Memburu Bjorka, Menguak Masa Lalu Sang Peretas

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 26 September 2022 20:46
Memburu Bjorka, Menguak Masa Lalu Sang Peretas
Ia mengaku anak angkat eksil Indonesia di Warsawa.

Dream – Wajah dengan topeng dan berbagai riasan warna menyolok itu kini tengah menjadi wajah paling terkenal di Indonesia. Ya, itulah wajah profil peretas atau hacker yang kini tengah membuat pusing pemerintah Indonesia: Bjorka.

Wajah profil itu selalu dipakai peretas Bjorka ini di akun Twitter yang dia buat maupun di Grup Telegram Bjorkaism yang masih dia pegang sampai sekarang. Dari pengamatan Dream.co.id, dari di tiga akun Twitter yang sempat dibuat Bjorka sebelum dibekukan oleh Twitter, dia selalu konsisten mengikuti satu akun. Akun yang diikuti Bjorka itu adalah akun penyanyi asal Islandia, Bjork.

Bjorka agaknya memang pengagum Bjork yang kini berumur 56 tahun itu. Penyanyi wanita kelahiran 21 November 1965 ini dikenal dengan mononimnya. Ia juga terkenal sebagai seorang penyanyi, penulis lagu, komposer, produser rekaman, dan aktris.   

Penyanyi Bjork juga sempat menjadi sorotan ketika tampil dengan wajah penuh riasan dan topeng sepertti yang digunakan sebagai profil peretas Bjorka dalam album keluaran tahun 2017 berjudul “ Utopia.”

Terkenal karena jangkauan vokal tiga oktaf dan kepribadiannya yang eksentrik, penyanyi Bjork telah mengembangkan gaya musik eklektik selama empat dekade karirnya dengan menggunakan musik elektronik, pop, eksperimental, trip hop, klasik, dan avant-garde.

Adalah Hungry, penata rias Björk, seorang Jerman yang belajar desain fesyen di Berlin dan sempat magang di Vivienne Westwood di London, orang  yang berada di balik otak penampilan Bjork itu. Banyak orang menyebut seni Hungry sebagai " distorted drag.” Hungry sendiri menganggap dirinya seorang pearlographer.

Visi surealis Hungry digunakan untuk sampul album baru Bjork, “ Utopia,” di mana wajah sang penyanyi " dicat dan diberi mutiara" dengan cara kripto-kosmik yang menakutkan. Sementara itu, pembuat topeng Bjork, James Merry menciptakan alat silikon yang meniru model anggrek. Bersama-sama, mereka bedua menjaga penampilan Björk dengan sangat indah.

Penyanyi Bjork dalam album© Twitter

(Penyanyi Bjork dalam album " Utopia" /Twitter)

Tapi, jangan tertipu dengan penampilan foto profil sang peretas Bjorka yang mengambil rias wajah Bjork sebagai profilnya. Sebab, Bjorka boleh dibilang peretas paling merepotkan pemerintah Indonesia saat ini.

Pada akhir Agustus, Bjorka memulai peterasannya dengan mencuri data Indihome dari Telkom. Sebanyak 26 juta data penjelajahan internet atau browsing history yang dia curi dibocorkan berikut dengan nama dan NIK pelanggan di situs breached.to, sebuah forum jual beli data ilegal.

Kemudian, Bjorka melanjutkan aksinya dengan menjual 1,3 miliar data registrasi SIM card yang di dalamnya terdapat data seperti NIK, nomor telepon, operator telekomunikasi dan tanggal pendaftaran.

Data tersebut tersimpan sebanyak 87 GB dan disebutkan berasal dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Sebanyak 2 juta data dijadikan contoh gratis sebagai barang bukti ia berhasil menembus Kominfo.

Kemudian, sasaran Bjorka selanjutnya adalah 105 juta data penduduk Indonesia yang  berasal dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Yang terbaru, Bjorka juga membocorkan ribuan dokumen surat menyurat dari Badan Intelejen Negara (BIN) yang ditujukan pada Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

Data tersebut adalah dokumen pada periode 2019-2021. " Termasuk kumpulan surat yang dikirim oleh Badan Intelijen Negara yang diberi label rahasia," tulis akun Bjorka dalam situs tersebut.

Bjorka mengklaim telah mengantongi 679.180 dokumen berukuran 40 MB dalam kondisi terkompres dan 189 belum dikompres. Beberapa contoh dokumen yang dibocorkan juga ikut dipublikasikan oleh Bjorka dalam situs breached.to.

Bjorka juga rajin melakukan doxing atau mengungkap data pribadi ke publik terhadap sejumlah pejabat Indonesia melalui saluran Telegramnya.

Pejabat publik yang menjadi korbannya adalah Menkominfo Johnny G. Plate, Ketua DPR Puan Maharani, Menteri BUMN Erick Thohir, Dirjen Aptika Kementerian Kominfo Samuel Abrijani Pangerapan, Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Mendagri Tito Karnavian, dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Yang terakhir data yang dia bocorkan adalah data pribadi Menko Bidang Politik Hukum dan HAM Mahfud MD dan nomer Wakil Ketua DPR dari PKB Muhaimin Iskandar.

