CEO Twitter Parag Agrawal, CEO Google Sundar Pichai Dan CEO Microsoft Satya Nadella (Zeebiz)
Dream- Kamis 27 Oktober 2002, kantor pusat Twitter yang beralamat di 1335 Market Street, San Fransisco, Amerika Serikat, itu nampak sibuk. Kantor pusat Twitter itu merupakan gedung berlantai 11. Ditempati sejak tahun 2012, gedung bergaya Art Deco itu dulunya adalah sebuah toko grosir furnitur sebelum diambil alih Twitter.
Namun, sore itu, seorang pria berbaju kaos hitam dengan celana jeans biru, berambut pendek sedikit ikal dengan kacamata baca bertengger di hidungnya, terlihat berjalan keluar gedung seraya digiring seorang satpam perusahaan. Di tangannya, pria itu menggengam sebuah boks kardus berisi barang-barang kantor yang biasa ada di meja kerjanya.

(Kantor pusat Twitter/Inhabiat)
Hari itu pria itu resmi dipecat dari Twitter. Masalahnya, sebelumnya dia merupakan pejabat tertinggi di kantor itu. Ia adalah Chief Executive Officer atau CEO Twitter. Pria itu memang Parag Agrawal, seorang keturunan India yang menjadi CEO Twitter sejak November 2021 saat pendiri sekaligus CEO Twitter lama, Jack Dorsey mengundurkan diri.
Hari itu Agrawal langsung dipecat setelah Elon Musk resmi mengakusisi Twitter. Elon Musk, orang terkaya di dunia, hari itu memang telah secara resmi mengambil alih Twitter setelah menyelesaikan kesepakatan senilai U$ 44 miliar atau sekitar Rp 691 triliun untuk jaringan media sosial tersebut.
Dan tindakan Elon Musk pertama adalah memecat Agawal dan dua petinggi Twiiter lainnya.
Sejak kesepakatan Twitter telah selesai, banyak yang bertanya mengapa Agrawal, 38 tahun, termasuk orang pertama yang dipecat oleh Musk.
Pengambilalihan Twitter memang telah selesai hari itu dan CEO SpaceX dan Tesla Elon Musk telah resmi menjadi bos baru. Hanya beberapa jam setelah menyelesaikan pengambilalihan senilai $44 miliar, Musk dilaporkan memecat beberapa eksekutif puncak Twitter, termasuk CEO Parag Agrawal, Chief Financial Officer (CFO) Ned Segal dan kepala urusan hukum dan kebijakan Vijaya Gadde.
Di masa lalu, Musk menuduh CEO Parag Agrawal telah menyesatkan dia dan investor Twitter atas jumlah akun palsu atau bot di platform media sosial itu.
Musk dilaporkan masuk ke markas Twitter dengan membawa wastafel porselen besar dan mengubah bio profil Twitter-nya menjadi Chief Twit, kemudian men-tweet, " biarkan itu meresap."

(Elon Musk membawa wastafel saat masuk pertama ka kaator Twitter/El Volcano)
Pertengkaran manajemen lama Twitter vs Elon Musk bukanlah hal baru. Sejak miliarder itu mengumumkan niatnya untuk mengakuisisi platform micro blogging itu, ia kerap berselisih dengan manajemen puncak yang sekarang dipecat. Dari kekhawatiran terkait jumlah bot di Twitter hingga perusahaan yang tidak mengungkapkan informasi 'penting', semua menjadi alasan Musk ketika memutuskan untuk keluar dari kesepakatan.
Jadi, ketika Musk memutuskan untuk membatalkan kesepakatan pengambilalihan Twitter, perusahaan Twitter di bawah CEO Parag Agrawal menggugat Musk dengan tuduhan bahwa dia menolak untuk memenuhi kewajibannya.
Saat pertempuran hukum mulai terjadi, Musk mengambil langkah drastis dan mengusulkan untuk jadi mengakuisisi Twitter dengan harga aawal, jika perusahaan membatalkan gugatannya. Musk akhirnya jadi membeli Twitter dan langsung memecat Agrawal.
***
Tapi saat Parag Agrawal keluar dari kantor pusat Twitter sambil dikawal satpam, dia tak keluar dalam posisi orang miskin meskipun sedikit terhina. Sebab besaran uang pesangon yang bakal diterima Agrawal, yakni sekitar U$ 57,4 juta atau Rp 901 miliar.

