Kronologi Jessica Tuang Racun di Kopi Mirna

Reporter : Maulana Kautsar
Rabu, 15 Juni 2016 14:39
Kronologi Jessica Tuang Racun di Kopi Mirna
Jaksa menjelaskan secara gamblang dan detail dalam dakwaannya.

Dream - Fakta-fakta baru kematian Wayan Mirna Salihin perlahan mulai terungkap di persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu, 15 Juni 2016.

Dalam dakwaan yang dibacakan Jaksa Ardito Muardi dijelaskan, rangkaian waktu jelang meninggalnya Mirna.

Awal mula kejadian itu bermula sejak pukul 12.58 WIB. Melalui Grup Whatsapp yang berisi Jessica, Hani, Vera dan Mirna.

Dalam grup itu, Jessica mengabarkan akan mentraktir ketiga temannya. Dia memberitahu akan datang ke Restaurant Olivier terlebih dahulu untuk pesan tempat.

Dalam percakapan (chating) di grup whatsapp Mirna mengatakan tentang kesukaannya terhadap Vietnamesse Ice Coffee (VIC) di Restaurant Olivier. Dari percakapan itu Jessica langsung berinisiatif untuk memesankan VIC untuk Mirna.

Jessica sampai di Restaurant Olivier pada pukul 15.30 WIB. Setelah itu, dia langsung memesan tempat untuk empat orang di area tidak merokok (no smoking area) kepada Aprilia Cindy Cornelia Parimahua, yang bertugas sebagai resepsionis Restaurant Olivier.

Setelah itu, Jessica masuk ke dalam Restaurant Olivier untuk melihat keadaan di dalam Restaurant Olivier itu.

Setelah mengamati keadaan Restaurant Olivier, sebagai persiapan selanjutnya untuk menghilangkan nyawa Korban Mirna, kemudian Terdakwa meninggalkan Restaurant Olivier menuju ke toko Bath And Body Works, Lantai 1, West Mall, Grand Indonesia.

Selanjutnya pada sekira pukul 16.14 WIB, Jessica kembali ke Restaurant Olivier dengan membawa tiga paper bag berisi sabun.

Tuang racun saat...

1 dari 3 halaman

Misteri Meja 54

Dream - Sesampainya di restoran, Jessica diantarkan oleh Cindy ke area tidak merokok (no smoking area). Jessica sengaja memilih meja nomor 54 yang berupa tempat duduk sofa setengah lingkaran yang membelakangi tembok dengan area yang lebih tertutup.

Pemilihan meja itu menimbulkan kecurigaan, sebab terdapat meja 33, 34 dan 35 berupa tempat duduk kursi dengan area terbuka yang masih kosong pada area tidak merokok (no smoking area) itu.

Sesampainya di meja 54, Jessica langsung meletakkan tiga paper bag. Dia kemudian pergi ke bar untuk memesan minuman VIC untuk Mirna dan dua Cocktail yaitu Old Fashion dan Sazerac. Dia membayar lunas pesanan itu.

Sekira pukul 16.24 WIB, Agus Triono selaku penyaji mengantarkan pesanan VIC dan menyajikannya tepat di depan Jessica.

Dalam proses penyajian VIC, dimulai dengan meletakkan gelas jenis tumbler yang berisi susu putih dan es batu, kemudian meletakkan saringan kopi berupa cangkir Hario F-60 yang berisi kopi di atas gelas tumbler. Lalu diseduh dengan air panas sehingga cairan kopi menetes ke dalam gelas.

Kemudian Agus Triono meletakkan tisu di samping gelas tumbler dan meletakkan sedotan yang ujungnya masih terbungkus kertas di atas tisu.

Setelah Agus Triono selesai menyajikan VIC kemudian Jessica memasukkan sedotan ke dalam gelas berisi VIC. Tidak lama kemudian seorang penyaji bernama Marlon Alex Napitupulu mengantarkan 2 minuman cokmil Old Fashion dan Sazerac. Dalam catatan JPU, saat itu terlihat oleh Marlon, sedotan sudah berada di dalam gelas berisi VIC.