Data pribadi yang disebar Bjorka itu antara lain Nomor Induk Kependudukan (NIK), nama lengkap, nomor ponsel, nomor Kartu Keluarga, alamat rumah, pendidikan,  nama orang tua, hingga riwayat vaksinasi.

Pada 12 September 2022 di akun Twitter terbarunya @bjorxanism,  Bjorka menulis: “ Ya ini hari terbalik. Sebelumnya hanya informasi identitas pribadi warga negara indonesia yang bocor, sekarang para pemimpin juga dapat merasakannya. Sangat menyenangkan bukan?”

Ia melanjutkan: “ Misi saya hanya untuk membantu siapa saja yang membutuhkan bantuan. Termasuk membantu warga negara indonesia yang ingin menghubungi dan bertanya kepada pimpinannya. Setidaknya mereka merasakan bagaimana rasanya menerima spam.”

Ulah Bjorka tentu membuat pemerintah Indonesia geram. Namun tak sedikit warganet yang kini balik mendukung aksinya menguliti para pejabat. Nama Bjorka pun jadi trending topic di Twitter selama empat hari bertutur-turut!

Lalu, apa motif Bjorka menyerang Indonesia?

***

Dalam sebuah utas panjang yang diunggah Bjokra di akun Twitter pertamanya, @bjorkanism, dia sempat mengurai cukup panjang tentang alasannya meretas data pemerintah Indonesia.

Di akun Twitter pertamanya ini dia mengunggah alasannya melakukan peretasan. Akun ini memang terbilang baru karena baru bergabung pada bulan September, di mana dia baru mulai men-tweet sejak 9 September 2022. Kendati begitu, sudah lebih dari 230 ribu followers yang mengikuti akun tersebut.

Ia menulis tanggal 11 September 2022: “ Negara ini sudah terlalu lama dijalankan secara sewenang-wenang dan tanpa perlawanan. Mereka yang mengkritik secara permanen dibungkam dengan cara yang salah. Berbagai cara telah dilakukan, termasuk cara yang benar. Apakah itu berhasil? Jadi saya memilih menjadi martir untuk membuat perubahan dengan menampar wajah mereka.”

Bjorka© Twitter

(Bjorka/Twitter)

Di Twitternya itu, dia juga menyantumkan alamat email-nya dan tempat tinggalnya di ibukota Polandia, Warsawa.

Bjorka kemudian melanjutkan utasnya: “ Ini adalah era baru untuk menunjukkan secara berbeda. Tidak ada yang akan berubah jika orang bodoh masih diberi kekuatan yang sangat besar. Pemimpin tertinggi dalam teknologi harus ditugaskan kepada seseorang yang mengerti, bukan politisi dan bukan seseorang dari angkatan bersenjata. Karena mereka hanyalah orang-orang bodoh.”

Ia kemudian menulis: “ Saya hanya ingin menunjukkan betapa mudahnya bagi saya untuk masuk ke berbagai pintu karena kebijakan perlindungan data yang buruk. Apalagi jika dikelola oleh pemerintah. Saya punya teman orang Indonesia yang baik di Warsawa, dan dia bercerita banyak tentang betapa kacaunya Indonesia. Saya melakukan ini untuknya.”

“ Tahun lalu dia baru saja meninggal. Orang tua ini telah merawat saya sejak saya lahir. Dia ingin kembali dan melakukan sesuatu dengan teknologi meskipun dia melihat betapa sedihnya menjadi seorang BJ Habibie. Dia tidak punya waktu untuk melakukannya sampai akhirnya dia meninggal dengan tenang,” tulisnya.

Ia kemudian memperingatkan: ”Ya jangan coba lacak dia di Kementerian Luar Negeri. Karena Anda tidak akan menemukan apa pun. Dia tidak lagi diakui oleh indonesia sebagai warga negara karena kebijakan 1965. Meskipun dia adalah orang tua yang sangat pintar.”

“ Tampaknya rumit untuk melanjutkan mimpinya dengan cara yang benar, jadi saya lebih suka melakukannya dengan cara ini. Kita memiliki tujuan yang sama, agar negara tempat ia dilahirkan bisa berubah menjadi lebih baik. Senang bertemu kalian,” ujarnya ke netizen Indonesia.

Dengan kata lain, dia mengaku sebagai anak angkat eksil atau warga Indonesia yang tinggal di Warsawa, Polandia, yang dicabut kewarganegaraan Indonesia-nya saat terjadi perubahan politik di Indonesia dari Orde Lama ke Orde Baru di tahun 1965.

Pada peristiwa tahun 1965-1966 itu, memang banyak mahasiswa Indonesia yang tengah belajar di luar negeri dicabut paspornya oleh pemerintah Indonesia sehingga mereka jadi warga dunia yang tak memiliki kewarganegaraan atau stateless.

Salah satu korbannya adalah Batara Ningrat Simatupang (25 Mei 1932 – 27 Mei 2018). Ia adalah seorang ekonom dan tokoh sosialis Indonesia yang selama hampir setengah abad tinggal di luar negeri karena situasi politik di Indonesia tidak mengizinkannya kembali ke tanah air.