(Parag Agrawal di kantor Twitter/Forbes)
Selain pembayaran tersebut, ketiga eksekutif tersebut juga akan menerima U$ 65 juta kolektif dari Musk sebagai imbalan atas saham yang mereka miliki di perusahaan yang sekarang dia miliki secara pribadi. Agrawal sendiri memiliki saham Twitter senilai U$ 8,4 juta atau Rp 131 miliar.
Artinya dari pemecatan itu, Agrawal akan membawa pulang Rp 1,3 triliun. Sebuah jumlah yang fantastis. Cukup untuk membuat perusahaan rintisan atau start up baru.
Parag Agrawal memang bukan sosok yang asing di dunia teknologi. Sebelum bersama Twitter, Agrawal pernah bekerja di Microsoft dan Yahoo! Pada 2011, ia baru bergabung dengan Twitter dan turut berkolaborasi dengan tim teknik perangkat lunak yang bertanggung jawab atas teknologi iklan.
Di Twitter, ia mengembangkan konsep pembelajaran mesin, yakni salah satu teknik kecerdasan buatan yang paling menjanjikan berdasarkan analisis data. Perannya yang penting kemudian membuahkan pendapatan jutaan dolar bagi Twitter.
Atas upayanya, Agrawal mencatatkan diri sebagai warga India pertama yang menjadi Chief Technology Officer (CTO) Twitter. Puncak keberhasilannya adalah ketika ia menjadi CEO Twitter pada November 2021. Ketika itu, ia menggantikan posisi Jack Dorsey.
Agrawal lahir di Ajmer, Rajasthan, India. Ayahnya adalah pejabat senior di Departemen Energi Atom India dan ibunya adalah pensiunan profesor Ekonomi dari Institut Teknologi Veermata Jijabai di Mumbai, India.
Pada tahun 2001, Agrawal menyelesaikan tahun terakhir pendidikan menengahnya di Atomic Energy Junior College, Mumbai. Pada tahun yang sama, ia mendapatkan medali emas dalam Olimpiade Fisika Internasional yang diadakan di Antalya, Turki.

(Parag Agrawal keturunan India/Hindustan Times)
Pada tahun 2005, Agrawal memperoleh gelar Bachelor of Technology di bidang ilmu komputer dan teknik dari Institut Tekonologi India (IIT) Bombay.
Di tahun 2005, Agrawal pindah ke Amerika Serikat dan mendaftar di Universitas Stanford untuk mengejar gelar doktor dalam ilmu komputer. Di sana, ia bergabung dengan kelompok riset yang berfokus pada basis data, yang memungkinkan komputer menyimpan dan menambang informasi digital dalam jumlah besar.
Bahkan, di antara mahasiswa di Stanford, Agrawal menonjol karena pemahamannya yang kuat tentang matematika dan teori yang menopang ilmu komputer, kata Jennifer Widom, yang memimpin lab penelitian dan menjabat sebagai penasihat tesisnya.
“ Memiliki kedua keterampilan itu –matematika dan teori– dapat membawa Anda jauh melangkah,” katanya dalam sebuah wawancara telepon dengan New York Times. " Jika Anda pandai teori, Anda memiliki kemampuan untuk analitis, bernalar, dan membuat keputusan."
Fokus Agrawal pada database membuatnya cocok secara alami untuk Twitter, yang harus menangani data yang datang dari puluhan juta orang setiap hari di seluruh dunia.
Dia bergabung dengan Twitter pada tahun 2011 sebelum menyelesaikan gelar Ph.D. dan menjadi anggota kunci dari tim teknik yang mengawasi teknologi periklanan perusahaan.
Tim iklan adalah salah satu yang pertama di dalam Twitter yang menggunakan secara ekstensif apa yang disebut pembelajaran mesin, sistem matematika yang dapat mempelajari keterampilan tertentu dengan menganalisis data. Dengan menggunakan teknik ini, Agrawal dan rekan-rekannya mengembangkan cara untuk menargetkan iklan ke pengguna tertentu, yang membantu meningkatkan pendapatan Twitter.
Dia kemudian menjadi anggota dari apa yang dikenal sebagai Grup Arsitektur Twitter, atau T.A.G., tim insinyur top yang meninjau dan meningkatkan proyek perusahaan yang sedang dikembangkan.
“ Dia masuk dalam daftar pendek para insinyur top,” kata Krishna Gade, orang yang bertemu dengan Agrawal ketika dia pertama kali diwawancarai saat melamar ke Twitter. " Bahkan saat itu, dia memiliki banyak pengaruh pada arah teknik perusahaan." Gade sendiri meninggalkan Twitter pada tahun 2014.
Ketika Jack Dorsey kembali ke Twitter sebagai kepala eksekutif atau CEO pada tahun 2015, Agrawal adalah salah satu letnannya yang membantu memfokuskan kembali upaya perusahaan. Pada tahun 2017, Twitter mempromosikan Agrawal menjadi Chief Technology Officer atau CTO.
Bahkan sebagai CTO, Agrawal tidak menonjolkan diri. Dia bekerja di belakang layar untuk membangun kembali infrastruktur teknis Twitter, yang telah dibangun bersama selama bertahun-tahun. Itu menyebabkan masalah teknik dan mencegah perusahaan memperkenalkan produk dan layanan baru secepat yang diinginkan. Agrawal membantu Twitter beralih menggunakan layanan komputasi awan atau cloud dari Google dan Amazon, untuk merampingkan operasinya.

