Ilustrasi
Dream - Tragis. Insinyur kimia mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di kediamannya yang beralamat di Cluster Crystal, Gading Serpong, Kelurahan Pakulonan Barat, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, pada Rabu kemarin.
Insinyur kimia itu berinisial NRS. Berusia 30 tahun. Pria ini baru 6 bulan menikah dengan dokter yang bekerja pada sebuah rumah sakit di Jakarta. Pasangan ini baru saja membeli rumah di Cluster Crystal dengan sistim Kredit Kepemilikan Rumah (KPR).
NSR diduga nekat bunuh diri lantaran stres terlilit utang piutang. " Korban sempat mengeluh kepada rekannya kalau sedang ada masalah administrasi utang piutang di pabriknya," kata Kapolsek Kelapa Dua, Kompol Awaludin Amin, sebagaimana dikutip Dream dari Merdeka, kamis 21 Januari 2016.
" Sebabnya, ada yang memesan barang tapi malah dibatalkan oleh pelanggannya," tambah Awaludin. NRS diduga semakin tertekan karena akan dipecat oleh kantornya.
Menurut Awaludin, sebelum tewas, NRS bersama rekan kerjanya terlibat sebuah obrolan di teras rumah. NRS sempat bercerita tengah terlibat masalah dan tak menemukan solusinya.
Setelah bercerita, NRS pergi. Rekan-rekannya kemudian mendatanginya, tetapi NRS tidak ditemukan juga. Setelah dicari, ternyata tubuh NRS telah tergantung. " Rekan korban langsung melapor ke security dan langsung melapor kepada kami," ujar Awaludin.
Baca berita lain di halaman berikutnya:
© Dream
Dream - Pelaku pembunuh Wayan Mirna Salihin (27 tahun) diduga kuat berada di Kafe Olivier Mal Grand Indonesia, saat peristiwa.
" Yang memasukkan racun di tubuh Mirna ada di tempat kejadian perkara (TKP) Kafe Olivier," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Krishna Murti, Selasa 19 Januari 2016.
Ia mengatakan kemungkinan besar pelaku menyaksikan kematian Mirna di Cafe Olivier. Namun, polisi tidak mau terburu-buru mengungkapkan siapa pembunuh Mirna.
Khrisna menegaskan, segala barang bukti, hasil penyidikan, dan hasil laboratorium forensik akan menjadi bukti yang kuat. Khrisna yakin timnya dapat mengungkap tabir kasus Mirna.
" Kami tak mengundur-undur atau lambat memeriksa, tapi penetapan tersangka memang memerlukan gelar perkara resmi yang dihadiri semua elemen penyidikan."
Penyidik juga kembali memanggil beberapa saksi untuk dimintai keterangan. Salah satunya, teman yang bersama dengan Mirna saat minum kopi. Dan tak menutup kemungkinan saksi akan bertambah. (Ism)
© Dream
Dream - Jessica Kusuma Wongso, salah satu saksi kunci kasus tewasnya Wayan Mirna Salihin yang meninggal usai meminum kopi di kedai Kopi Olivier, akan diperiksa kepolisian sebagai saksi.
" Hari ini penyidik akan memeriksa Jessica sebagai saksi. Jadwalnya pukul 10.00 WIB tadi," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Komisaris Besar Pol Krishna Murti, di Polda Metro Jaya, Selasa 19 Januari 2016.
Menurut Khrisna, pemeriksaan terhadap Jessica terkait pendalaman keterangan usai olah tempat kejadian perkara (TKP) pada Senin malam.
Dalam olah TKP itu, polisi menguji empat sampel kopi yang masing-masing didiamkan selama 51 menit.
" Kami olah TKP untuk kopi. Kami membandingkan antara kopi yang diminum korban dengan kopi yang tidak sempat diminum. Dari situ nanti akan terlihat peristiwa awal," kata dia menjelaskan.
Mengenai kedekatan hubungan Jessica dengan Mirna, polisi enggan memberikan keterangan. Menurut Khrisna, dugaan hubungan itu merupakan bagian dari penyelidikan.
" Jangan tanya saya. Itu kepentingan penyelidikan," ujar dia.
Selain Jessica, hari ini rencananya polisi juga akan memeriksa orangtua korban.
" Orangtua Mirna juga akan diinterograsi lagi. Tadi, saya sudah janjian waktunya. Mungkin saat ini sedang dalam perjalanan," kata dia. (Ism)
© Dream
Dream - Polisi belum bisa memastikan secara resmi siapa pelaku yang tega mencampurkan racun sianida ke dalam es kopi yang diminum Wayan Mirna Salihin di Kafe Oliver, Grand Indonesia Mall, Jakarta Pusat.
" Yang meracuni kopi Mirna di oliver cafe Grand Indonesia itu jahat sekali.. hmmm, dasar psikopat," tulis Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Krishna Murti dalam akun Facebook miliknya, Sabtu lalu 16 Januari 2016.
Sebelumnya, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat, Komisaris Besar Polisi Muhammad Iqbal memastikan ada dugaan kesengajaan atas tewasnya Mirna.
" Kita menemukan adanya unsur perbuatan jahat," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat, Komisaris Besar Polisi Muhammad Iqbal, Senin 18 Januari 2016.
Namun, polisi belum mau menyebutkan siapa pelaku utama dalam perkara ini. Kata Iqbal, sampai saat ini masih dalam penyelidikan kepolisian.
Pelaku bakal dikenakan pasal pembunuhan berencana. " Kami bisa langsung menelusuri dari mana, yang akan calon tersangka, atau yang menjadi terduga tersangka," katanya menerangkan.
Diketahui, berdasarkan hasil uji laboratorium forensik kopi yang diminum Mirna dipastikan mengandung 15 gram sianida. Kandungan 15 gram tersebut termasuk sangat tinggi dan mematikan. (Ism)
© Dream
Dream - Misteri berapa takaran jumlah sianida yang dimasukkan ke dalam kopi milik Wayan Mirna Salihin akhirnya terkuak.
Berdasarkan hasil tes Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri, sianida yang tercampur dalam kopi sebesar 3-5 gram.
" Kemarin bukan 15 gram. Kata ahli forensik ternyata sekitar 3-5 gram," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Komisaris Besar Polisi, Krishna Murti di Polda Metro Jaya, Selasa, 19 Januari 2016.
Menurut Krishna, efek sianida dalam jumlah 3-5 gram sangat berbahaya. Jumlah itu dapat membunuh 4-5 orang dalam 20 menit.
" Bayangkan kalau 15 gram. Itu berarti bisa membunuh 20 orang. Untuk itu, kami akan terus memastikan berapa gram yang digunakan. Kami menunggu hasil resmi," ujar dia menjelaskan.
Meski begitu Krishna belum ingin memastikan jumlah tersebut. Untuk kepastian jumlah sianida yang tercamput, dirinya masih terus memantau perkembangan hasil laboratorium Puslabfor.
" Kepastian berapa gramnya, kami akan menunggu BAP (Berkas Acara Pemeriksaan). Kalau hasil BAP telah selesai, kami akan segera cepat bertindak," ujar dia. (Ism)