Virus Corona, Kelaparan, dan Kematian

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Kamis, 23 April 2020 09:00
Virus Corona, Kelaparan, dan Kematian
Ada kasus meninggal bukan karena Covid-19 namun lebih disebabkan stres.

Dream - Pandemi virus corona berdampak pada kehidupan manusia. Tak hanya keselematan jiwa, virus itu juga telah menghentikan roda ekonomi. Banyak orang kehilangan pekerjaan, hidup dalam kelaparan.

Dengarlah keterangan Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah. Hingga 20 April 2020, ada 84.926 perusahaan telah merumahkan tenaga kerja. Setidaknya, 2 juta orang terkena pemutusan hubungan kerja alias PHK.

Kehidupan makin sulit. Sejumlah orang harus hidup menahan lapar. Beberapa di antara mereka bahkan harus kehilangan nyawa. Ada pula yang terpaksa mengakhiri hidup.

Kisah terbaru datang dari Serang. Daerah yang jaraknya tak sampai seratus kilometer dari Jakarta. Ibu negeri negara kita ini. Di daerah Banten itu, seorang wanita meninggal setelah menahan lapar.

Yulie Nuramelia nama perempuan malang itu. Dia ibu rumah tangga di Kelurahan Lontar Baru, Kecamatan Serang Banten. Selama dua hari tak makan. Perut hanya diisi air galon isi ulang saja.

Ibu Yulie dan keluarganya memang hidup susah. Mereka tinggal menumpang. Sang suami, Mohammad Kholik hanya pemulung. Penghasilan sehari Rp30 ribu. Itupun untuk menghidupi Yulie, Kholik, dan empat anak mereka, yang salah satunya masih bayi.

Sejak pandemi corona melanda, keluarga Yulie belum tersentuh bantuan. Pertolongan logistik baru mengalir pada Sabtu pekan lalu, setelah kisah penderitaan mereka viral di media sosial.

Lurah Lontar Barru, Dedi Sudradjat, tidak percaya keluarga Yulie tak bisa mekan dalam dua hari. Dia mengaku mendapat informasi bahwa keluarga Yulie masih bisa mengisi perut mereka. 

" Dua hari enggak makan saya sendiri enggak percaya juga yah. Karena saya dapat informasi beliau masih makan," kata Dedi Sudradjat.

Mau percaya atau tidak, Yulie kini telah tiada. Yulie mengembuskan nafas terakhir pukul 15.00 WIB pada Senin 22 April 2020. Meskipun Dedi tak yakin Yulie sekarat karena menahan lapar.

" Pihak puskesmas bilang meninggal di jalan. Bukan juga (meninggal) karena kelaparan," jelas Dedi.

Kisah Yulie hanya satu di antara sederet cerita pilu warga akibat kesulitan ekonomi selama pandemi corona. Banyak cerita lain yang tak kalah miris.

1 dari 3 halaman

Bunuh Diri karena Tak Sanggup Bayar Cicilan

Dengar pula kisag pengemudi taksi online di Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi. Pada Senin malam, 6 April 2020, seorang sopir lelaki berinisial JL (33 tahun) ditemukan meninggal gantung diri.

JL diduga nekat mengakhiri hidupnya lantaran tak sanggup membayar cicilan kendaraan. Kesaksian tersebut berdasarkan keterangan sang istri.

" Sebelumnya ada seorang laki-laki yang datang ke rumah menagih cicilan kredit mobil, setelah itu korban sering melamun," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus.

Yusri menjelaskan, JL diduga depresi. JL telah menganggur sejak wabah virus corona menghantui Indonesia. " Korban sudah hampir dua bulan tidak narik penumpang," ujar Yusri.

 

2 dari 3 halaman

PHK Berujung Kematian

Mari pindah ke Jakarta Barat. Pada Selasa 21 April 2020, seorang pemuda ditemukan tewas di kamar indekos.

JT, 27 tahun, diduga nekat mengakhiri hidupnya karena frustasi setelah menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK).

Kanit Reskrim Polsek Kembangan, Ajun Komisaris Niko Purba, menjelaskan jenazah korban pertama kali ditemukan oleh adik dan ibunya pada pukul 09.50 WIB. Keduanya curiga karena tak melihat batang hidung JT sepulang dari ziarah.

" Korban dipanggil tidak ada jawaban dan pintu kosan korban dalam keadaan terkunci," kata Niko.

Niko mengatakan, korban ditemukan dalam kondisi tak bernyawa dengan bertelanjang dada dan mengenakan celana panjang hitam.

" Kami tidak temukan tanda-tanda kekerasan. Kuat dugaan meninggal akibat bunuh diri," ujar dia.

Menurut keterangan, korban baru sebulan yang lalu dirumahkan oleh atasannya. Saat ini, jasad korban telah dievakuasi ke RSCM.

" Kata kakaknya baru di PHK, mungkin karena itu terus suntuk," ucap Niko.

 

3 dari 3 halaman

Seminggu Puasa

Mari kembali ke Serang. Kita dengarkan kisah keluarga Yuyun Cahyaningsih yang tinggal di Kelurahan Pemancangan Baru, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang

Buruh setrika berusia 37 tahun itu sudah tidak bisa bekerja lagi. Pandemi corona membuat warga bertahan di rumah. Tak ada lagi baju yang harus dia setrika.

Sudah bisa ditebak. Yuyun, suami, dan anaknya, harus hidup dengan menahan lapar. Semua pemasukan sehari-hari kini terhenti gara-gara corona.

" Kan enggak boleh keluar, jadi orang-orang ngegosok sendiri. Anak saya seminggu puasa, mulai dari Senin sampai Kamis kemarin," kata Yuyun.

Kondisi keluarga ini semakin memprihatinkan setelah suami Yuyun jatuh sakit, sehingga tidak bisa memberi nafkah tambahan untuk keluarga. " Sakitnya (kepala), sudah lama. Enggak kerja, buruh lepas," tambah Yuyun.

Untungnya, Yuyun tinggal di rumah warisan suami. Sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk sewa tempat tinggal.

Mereka juga masih mujur karena berhasil menghubungi Relawan Banten Melawan Corona (RBMC). Keluarga Yuyun mendapat bantuan berupa kebutuhan pokok.

" Saya ngeluh enggak punya beras, gosok saya sepi. Kemarin saya bingung, terus disuruh kontak Untirta (RBMC) peduli. Kepepet, saking kepepetnya, malu sebenarnya mah," terang Yuyun.

Beri Komentar