(Parag Agrawal dan pendiri Twitter Jack Dorsey/NDTV)
Pada tahun 2019, Dorsey mengatakan bahwa Twitter akan mendanai inisiatif penelitian independen untuk membuat media sosial terdesentralisasi, yang memungkinkan pengguna membuat keputusan moderasi mereka sendiri dan menerapkan algoritma mereka sendiri untuk mempromosikan konten. Dia menunjuk Agrawal untuk mengawasi kontribusi Twitter untuk proyek tersebut, yang dikenal sebagai Bluesky.
“ Kami percaya memberdayakan lebih banyak individu dan pihak ketiga dapat membantu memecahkan masalah bagi masyarakat dan membantu lebih banyak orang,” kata Agrawal dalam sebuah wawancara tentang Bluesky.
Agrawal juga telah mengelola upaya Twitter untuk memasukkan mata uang kripto ke dalam platform, memungkinkan pengguna mengirim tip dalam mata uang kripto seperti Bitcoin. Dan dia telah mendukung upaya untuk bersikap transparan tentang kesalahan algoritma Twitter.
Jack Dorsey menyelesaikan serah terima dari pimpinna puncak Twitter ketika ia mengundurkan diri sebagai CEO dan menunjuk Agrawal sebagai CEO Twitter baru. Agrawal yang saat itu masih berumur 37 tahun resmi sebagai pemimpin baru Twitter pada November 2021.
Jabatan itu hanya dipegangnya selama setahun. Sebelum dia akhirnya dipecat Elon Musk dengan jumlah pesangon mengiurkan.
***
Menjadi insinyur keturunan India, Parag Agrawal nyatanya tidak sendirian. Sebelumnya publik juga tahu ada banyak keturunan diaspora India menjadi pimpinan industri teknologi dunia yang bermarkas di Amerika.
Orang-orang itu di antaranya adalah Sundar Pichai selaku CEO Google sejak 2015, dan Satya Nadella sebagai CEO Microsoft sejak tahun 2014.
Sundar Pihcai lahir dengan nama Pichai Sundararajan di Maurai, Tamil Nadu, India pada 10 Juni 1972. Usianya kini 50 tahun. Ibunya, Lakshmi, adalah seorang stenografer, dan ayahnya, Regunatha Pichai, adalah seorang insinyur listrik di GEC, perusahaan Inggris.
Sebagai seorang anak laki-laki Sundar Pichai tinggal di Madras bersama keluarganya. Ayahnya, selaku seorang insinyur listrik di GEC perusahaan multinasional Inggris, selalu ingin anak laki-lakinya mendapatkan pendidikan yang baik. Sejak usia dini, Sundar menunjukkan minat pada teknologi dan keterampilan memori yang brilian, terutama saat menghafal nomor telepon dan hal-hal penting lainnya.

