Terkesima dengan Indonesia, Filipina Ingin Belajar Tentang Pengelolaan Madrasah Negeri

Reporter : Okti Nur Alifia
Minggu, 18 September 2022 06:01
Terkesima dengan Indonesia, Filipina Ingin Belajar Tentang Pengelolaan Madrasah Negeri
Filipina berguru ke Indonesia dalam hal membangun, membuat kebijakan serta implementasi kebijakan.

Dream - Berstatus sebagai negara minoritas muslim, Filipina ternyata memberikan perhatian cukup besar pada sekolah Islam. Negara anggota ASEAN ini meminta izin untuk mempelajari sistem moderasi yang selama ini diakui berjalan dengan baik di Indonesia.  

Keinginan itu disampaikan saat Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) Kementerian Agama (Kemenag) di Jakarta, kedatangan tamu dari Kementerian Pendidikan Dasar, Menengah, dan Teknik dari Bangsamoro Autonomous Region in Muslim Mindanao (MBHTE BARMM) Filipina yang berencana membangun Madrasah Negeri.

Selain berguru soal moderasi, kunjungan tersebut juga untuk mempelajari cara Indonesia dalam hal membangun, membuat kebijakan serta implementasi kebijakan Madrasah Negeri.

Dirjen Madaris Bangsamoro Filipina Tahir G Nalg mengungkapkan alasan rombongannya ingin berguru ke tanah air. Disebutnya bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim yang terbesar di dunia. 

“ Selain itu, kami bisa menginterpretasikan kata 'moderasi' dengan Indonesia,” tukas Tahir, dikutip dari laman Kemenag, Jumat, 16 September 2022.

1 dari 4 halaman

Alasan Lainnya

Selanjutnya, Tahir mengatakan bahwa lulusan madrasah yang ada di Bangsamoro saat ini masih mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. 

Lanjutnya lagi, lapangan kerja untuk lulusan Madaris alias Madrasah dari Bangsamoro, ia akui juga masih kesulitan untuk mendapatkan kesempatan yang sama dengan sekolah umum.

filipina ke MAN IC© Kemenag.go.id

“ Kita ingin belajar, bagaimana lulusan pesantren dan madrasah dapat berkancah di dunia kerja layaknya lulusan sekolah umum,” ungkap Tahir.

2 dari 4 halaman

Filipina Terkesan dengan Pembelajaran di Indonesia

Dalam kunjungan ke beberapa lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, baik madrasah hinga pesantren, Tahir mengakui bahwa timnya sangat terkesan dan banyak belajar dari kunjungan yang telah mereka lakukan.

“ Kami sangat berharap bisa mengadopsi hal hebat yang diterapkan oleh sistem pendidikan Islam di Indonesia. Kedepannya, semoga kami bisa mengirim delegasi kami untuk belajar langsung di madrasah dan pesantren di Indonesia agar langsung bisa diterapkan di madrasah kami,” lanjut Tahir.

Direktur Jenderal (Dirjen) Pendis Muhammad Ali Ramdhani, menjelaskan bahwa rombongan dari Filipina yang sedang benchmarking itu melakukan kunjungan ke beberapa lembaga Pendidikan Islam di Pondok Pesantren Al Hamid Jakarta Timur, Ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 4 Jakarta dan MAN Insan Cendekia (IC) Serpong Tangerang Selatan.

3 dari 4 halaman

Lembaga yang Saat Ini Dilayani Kemenag

Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini mengatakan bahwa, praktik baik alias berguru tentang penyelenggaraan madrasah ini juga selayaknya bisa lakukan pihak Kemenag sendiri. Artinya tidak ada salahnya berguru ke Filipina, khususnya ke Moro.

“ Sebetulnya, benchmarking penting, karena kita saat ini melakukan terobosan bahwa ada tantangan kepada generasi di masa depan. Lalu, kurikulum kami rancang, agar mampu menjawab masa depan anak madrasah. Maka, di Madrasah Aliyah kami lakukan rekonstrusksi kurikulum dengan Cambridge sehingga alumni diterima di kampus terkemuka di dunia,” papar pria yang karib disapa Kang Dhani itu.

Kang Dhani melaporkan saat ini Kemenag melayani sebanyak lebih dari 77.000 lembaga madrasah, 700 lembaga Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) baik negeri maupun swasta, dan melayani 35.000-an Pondok Pesantren yang tersebar diseluruh penjuru Indonesia.

4 dari 4 halaman

“ Ini adalah angka luar biasa dan semua ini ditangani secara struktural oleh Ditjen Pendis. Sehingga bisa dikatakan ini adalah Direktorat paling besar di Indonesia,” kata pria yang kerap disapa Kang Dhani di Kantor Kementerian Agama.

Di hadapan delegasi asal Filipina, Kang Dhani juga menerangkan bahwa madrasah di Indonesia pada dasarnya adalah sekolah pada umumnya. Namun, yang membedakan adalah satu, tambahan pelajaran agama. 

“ Bedanya satu, bahwa kami menambahkan pelajaran agama sebagai inti penyelenggaraan madrasah. Sehingga kami tidak merubah, tapi menambah.” Tukas Alumi ITB Bandung ini.

 

Beri Komentar