Bacaan Surah Al Muthaffifin Ayat 1 – 10, Arab, Latin, Terjemahan dan Tafsir

Reporter : Arini Saadah
Selasa, 12 Januari 2021 14:42
Bacaan Surah Al Muthaffifin Ayat 1 – 10, Arab, Latin, Terjemahan dan Tafsir
Disebut Al Muthaffifin artinya orang-orang yang curang, dan diambil dari kata Al Muthaffifin yang terdapat dalam ayat pertama surat ini

Dream – Surat Al Muthaffifin merupakan surah ke-83 dalam mushaf al Quran. Surat Al Muthaffifin tergolong surat Makkiyah yang terdiri dari 36 ayat.

Disebut Al Muthaffifin  artinya orang-orang yang curang, dan diambil dari kata Al Muthaffifin yang terdapat dalam ayat pertama surat ini. Surat ini juga termasuk surat yang terakhir turun di Makkah sebelum Nabi Muhammad Saw hijrah ke Madinah.

Surat Al Muthaffifin bercerita tentang orang-orang yang curang. Yang dimaksud orang-orang curang dalam surat ini sudah dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh An Nasai dan Ibnu Majah dengan sanad yang shahih yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa ketika Rasulullah Saw sampai ke Madinah,

“ Diketahui bahwa orang-orang Madinah termasuk orang-orang yang paling curang dalam menakar dan menimbang. Maka Allah menurunkan ayat-ayat ini, sebagai ancaman kepada orang-orang yang curang dalam menimbang dan menakar.

Setelah ayat-ayat tersebut turun, orang-orang Madinah menjadi orang-orang yang jujur dalam menimbang dan menakar.

Lebih jelasnya, berikut bacaan surah al Muthaffifin ayat 1-10 arab, latin, terjemahan, dan keutamaan, seperti dilansir dari berbagai sumber.

1 dari 3 halaman

Bunyi Surat Al Muthaffifin Ayat 1-10

Ilustrasi© dream.co.id

Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!

 

Ilustrasi© dream.co.id

(Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan,

Ilustrasi© dream.co.id

dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.

Ilustrasi© dream.co.id

Tidakkah mereka itu mengira, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,

Ilustrasi© dream.co.id

pada suatu hari yang besar,

Ilustrasi© dream.co.id

(yaitu) pada hari (ketika) semua orang bangkit menghadap Tuhan seluruh alam.

Ilustrasi© dream.co.id

Sekali-kali jangan begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar tersimpan dalam Sijjin.

Ilustrasi© dream.co.id

Dan tahukah engkau apakah Sijjin itu?

Ilustrasi© dream.co.id

(Yaitu) Kitab yang berisi catatan (amal).

Ilustrasi© dream.co.id

Celakalah pada hari itu, bagi orang-orang yang mendustakan!

2 dari 3 halaman

Tafsir Surat Al Muthaffifin

Surat yang terdiri dari 36 ayat ini memiliki arti orang-orang curang yang diambil dari kata Al Muthaffifin pada ayat pertama surat ini. Surat ini juga termasuk surat yang terakhir turun di Kota Mekah sebelum Nabi Saw hijrah.

Dilansir dari Bincang Syariah, dalam beberapa penafsiran para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama ada yang mengatakan wail dalam surat Al Muthaffifin ini adalah lembah neraka.

Sedangkan sebagian ulama lainnya, berpendapat dengan meninjau dari segi bahasa bahwa wail adalah bentuk kebinasaan, yakni binasalah orang-orang yang curang itu. Kemudian pendapat kedua inilah yang lebih kuat dari pendapat pertama.

Makna yang lebih luas dari surat Al Muthaffifin adalah tentang takaran pedagang. Mengurangi timbangan dan takaran memang lebih mungkin terjadi pada seorang pedagang, akan tetapi perilaku ini juga tidak menutup kemungkinan dilakukan oleh orang-orang non-pedagang.

3 dari 3 halaman

Salman Al Farisi menjadikan makna ancaman dalam surat ini berlaku bukan hanya pada proses jual-beli, akan tetapi pada pekerjaan atau kondisi lainnya. Intinya yang dapat diambil dari ayat ke-2 dan ke-3, menuntut hak pada orang lain, akan tetapi tidak memberikan hak yang sama pada orang lain.

Misalnya seorang yang mencuri-curi waktu pekerjaannya, ia datang terlambat, dan pulang diam-diam kemuian menuntut gaji yang tinggi pada perusahaannya. Tentu ini juga termasuk dari menuntut hak akan enggan menunaikan kewajibannya.

Ketika diperluas lagi makna surat Al Muthaffifin juga akan sampai pada contoh hubungan antara masyarakat dan pemerintah. Ketika seorang rakyat menuntut haknya pada pemerintah, sedangkan rakyat tidak menjalankan kewajibannya sebagai rakyat tidak memathui peraturan pemerintah. Atau sebaliknya, pemerintah yang selalu menuntut hak pada rakyat sedang ia tidak menjalankan kewajiban sebagai pemimpin dengan baik.

Memberikan hak pada orang lain adalah kewajiban yang harus dipenuhi. Jika mengurangi hak orang lain walau hanya sedikit saja, maka celakalah ia di akhirat kelak.

Beri Komentar