( Sundar Pichai saat di India/DNA India)
Pichai menyelesaikan sekolah di Sekolah Menengah Atas Jawahar Vidyalaya di Ashok Nagar, Chennai dan menyelesaikan Kelas XII dari sekolah Vana Vani di Madras, India. Ia memperoleh gelarn sarjananya dari Institut Ilmu Teknologi Kharagpur di bidang teknik metalurgi dan merupakan alumnus terkemuka dari institusi tersebut.
Setelah mendapatkan gelar di bidang metalurgi -B.Tech pada 1993 dan medali perak di IIT, ia dianugerahi beasiswa untuk belajar di Universitas Stanford (MS) AS di bidang teknik dan ilmu material pada tahun 1995.
Dia tetap di Amerika Serikat setelah itu bekerja sebentar untuk Bahan Terapan dan kemudian mendapatkan gelar M.B.A tahun 2002 dari Wharton School of the University of Pennsylvania.
Pichai memulai karirnya sebagai insinyur material. Setelah bekerja sebentar di perusahaan konsultan manajemen McKinsey & Co., Pichai mulai bergabung dengan Google pada tahun 2004.
Di Google, ia memimpin upaya pengelolaan dan inovasi produk untuk rangkaian produk perangkat lunak klien Google, termasuk Google Chrome dan ChromeOS, serta sebagian besar bertanggung jawab atas Google Drive. Selain itu, ia melanjutkan untuk mengawasi pengembangan aplikasi lain seperti Gmail dan Google Maps.

(CEO Google Sundar Pichai/LIve Mint)
Pada tahun 2010, Pichai juga mengumumkan open-source codec video baru VP8 oleh Google dan memperkenalkan format video baru, WebM. Chromebook dirilis pada tahun 2012. Pada tahun 2013, Pichai menambahkan Android ke daftar produk Google yang dia awasi.
Pichai terpilih menjadi CEO Google berikutnya pada 10 Agustus 2015, setelah sebelumnya ditunjuk sebagai Product Chief oleh CEO Larry Page. Pada 24 Oktober 2015, ia melangkah ke posisi baru setelah selesainya pembentukan Alphabet Inc., perusahaan induk baru untuk keluarga perusahaan Google. Dia diangkat menjadi Dewan Direksi Alfabet pada tahun 2017.

(Pendiri Google Larry Page dan Sundar Pichai/Telecom Mirror)
Pichai termasuk dalam daftar tahunan 100 orang paling berpengaruh versi majalah Time pada tahun 2016 dan 2020.
Dia suka bermain sepak bola dan kriket dan dia memiliki kekayaan bersih U$ 920 juta atau Rp 14,3 triliun pada 25 Juni 2019. Pichai merupakan CEO Google pertama dari kalangan non kulit putih. Ia kini merupakan warga negara Amerika Serikat.
***
Sedangkan Satya Narayana Nadella adalah CEO Microsoft sejak tahun 2014. Di bawahnya, Microsoft memiliki pendapatan komputasi awan lebih banyak daripada Google, lebih banyak pelanggan daripada Netflix, dan modal pasar hampir triliunan dolar.

(CEO MIcrosoft Satya Nadela/CNBC)
Satya Nadela lahir pada 19 Agustus 1967 di Hyderabad, India. Usianya kini 55 tahun. Ia bersekolah di Sekolah Umum Hyderabad, Begumpet. Satya Nadella gagal dalam usahanya untuk menyelesaikan ujian Institut Teknologi India (IIT). Dia, bagaimanapun, masuk ke Institut Teknologi Birla (BITS) di Mesra dan Institut Teknologi Manipal.
Dia memilih Manipal daripada BITS dan menerima gelar sarjana teknik elektro pada tahun 1988. Dia kemudian belajar MS atau master sains dalam ilmu komputer di University of Wisconsin-Milwaukee, AS. Nadella kemudian menyelesaikan MBA dari University of Chicago Booth School of Business.
Dia menikah dengan Anupama, putri dari teman satu angkatan Layanan Administrasi India ayah Satya Nadella. Mereka memiliki tiga anak. Dia kini tinggal di Bellevue, Washington. Dia adalah pembaca setia puisi Amerika dan India dan sangat menyukai kriket.

