Jokowi: "Proses Butuh Waktu, Kok Pada Nggak Sabaran"

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 14 November 2016 12:13
Jokowi:
Jokowi meminta masyarakat menunggu hasil pemeriksaan yang kini masih berjalan. Selain itu, Jokowi juga meminta masyarakat tidak terkesan memaksakan kehendak.

Dream - Presiden Joko Widodo mengatakan kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan calon petahana Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sedang ditangani. Bahkan, kata dia, proses tersebut berjalan sebelum adanya demonstrasi 4 November 2016 lalu.

" Sebenarnya sebelum demo itu juga sudah diproses. Saksi-saksi sudah ditanya, saksi ahli sudah didatangkan. Tapi namanya proses itu kan juga memerlukan waktu. Kok enggak pada sabaran," tanya Jokowi dalam Silaturahim Nasional Ulama Rakyat bertajuk 'Doa Untuk Keselamatan Bangsa', dikutip dari setkab.go.id, Senin, 14 November 2016.

Jokowi meminta masyarakat menunggu hasil pemeriksaan yang kini masih berjalan. Selain itu, presiden juga meminta masyarakat tidak terkesan memaksakan kehendak.

" Jangan aparat hukum kita, kita paksa-paksa, enggak. Itu aturannya sudah ada kok, ketentuan-ketentuan hukumnya juga sudah ada," kata Jokowi.

Terkait demonstasi 4 November 2016, Jokowi menyebut demo itu dilandasi niat baik dan kesungguhan. Konstitusi pun memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyalurkan aspirasi.

Meski begitu, ada sejumlah aturan yang harus dipatuhi. Oleh sebab itu, saya perlu mengingatkan kita semuanya mengenai kebersamaan kita sebagai bangsa. Jangan sampai ada yang ingin merusak kebersamaan ini, jangan sampai ada yang ingin memecah belah kita," kata Jokowi.

1 dari 2 halaman

Keluhkan Media Sosial

Keluhkan Media Sosial © Dream

Jokowi juga mengeluhkan kecenderungan yang muncul lewat media sosial beberapa bulan belakangan. Ini lantaran sejumlah media sosial banyak dimanfaatkan hanya untuk mengujat pihak lain.

" Isinya saling menghujat, isinya saling mengejek, isinya saling memaki, isinya banyak yang fitnah, isinya adu domba, isinya memprovokasi," kata Jokowi.

Jokowi menegaskan kecenderungan semacam ini bertolak belakang dengan karakter bangsa Indonesia. Bahkan, menurut dia, hal ini tidak mencerminkan keadaban dari bangsa Indonesia.

" Bukan tata nilai Indonesia, bukan tata nilai umat kita, bukan," kata Jokowi.

Bangsa Indonesia, kata Jokowi, memiliki budi pekerti, sopan santun, dan akhlakul karimah. Sehingga apa yang terjadi di media sosial patut diwaspadai.

Selanjutnya, kata Jokowi, sebagai bangsa yang majemuk, sudah selayaknya kelompok mayoritas melindungi minoritas. Sementara kelompok minoritas menghormati mayoritas.

" Mestinya seperti itu, harus dua-duanya jalan, saling menghargai, saling menghormati. Kalau tidak ada itu ya tidak akan sambung. Yang mayoritas melindungi minoritas, yang minoritas menghormati mayoritas," kata dia.(Sah)

2 dari 2 halaman

Energi Konsentrasi Habis di Jakarta?

Energi Konsentrasi Habis di Jakarta? © Dream

Jokowi mengingatkan akan ada 107 pemilihan kepala daerah (pilkada) pada 2017 nanti. Semua butuh pengawasan yang ketat.

Tetapi, kata Jokowi, energi konsentrasi tersebut malah habis hanya untuk Jakarta. Dia lalu mempertanyakan urgensi hal itu.

" Jadi kenapa energi konsentrasi kita habis hanya di Jakarta? Apa kalkulasinya," ucap Jokowi.

Pernyataan ini disampaikan Jokowi terkait kasus dugaan penistaan agama oleh calon petahana Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Akibat kasus ini, seluruh energi masyarakat tersedot ke Jakarta.

Padahal, kata Jokowi, masih ada daerah lain yang juga butuh diawasi secara ketat.

Beri Komentar