Setelah Marlon meninggalkan meja 54 sekira pukul 16.28 WIB, barulah Jessiva berpindah posisi duduk ke tengah sofa. Jessica meletakkan gelas berisi VIC di sebelah kanannya kemudian menyusun 3 (tiga) paper bag di alas meja.

Kemudian setelah tiga paper bag tersusun, dalam rentang waktu pukul 16.30 WIB sampai pukul 16.45 WIB, Jessica memasukkan racun natrium sianida (NaCN) ke dalam gelas berisi minuman VIC yang disajikan untuk Korban Mirna.

Setelah Jesica selesai memasukkan racun natrium sianida ke dalam gelas VIC dan meletakkannya di tengah meja 54. Jessica memindahkan tia buah paper bag ke belakang sofa kemudian Terdakwa kembali duduk ke posisi semula.

Barulah setelah itu..

2 dari 3 halaman

'Ya Ampun untuk Apa Pesan Dulu'

Dream - Pada pukul 17.18 WIB, Mirna dan Hani datang ke Restaurant Olivier. Mereka kemudian menghampiri Jessica yang sudah menunggu di meja 54.

Mirna duduk di tengah sofa tepat di depan gelas berisi VIC yang sudah dimasukkan racun natrium sianida. Mirna sempat bertanya kepada Jessica.

" Ini minuman siapa?” Jessica pun menjawab, " Ini buat lu Mir, kan lu bilang mau.”

Mirna mengatakan ”Oh, ya ampun untuk apa pesen dulu, maksud gue nanti aja pesennya, pas gue datang... thank you udah dipesenin."

Hani yang berada di samping kanan Mirna melihat warma VIC itu agak kekuningan.

Setelah meminum VIC dimaksud, Mirna bereaksi dengan mengatakan, ”Nggak enak banget, this is awful."

Bereaksi..

 

3 dari 3 halaman

Tolak Cicipi Kopi

Dream - Dia kemudian mengibas-ibaskan tangan di depan mulutnya akibat timbulnya rasa panas yang menyengat. Terungkap Mirna sempat menyodorkan VIC itu kepada Jessica, namun ditolak.

Melihat kondisi itu Hani justru berinisiatif mencium dan mencicipi VIC yang telah dimasukkan natrium sianida. Dia merasakan pahit dan panas di lidah.

Dua menit kemudian, akibat meminum VIC yang telah dimasukkan racun natrium sianida, Mirna langsung pingsan dalam keadaan duduk dengan posisi kepala tersandar ke arah belakang sofa, dengan keadaan mulut mengeluarkan buih. Pandangan mata kosong serta kejang kejang.

Melihat kondisi Mirna, Hani berusaha untuk membangunkan dan memanggil-manggil nama Mirna, sementara Jessica hanya duduk terdiam tanpa bereaksi dan tidak melakukan tindakan serupa seperti yang dilakukan Hani.

Dengan dibantu seorang karyawan Olivier, Ileng, Mirna dibawa menggunakan kursi roda ke Klinik Damayanti cabang Grand Indonesia, Jakarta Pusat.

Sesampainya di Klinik tersebut sekira pukul 17.30 WIB, dr. Andry Yosua melihat kondisi Mirna seperti orang pingsan dan kaku. Selang lima menit kemudian, suami Mirna, Arief datang dan langsung membawa korban ke RS. Abdi Waluyo, Menteng, Iakarta Pusat.

Setibanya di RS. Abdi Waluyo sekira pukul 18.00 WIB, dr. Adiyanto selaku dokter di RS. Abdi Waluyo, memeriksa kondisi Korban Mirna yang sudah dalam kondisi nadi tidak teraba, napas tidak ada dan denyut jantung tidak ada.

Selanjutnya dr. Adiyanto tetap melakukan tindakan medis kepada Mirna berupa bantuan napas dan resusitasi (pompa jantung-paru) selama kurang lebih 15 menit.

Tetapi, usaha bantuan tersebut tidak ada hasilnya. Mirna dinyatakan meninggal pada pukul 18.30 WIB sebagaimana Surat Rumah Sakit Abdi Waluyo nomor 004/ DIR/ RSAW/ I/ 2016 tanggal 11 Januari 2016, yang berisi Resume Medis atas nama Wayan Mirna Salihin. (Ism) 

Beri Komentar