umur negara yang belum genap 5 tahun maka sangatlah wajar jika Sudan Selatan termasuk negara yang paling sedikit dikunjungi turis dengan angka tak lebih dari 5.500 orang menurut data Logcluster.
Penentuan jumlah kunjungan di sana berdasarkan pencatatan terhadap jumlah penerbangan yang datang menuju Sudan Selatan. Sisa-sisa ketegangan masih dirasakan hingga kini bahkan setiap turis yang datang dilarang untuk mengambil gambar apapun sehingga jika Anda datang untuk mendapatkan gambar keadaan kota maka itu hal yang mustahil sebab petugas polisi akan langsung datang dan menghapus foto-foto Anda.
4. Kepulauan Marshall – 4.600 Pengunjung

Posisi keempat dihuni oleh Kepulauan Marshall. Posisi ini sebenarnya tidak ideal bagi negara ini terlebih di tahun sebelumnya negara di Samudera Pasifik ini berada di peringkat kelima yang paling sedikit di kunjungi turis. Beberapa penyebab mengapa turis enggan berkunjung ke negara yang memiliki salah satu fenomena sunset terindah di dunia yang ada di Majuro adalah sering gonta gantinya tarif pesawat serta tidak banyak orang yang tahu akan keberadaan negara ini.
Berdasarkan data yang dirilis PBB pada tahun 2012, Kepulauan Marshall melayani kunjungan turis sebanyak 4.600 orang, berkurang 400 kunjungan dibanding pada tahun sebelumnya. Padahal negara ini terkenal sebagai salah satu kawasan paling aman sedunia di mana Anda tidak perlu khawatir dirampok atau pun diperkosa saat berjemur dan tidur di pinggir pantai.
© Dream
3. Tuvalu – 1300 Pengunjung

Memiliki lokasi yang sama terpencilnya dengan negara-negara lain di Oseania membuat Tuvalu kesulitan mengembangkan pariwisatanya, bahkan dalam beberapa tahun yang lalu belum ada penerbangan yang melayani rute ke Tuvalu. Kini berkat adanya penerbangan dari Fiji Airways yang datang dua kali seminggu sedikit mendongkrak jumlah kunjungan turis meski tak signifikan.
Menurut data dari PBB di tahun 2011, Tuvalu hanya dikunjungi 1.200 wisatawan saja dan jumlah ini bertambah 100 di tahun 2013 menurut sumber data yang sama. Lantas mengapa mereka tetap datang ke negara ini? Negara ini terkenal memiliki penduduk yang paling ramah sedunia selain itu traveler yang datang ingin menjejakkan kaki mereka di negara yang konon akan tenggelam pertama kali saat permukaan air laut terus meningkat.
2. Somalia – 400 Pengunjung

Berada di urutan kedua adalah Somalia. Wajar jika negara ini masuk dalam daftar merah kunjungan wisatawan sebab banyak sekali konflik yang terjadi di dalamnya yang membuat banyak negara mengeluarkan travel warning bagi warganya yang ingin berkunjung ke Somalia. Menurut data yang didapat dari wawancara pada berbagai agen tur di sana pada tahun 2014, setiap tahun negara ini hanya menerima 400 kunjungan turis.
Diyakini jumlah tersebut akan terus meningkat seiring makin kondusifnya keadaan di dalam negeri. Seperti kota Mogadishu yang kini telah aman dan banyak bisnis yang telah beroperasi di sana. Bahkan beberapa negara kini telah membuka rute penerbangan menuju kota tersebut, salah satunya adalah Turkish Airlines yang memiliki penerbangan dari Istanbul menuju Somalia dua minggu sekali.
1. Nauru – 160 Pengunjung

Negara yang paling sedikit dikunjungi turis adalah Nauru. Ini merupakan republik terkecil di dunia yang tidak memiliki ibukota resmi. Sebagai penggantinya, desa terbesar bernama Yaren menjadi pusat pemerintahan negara tersebut. Sebenarnya negara yang memiliki luas wilayah tak lebih dari 21 kilometer persegi ini memiliki pantai-pantai yang eksotis.
Namun menurut data yang dirilis Crikey tahun 2011, traveler yang datang ke negara di tengah Samudera Pasifik ini hanya sejumlah 160 orang saja. Ternyata banyak faktor yang mempengaruhi keadaan tersebut, kabarnya hanya ada satu penerbangan menuju ke sana di tambah minimnya hotel yang hanya tersedia dua saja. Belum lagi ketiadaan kehidupan malam membuat turis berfikir dua kali untuk datang ke sana.