Kisah Mantan Menteri Afghanistan Lulusan S2 Oxford, Kini Jadi Kurir Pizza

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 26 Agustus 2021 11:50
Kisah Mantan Menteri Afghanistan Lulusan S2 Oxford, Kini Jadi Kurir Pizza
Syed Ahmad Shah Saadat kini hidup nyaman di Jerman meski harus berusaha keras.

Dream - Eks menteri Afghanistan, Syed Ahmad Shah Saadat, dilaporkan menjalani pekerjaan sebagai kurir makanan. Dia kini tinggal di Leipzig, Jerman.

Saadat tertangkap kamera sedang mengantarkan pizza. Dengan sepeda, dia berkeliling Leipzig menuju tempat-tempat para pemesan pizza.

Saadat bekerja sebagai kurir makanan pada perusahaan pengiriman Livrando setelah kehabisan uang. Namun, dia mengaku senang menjalani kehidupannya saat ini.

" Saat ini saya menjalani hidup sederhana dan merasa aman di Jerman," ujar Saadat kepada Sky News.

Dia berharap kisahnya dapat menjadi katalis bagi orang-orang yang pernah memegang jabatan tinggi menjalani hidup di Asia maupun Arab.

1 dari 4 halaman

Perjalanan Karir Saadat

Saadat adalah pemegang gelar Master Ilmu Komunikasi dan Teknik Elektro dari Universitas Oxford, Inggris. Selama 23 tahun, Saadat telah berkarir sedikitnya pada 20 perusahaan di 13 negara berbeda, salah satunya di Arab Saudi.

Kemudian, dia dipercaya sebagai penasihat teknis Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informatika Afghanistan pada 2005 hingga 2013. Setelah itu menjabat sebagai CEO Ariana Telecom di London pada 2016-2017, lalu diangkat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika Afghanistan pada 2018.

Saadat mengundurkan diri dari jabatan menteri setelah berseberangan pendapat dengan Presiden Ashraf Ghani. Sejak Desember tahun lalu, Saadat memutuskan hidup di Leipzig.

Di Leipzig, Saadat mengaku sudah mengajukan lamaran ke sejumlah perusahaan telekomunikasi. Tetapi hingga saat ini dia belum mendapatkan balasan.

Foto-foto Saadat viral di media sosial di tengah krisis Afghanistan setelah Taliban mengambil alih kekuasaan. Terkait masalah ini, Saadat mengaku tidak pernah berpikir pemerintahan sipil jatuh begitu cepat, dikutip dari Independent.

2 dari 4 halaman

Taliban Perintahkan Semua Wanita Tetap di Rumah

Dream - Taliban mengeluarkan perintah terbaru untuk wanita yang bekerja agar tetap di rumah saja. Perintah ini diberlakukan sampai sistem yang baru sudah terbentuk.

" Ini prosedur yang sangat sementara," ujar Juru Bicara Taliban, Zabihullah Mujahid.

Taliban telah sembilan hari mengambil alih pemerintahan Afghanistan. Meski belum ada peralihan kekuasaan secara resmi.

Sementara PBB menyoroti temuan adanya pelanggaran yang dilakukan Taliban selama penguasaan kembali Afghanistan. Terutama pelanggaran terhadap hak perempuan yang termuat dalam laporan kredibel.

Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachelet mengatakan hak-hak perempuan merupakan persoalan yang harus digarisbawahi. Bachelet menyatakan Taliban terbukti tidak menghargai hak para perempuan untuk mendapatkan pendidikan dan bekerja.

Dalam konferensi persnya di Kabul pada hari Selasa, Mujahid membahas proses evakuasi yang dipimpin. Pasukan AS menguasai bandara Kabul dari mana sekitar 58.700 orang telah dievakuasi sejauh ini.

3 dari 4 halaman

Klaim Hanya Sementara

Mujahid menegaskan kembali posisi Taliban, operasi itu harus berakhir pada 31 Agustus. Mengenai situasi wanita Afghanistan, dia mengatakan pembatasan apa pun akan berumur pendek.

" Pasukan keamanan kami tidak terlatih (dalam) bagaimana menangani wanita, bagaimana berbicara dengan wanita, beberapa dari mereka," kata Mujahid.

" Sampai kami memiliki keamanan penuh ... kami meminta wanita untuk tinggal di rumah," ucap dia.

Selain mengungkapkan keprihatinan atas hak-hak perempuan, Bachelet juga mengatakan telah menerima laporan perekrutan tentara anak dan eksekusi cepat oleh Taliban. Dia berbicara pada pertemuan darurat Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa.

Setelah itu, dewan mengesahkan sebuah resolusi yang menegaskan " komitmen tak tergoyahkan" untuk hak-hak perempuan dan anak perempuan. Namun, resolusi tersebut tidak memenuhi apa yang diminta oleh banyak kelompok hak asasi manusia, khususnya, tidak merekomendasikan penunjukan penyelidik khusus PBB untuk Afghanistan.

 

4 dari 4 halaman

Citrakan Diri Berbeda

Sejak kembali berkuasa, Taliban mencoba mencitrakan diri lebih baik dari sebelumnya. Mereka menjanjikan hak-hak bagi perempuan dan anak perempuan serta kebebasan berbicara.

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, mengadakan pembicaraan dengan para pemimpin negara-negara industri terkemuka G7 lainnya pada hari Selasa untuk membahas krisis Afghanistan.

Ribuan orang termasuk warga negara Inggris, warga negara asing lainnya dan warga Afghanistan yang memenuhi syarat dievakuasi di luar negeri masih menunggu untuk keluar.

Khalid, seorang warga Afghanistan yang bekerja sebagai penerjemah untuk Angkatan Darat Inggris, mengaku lega meski masih merasa sedih karena meninggalkan negara itu. Dia dan keluarganya sekarang berada di utara Inggris.

" Ketika Anda meninggalkan negara Anda, orang-orang Anda, terutama saudara perempuan Anda, saudara laki-laki Anda, ibu Anda, semua orang ... karena hal-hal itu saya sedih, tetapi sekarang saya bahagia di Inggris," kata dia.

Bahkan sebelum Taliban merebut kembali kendali, lebih dari 550 ribu orang terpaksa meninggalkan rumah mereka tahun ini karena pertempuran, menurut UNHCR.

Sementara itu, kepala Badan Intelijen Pusat AS (CIA) mengadakan pertemuan rahasia di Kabul dengan pendiri Taliban Mullah Baradar, sumber mengatakan kepada media AS.

Jika dikonfirmasi, itu akan menjadi pertemuan tingkat tertinggi sejauh ini antara AS dan Taliban sejak jatuhnya Kabul dan pemecatan pemerintah yang didukung AS, dikutip dari BBC.

Beri Komentar