Dream - Pesta mode terbesar di Asia Tenggara kembali digelar. Untuk ketujuh kalinya, 220 desainer termasuk 10 perancang dari empat negara, 18 perancang busana muslim, dan 2.600 look busana ready to wear akan melantai di runway Jakarta Fashion Week 2015.
Ajang yang menjadi salah satu platform penggerak industri mode Indonesia ini kembali menghadirkan karya-karya terbaik dari berbagai negara.
Ajang yang dinakhodai tokoh yang baru meraih award The Business of Fashion 2014, Svida Alisjahbana ini mengangkat karya desainer Indonesia ke pentas dunia.
Perhelatan mode akbar yang mengantarkan industri mode Indonesia memasuki pasar mode dunia ini, juga mengenalkan desainer-desainer hijab Indonesia dan rancangannya ke pentas mode dunia.
Nama-nama perancang busana muslim `jaminan mutu` seperti Dian Pelangi, Ria Miranda, Jenahara, NurZahra dan Restu Anggraini ikut ambil bagian dalam pekan mode raksasa di Asia Tenggara ini. Setali tiga uang, bagi desainer-desainer hijab, Jakarta Fashion Week tak boleh disia-siakan.
Bagi mereka, Jakarta Fashion Week bukan cuma sekadar punya arti penting. Tapi bagian dari urat nadi bisnis dan inspirasi untuk terus berkreasi dan memproduksi busana-busana yang menjadi pusat tren hijab dunia. Diharapkan, target Indonesia menjadi kiblat busana hijab dunia pada 2020 mendatang akan semakin dekat.
Lalu apa kata perancang busana muslim Tanah Air tentang Jakarta Fashion Week 2015 dan makna bagi mereka sebagai desainer muslim? Berikut petikannya;
Laporan: Kusmiyati dan Ervina
© Dream
Dream - Desainer hijab 'istimewa' versi Jakarta Fashion Week ini menyebut, pesta mode ini lebih dari sekadar punya arti penting. Dengan persiapan satu bulan, Dian Pelangi siap mempersembahkan rancangan yang tak kalah istimewanya di runway.
Sebanyak 12 koleksi Miss Palembang in New York ditampilkan Dian di lantai mode. Koleksi bertema ini juga dipersembahkan Dian saat New York Fashion Week bulan lalu.
Bagi Dian, Jakarta Fashion Week tak hanya mendongkrak permintaan pasar akan hasil rancangannya. " Tapi juga membuka jalan desainer hijab untuk go international," ujar Dian kepada Dream.co.id.
Dian mengaku, membutuhkan fokus dan konsentrasi khusus untuk perhelatan ini selama satu bulan. Itupun tidak sia-sia. Dan reaksi pasar, diakui pemilik nama Dian Wahyu Utami ini sangat positif dan baik.
Perancang busana hijab berdarah Palembang-Pekalongan ini punya setumpuk harapan untuk Jakarta Fashion Week. " Harapannya semoga desainer yang ada di dalamnya memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan yang diberikan," lanjut Dian.
© Dream
Dream - Desainer hijab yang memiliki ciri khas kontemporer, modern, feminin dan berani ini sudah tiga kali mengikuti Jakarta Fashion Week, termasuk tahun ini. Bagi pemilik label 'Etu' ini, pesta mode ini sangat penting sebagai pemasaran dan branding tools sekaligus kesempatan untuk meningkatkan penjualan.
Dari sisi industri fashion hijab, lanjut Restu, ajang ini menjadi salah satu media promosi berkelas internasional, yang memberikan kesempatan desainer lokal mencapai pasar yang lebih luas.
Sudut pandang menarik dimiliki Restu tentang arti penting JFW. Bahwa, pesta mode ini memberikan pesan kepada seluruh wanita di belahan bumi lain, terutama Timur Tengah.
Pesannya, Indonesia, negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia memberikan kesempatan bagi setiap orang tanpa membedakan gender, SARA, dan diskriminasi lainnya. Kesempatan untuk berkembang dan mengekspresikan diri dalam industri kreatif, yang dianggap tabu di negara lain.
" JFW berperan menyampaikan kepada dunia, bahwa Indonesia bisa menjadi kiblat fashion muslim dunia, tanpa mengesampingkan kaidah dan norma yang digariskan oleh nilai-nilai moral dan agama," singkat Restu.
© Dream
Dream - Desainer berdarah minang yang sudah dua kali ikut perhelatan ini menilai, Jakarta Fashion Week menjadi panduan penting untuk belajar menyesuaikan standar internasional. Di antaranya bertemu dengan banyak pecinta fashion luar negeri, berbagi ide kreatif, serta jadi ajang berbisnis.
Hal yang tak kalah penting di mata desainer yang identik dengan warna pastel ini bahwa, Jakarta Fashion Week ini punya arti khusus bagi perancang busana muslim.
" Yang tidak pakai hijab jadi tertarik dengan desainer-desainer muslimah. Ini karena busana muslimnya tidak hanya bisa digunakan untuk wanita berhijab, tapi juga bergaya," tutup Ria Miranda.
© Dream
Dream - Perancang busana muslim yang identik dengan rancangan simple, elegan, dan dark ini menggunakan Jakarta Fashion Week sebagai kendaraan untuk menembus pasar dunia.
Pesta mode yang sudah diikutinya sejak tahun 2013 ini dia nilai, bukan sekadar referensi para pecinta fashion untuk model-model yang akan menjadi tren tahun depan. Tapi menjadi ajang perkenalan desainer untuk menembus pasar dunia, di luar pasar dalam negeri yang sudah cukup potensial.
" Jakarta Fashion Week menjadi pintu gerbang kami mengembangkan sayap menjadi desainer yang lebih baik lagi," kata pemilik nama Nanida Jenahara Nasution yang mengusung tema 'serangga' di ajang ini.
© Dream
Dream - Windri Widiesta Dhari, desainer hijab yang dikenal sebagai pemilik brand premium NurZahra untuk wanita modern ini mengusung tema keindahan Babilonia kuno di atas runway Jakarta Fashion Week. Dan tema itu, akan terus diusung pemilik label Nur Zahra selama 2015.
Bagi Windri, pekan mode raksasa ini punya banyak arti penting. Utamanya, menjadi jalan untuk mengembangkan kreativitas. Bertemu banyak desainer membuat Windri menjadi banyak menerima masukan untuk terus berkreasi. Ajang ini juga dijamin bisa mendongkrak pasaran.
" Ini penting banget. Karena membuat saya belajar menembus pasar internasional. Dan semakin paham dengan permintaan pasar di dalam negeri seperti apa," kata desainer hijab yang sudah ikut ajang ini sejak dua tahun lalu itu. (eh)