MUI: Uji Halal dan Haram, Serahkan ke Kami

Reporter : Maulana Kautsar
Minggu, 29 November 2015 15:01
MUI: Uji Halal dan Haram, Serahkan ke Kami
Menurut Lukman, hasil uji laboratorium yang dilakukan LPPOM MUI memiliki tingkat keakurasian lebih tinggi dibanding hasil uji cepat Tim DPKP.

Dream - Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta semua pihak tidak buru-buru menjadikan hasil Uji Cepat, sebagai kesimpulan akhir untuk setiap pengujian produk. Hasil tersebut harus dilanjutkan dengan pengujian laboratorium oleh tim LPPOM MUI.

Hal ini berangkat dari kasus pengujian bahan pangan berupa bumbu yang digunakan restoran Solaria Balikpapan, Kalimantan Timur yang diduga mengandung unsur babi.

Atas kasus ini, setiap Pemda diminta agar menyerahkan persoalan pengambilan kesimpulan atas hasil uji akhir kepada LPPOM MUI.

" Untuk persoalan pengujian halal dan haram dimohon untuk menyerahkan kepada kami, LPPOM MUI, yang sudah berpengalaman," ujar Direktur LPPOM MUI Lukmanul Hakim usai menggelar konferensi pers hasil uji laboratorium terkait bumbu Solaria di Kantor MUI Pusat, Jumat lalu. 

Menurut Lukman, hasil uji laboratorium yang dilakukan LPPOM MUI memiliki tingkat keakurasian lebih tinggi dibanding hasil uji cepat Tim DPKP. Sebab, Lukman beralasan, uji laboratorium yang dilakukan LPPOM MUI menyisir struktur paling kecil yaitu DNA.

" Kami bertanggung jawab dan percaya diri atas hasil uji DNA dengan PCR (Polymerase Chain Reaction) yang menghasilkan tidak ditemukannya DNA babi. Uji laboratorium kami memiliki tingkat ketelitian lebih tinggi," kata dia.

Untuk membuktikan tingkat ketelitian itu, Lukman membandingkan durasi metode masing-masing penelitian. Menurut dia, hasil tes cepat biasanya hanya memakan waktu 15 menit. Sementara PCR DNA perlu waktu hingga 7 jam.

" Bahkan di beberapa laboratorium butuh waktu hingga 10 jam. Biaya yang dibutuhkan untuk satu sampel saja mencapai Rp 12 juta," terang dia. (Ism) 

Beri Komentar