(Satya Nadela dan istri/Intelegent India)
Sebelum bergabung dengan Microsoft, Satya Nadella bekerja di Sun Microsystems, sebuah perusahaan yang menjual komputer, perangkat lunak, dan layanan teknologi informasi.
Setelah keluar dari Sun Microsystems, Nadella bergabung dengan Microsoft sebagai insinyur muda pada tahun 1992. Pada tahun 2000, ia mendapatkan peran eksekutif pertamanya sebagai Wakil Presiden Microsoft Central. Sejak saat itu, tidak ada yang menoleh ke belakang untuk mencari insinyur India.
Tahun berikutnya, ia dipromosikan sebagai Wakil Presiden perusahaan Solusi Bisnis Microsoft. Pada tahun 2007 Nadella adalah Wakil Presiden senior Layanan Online Microsoft, yang tidak hanya menempatkan dia bertanggung jawab atas Bing tetapi juga versi awal Microsoft Office dan Xbox Live.
Pada tahun 2011 ia diangkat menjadi Presiden Divisi Server dan Alat, yang mengawasi platform cloud Azure dan produk untuk pusat data perusahaan seperti Windows Server dan database SQL Server. Saat itu, Divisi Server dan Alat menghasilkan pendapatan sekitar U$16,6 miliar. Namun di bawah kepemimpinan Nadella, dalam waktu dua tahun, pendapatannya berlipat ganda menjadi U$ 20,3 miliar.
Satya Nadella mengambil alih kendali Microsoft pada 4 Februari 2014, sebagai CEO setelah Steve Ballmer memutuskan untuk mundur sebagai CEO. Keputusan untuk menunjuk Nadella diambil oleh Bill Gates, pendiri Microsoft dan Ballmer. Nadella berhasil memimpin perusahaan keluar dari masa-masa sulitnya.

(Satya Nadela dan Bill Gates/TechStory)
Di bawah Satya Nadella, Microsoft telah memegang posisinya sebagai pesaing teknologi utama.
Kekayaan bersih Satya Nadella adalah sekitar U$ 320 juta atau Rp 4,9 triliun.
***
Saat Parag Agrawal naik jadi CEO Tritter, kantor berita BBC menurunkan laporan berjudul: “ Mengapa CEO kelahiran India mendominasi Lembah Silikon.”
Menurut BBC, saat Parag Agrawa ditunjuk sebagai CEO Twitter, dia telah bergabung dengan setidaknya selusin teknisi kelahiran India lainnya selaku CEO di kantor perusahaan teknologi Silicon Valley paling berpengaruh di dunia.
Satya Nadella dari Microsoft, Sundar Pichai dari Alphabet, dan para petinggi IBM, Adobe, Palo Alto Networks, VMWare, dan Vimeo semuanya adalah keturunan India.
Penduduk asli India menyumbang hanya sekitar 1% dari populasi AS dan 6% dari tenaga kerja Lembah Silikon, namun secara tidak proporsional terwakili di petinggi. Mengapa?
" Tidak ada negara lain di dunia yang 'melatih' begitu banyak warganya dengan cara gladiator seperti India," kata R Gopalakrishnan, mantan direktur eksekutif Tata Sons dan salah satu penulis T" he Made in India Manager."
“ Dari akta kelahiran hingga akta kematian, dari penerimaan sekolah hingga mendapatkan pekerjaan, dari ketidakcukupan infrastruktur hingga kapasitas yang tidak memadai. Tumbuh di India melengkapi orang India untuk menjadi “ manajer alami,” tambahnya.

