Fakta-Fakta Bocah SD di Malang Dibully sampai Koma: Diseret dan Dipukul Kakak Kelas di Bendungan

Reporter : Nabila Hanum
Jumat, 25 November 2022 12:00
Fakta-Fakta Bocah SD di Malang Dibully sampai Koma: Diseret dan Dipukul Kakak Kelas di Bendungan
Berikut deretan fakta terkait bocah SD di Malang jadi korban bullying hingga koma.

Dream - Tak henti-hentinya kasus bullying alias perundungan mencederai dunia pendidikan. Kini, kasus perundungan kembali terjadi di Malang, Jawa Timur, yang menimpa seorang bocah kelas 2 SD.

Nahasnya, bocah berusia 8 tahun berinisial MWF tersebut sampai tak sadarkan diri atau mengalami koma usai menerima tindakan keji tersebut.

Berikut deretan fakta terkait bocah SD di Malang jadi korban bullying hingga koma.

 

1 dari 5 halaman

7 Pelaku Merupakan Kakak Kelas

Berdasarkan keterangan yang disampaikan saksi, peristiwa yang dilakukan oleh tujuh pelaku ini terjadi sebanyak dua kali di lokasi berbeda.

Kejadian pertama di Bendungan Sengguruh, Kepanjen, pada 11 November 2022. Dan ke dua terjadi di Kolam renang Desa Jenggolo, Kepanjen, pada 12 November 2022.

" Korban mengaku mengalami perundungan. Sempat ada pemukulan dan ditendang oleh teman-temannya," kata Kasi Humas Polres Malang Iptu Ahmad Taufik, Kamis 24 November 2022.

2 dari 5 halaman

Diseret dan Dipukuli di Bendungan

Menurut pengakuan korban, dia pernah diseret dan dipukuli oleh tujuh orang tersebut di Bendungan Sengguruh, Kepanjen, Jumat 11 November 2022. MWF mengaku ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan usai mendapat siksaan tersebut.

Kemudian pada keesokan harinya, dia dijemput teman-temannya untuk diajak bermain di kolam renang Desa Jenggolo, Kepanjen. Namun setibanya di lokasi MWF kembali mendapat penganiayaan.

Kakinya ditarik ramai-ramai hingga kepala membentur lantai. Akibatnya korban mengeluh pusing dan muntah-muntah selama beberapa hari dan harus dirawat intensif.

3 dari 5 halaman

Korban Kembali Sadar

Kini, kondisi korban sudah mulai membaik. Meski masih harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit, korban sudah dalam kondisi sadar dan bisa diajak berinteraksi.

" Tadi saya lihat kondisinya makin membaik dan sudah mulai bisa berinteraksi, walaupun masih menjalani perawatan intensif karena masih ada bagian vital yang perlu dilakukan pengobatan. Kondisinya jauh lebih baik dibandingkan saat awal masuk rumah sakit. Saat itu tidak sadar," katanya.

Dari keterangan dokter sambung Kholis, terdapat luka dalam yang dialami korban. Namun saat ini dokter lebih fokus terhadap pemulihan psikis.

" Lebih fokus pada upaya pemulihan psikis, tadi kita lihat dokter mengakomodir beberapa keluarga maupun pelaku dengan harapan makin cepat pulih," pungkasnya.

4 dari 5 halaman

12 Saksi Diperiksa

Penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), telah mengumpulkan bukti dan melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi dari pihak korban maupun sekolah.

Termasuk pada terduga pelaku yang melakukan perundungan. Saat ini proses penyelidikan masih berjalan sambil menunggu kesembuhan korban.

" Penyidik telah melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi, termasuk dari terduga pelaku sejumlah tujuh anak. Visum terhadap korban juga sudah dilakukan. Saat ini masih menunggu korban sembuh dan pulih untuk proses selanjutnya," ujarnya.

Hal ini juga dibenarkan oleh Kapolres Malang, AKBP Putu Kholis Aryana. " Kami telah melakukan pemeriksaan kepada 12 saksi dan 7 ABH," kata Kholis.

5 dari 5 halaman

Kholis menegaskan bahwa penanganan kasus ini akan mengacu pada penerapan Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA). Sehingga nantinya akan ada banyak pihak yang terlibat dalam pendampingan kasus tersebut guna memastikan proses hukum sesuai dengan ketentuan.

" Nanti melibatkan Bapas, DP3A, orang tua, wali murid, kepala sekolah. Nanti kami minta pendampingan dari Diknas dan pihak terkait lain. Agar memastikan proses yang kami jalankan ini bisa sesuai prosedur," ungkapnya.

Sumber: merdeka.com

Beri Komentar