(Penduduk India tengah antri mengambi air/India Express)
Persaingan dan kekacauan di India, negara dengan penduduk 1,3 miliar penduduk, dengan kata lain membuat mereka menjadi pemecah masalah yang dapat beradaptasi. Dan, ia menambahkan, fakta bahwa mereka sering memprioritaskan kerja profesional daripada bantuan pribadi dalam budaya kantor Amerika yang terlalu banyak bekerja.
" Ini adalah karakteristik pemimpin puncak di mana pun di dunia," kata Gopalakrishnan.
CEO Silicon Valley kelahiran India juga merupakan bagian dari kelompok minoritas berkekuatan empat juta orang yang termasuk yang terkaya dan terdidik di AS.
Sekitar satu juta dari mereka adalah ilmuwan dan insinyur. Lebih dari 70% memiliki visa H-1B -izin kerja untuk orang asing- yang dikeluarkan oleh AS diberikan kepada insinyur perangkat lunak India, dan 40% dari semua insinyur kelahiran asing di kota-kota seperti Seattle berasal dari India.
" Ini adalah hasil dari perubahan drastis dalam kebijakan imigrasi AS pada 1960-an," tulis penulis The Other One Percent: Indian in America.
Setelah gerakan hak-hak sipil, kuota asal nasional digantikan oleh kuota yang mengutamakan keterampilan dan penyatuan keluarga. Segera setelah itu, orang India yang berpendidikan tinggi -ilmuwan, insinyur, dan dokter pada awalnya, dan kemudian, sebagian besar, pemrogram perangkat lunak- mulai berdatangan ke AS.
Kelompok imigran India ini tidak " menyerupai kelompok imigran lain dari negara lain mana pun" , kata para penulis. Mereka " dipilih tiga kali lipat" - tidak hanya mereka di antara orang-orang India yang memiliki hak istimewa dari kasta atas yang mampu pergi ke perguruan tinggi yang terkenal, tetapi mereka juga termasuk dalam bagian yang lebih kecil yang dapat membiayai gelar master di AS.
Dan akhirnya, sistem visa semakin mempersempitnya menjadi mereka yang memiliki keterampilan khusus -sering kali dalam sains, teknologi, teknik dan matematika atau STEM sebagai kategori pilihan yang dikenal- yang memenuhi " kebutuhan pasar tenaga kerja kelas atas" AS.
" Ini adalah hasil terbaik dan mereka bergabung dengan perusahaan di mana yang terbaik naik ke puncak," kata pengusaha teknologi dan akademisi Vivek Wadhwa. " Jaringan yang mereka bangun di Silicon Valley juga memberi mereka keuntungan. Idenya adalah mereka akan saling membantu."
Wadhwa menambahkan bahwa banyak CEO kelahiran India juga telah berhasil menaiki tangga perusahaan. Dan ini, ia percaya, memberi mereka rasa kerendahan hati yang membedakan mereka dari banyak CEO pendiri yang telah dituduh arogan dan merasa berhak dalam visi dan manajemen gaya mereka.
Wadhwa mengatakan orang-orang seperti Sarya Nadella dan Sundar Pichai juga membawa sejumlah kehati-hatian, refleksi dan budaya " lembut" yang membuat mereka calon yang ideal untuk pekerjaan puncak selaku CEO.

(Pemukiman kumuh di India/NYT)
" Kepemimpinan rendah hati, non-abrasif" mereka adalah nilai tambah yang besar, kata Saritha Rai, yang meliput industri teknologi di India untuk Bloomberg News.
Masyarakat India yang beragam, dengan begitu banyak adat dan bahasa, " memberi mereka (manajer kelahiran India) kemampuan untuk menavigasi situasi yang kompleks, terutama ketika menyangkut penskalaan organisasi," kata pengusaha miliarder India-Amerika dan kapitalis ventura Vinod Khosla, yang ikut mendirikan Sun Microsystems.
" Ini ditambah etika 'kerja keras' membuat mereka berkembang dengan baik," tambahnya.
Ada alasan yang lebih jelas juga. Fakta bahwa begitu banyak orang India dapat berbicara bahasa Inggris memudahkan mereka untuk berintegrasi ke dalam beragam industri teknologi AS. Dan penekanan pendidikan India pada matematika dan sains telah menciptakan software, melatih lulusan dalam keterampilan yang tepat, yang selanjutnya ditopang di sekolah teknik atau manajemen top di AS.
" Dengan kata lain, kesuksesan CEO kelahiran India di Amerika adalah tentang apa yang benar dengan Amerika… seperti apa yang benar dengan India," tulis ekonom Rupa Subramanya baru-baru ini di majalah Foreign Policy.
Melalui diaspora keturunan India, bangsa India memang telah menanamkan kuku mereka di dunia teknologi global. Caranya dengan menempatkan sejumlah orang sebagai CEO perusahaan teknologi global. Sebuah pretasi bukan main-main dari negara 1,3 miliar penduduk. Dan itu akhir-akhir ini juga merambah ke pimpinan politik dunia. Luar biasa! (eha)
Sumber: New York Times, India Times, Outlook India, Business Standard, BBC