Batara Simatupang dilahirkan sebagai anak ketujuh dari keluarga Simon Simatupang, seorang pegawai pos di Pematangsiantar, dan Mina Sibuea. Dua orang saudara kandungnya yang cukup terkenal adalah Letjen. T.B. Simatupang, seorang tokoh militer dan Gereja, dan Prof. Dr. Tapi Omas Ihromi-Simatupang, seorang antropolog.

Batara belajar HIS di kota kelahirannya, kemudian melanjutkan ke SMA di Jakarta Pusat dan kemudian masuk ke Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE-UI). Di fakultas ini, ia sempat menjadi asisten Prof. Dr. Sadli, yang belakangan menjadi menteri dalam kabinet Orde Baru.

Setelah menyelesaikan studinya di FE-UI, ia dikirim oleh fakultas untuk melanjutkan studinya di Universitas Stanford, di Palo Alto, California, Amerika Serikat dan belajar bersama-sama dengan teman-temannya seperti Emil Salim, Saleh Affif, dll.

Di Stanford, ia bertemu dengan Prof. Paul Barant, seorang tokoh kiri Amerika, yang menjadi sumber inspirasi baginya untuk mempelajari sosialisme, model pembangunan sosialis, dan sistem sosialisme.

Batara hanya tinggal selama dua tahun di Stanford, karena pimpinan FE-UI kemudian memintanya mempelajari dan meneliti sistem ekonomi sosialis di Beograd, Yugoslavia. Karena itu pada 1961 ia pindah dan tinggal di Beograd selama dua tahun hingga 1963.

Pada tahun 1963-1964, Batara pindah lagi ke Warsawa, Polandia untuk belajar di program Kursus Lanjutan dalam Program Perencanaan Ekonomi Nasional di negara tersebut.

Kota Warsawa, Polandia© National Geographic

(Kota Warsawa, Polandia/National Geographic)

Setelah mengikuti program tersebut, kembali oleh pimpinan FE-UI, ia diminta untuk mengambil program doktor dalam Ilmu Ekonomi Sosialis di Universitas Warsawa.

Tugas ini tak sempat diselesaikannya, karena pada tahun 1966 - tak lama setelah Tragedi G30S, Kedutaan Besar Indonesia di Warsawa atas nama pemerintah Orde Baru menyatakan bahwa Batara tidak mempunyai iktikad baik terhadap Indonesia.

Paspornya dicabut, sehingga ia pun kehilangan kewarganegaraan Indonesianya. Batara Simatupang tak sendiri. Saat itu ada 11 mahasiswa Indonesia lainnya yang tengah belajar di Warsawa, Polandia, yang dicabut paspornya oleh pemerintah Indonesia. Mereka pun kemudian menjadi warga dunia tanpa  kewarganegaraan atau stateless.

Batara lalu mengajukan permohonan suaka kepada pemerintah Polandia, dan ia diizinkan tinggal di negara itu hingga tahun 1969.

Pada tahun 1970, Batara pindah ke Jerman Barat, meminta suaka dari negara itu, dan tinggal di Mainz. Ia tinggal di negara itu hingga tahun 1977 dan hidup sebagai buruh kasar hanya sekadar untuk bertahan hidup. Kadang-kadang ia bekerja di pabrik cat, sambil mengambil kuliah di Universitas Mainz.

Pada 1978 ia pindah ke Belanda, memperoleh beasiswa dari Universitas Vrije di Amsterdam dan selama dua tahun hingga 1979 ia melakukan penelitian tentang sejarah perekonomian Indonesia. Pada 1980 ia bekerja sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Amsterdam, dengan spesialisasi sistem ekonomi sosialis Eropa Tengah dan Timur.

Ia banyak menulis mengenai ekonomi sosialis negara-negara Eropa Timur di berbagai jurnal ilmiah Belanda dan internasional. Ia juga sering menjadi pembicara di berbagai seminar dan diundang sebagai pembahas masalah ekonomi di Radio Hilversum.

Batara Simatupang dan istri© Ist

(Batara Simatupang dan istri)

Bulan Februari 1992, ia memperoleh gelar Ph.D. atau Doktor dalam ilmu ekonomi setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul " The Polish Economic Crisis 1979-1982," atau “ Krisis Ekonomi Polandia 1979-1982” di Universitas Amsterdam.

Sejak Mei 1995 Batara diangkat menjadi peneliti tamu di FE Universitas Amsterdam. Ketika ia berusia 65 tahun, pada 1997, ia pun pensiun.

Pada tahun 1985, setelah hampir selama 15 tahun tanpa kewarganegaraan, Batara resmi menjadi warga negara Belanda. Meskipun demikian, pemerintah Orde Baru tetap tidak mengizinkannya masuk ke Indonesia, sehingga ketika ibunya meninggal dunia pada 1986 di Porsea, Sumatera Utara, ia tidak dapat menghadiri pemakamannya.

Meskipun demikian, Batara masih sempat bertemu dengan ibunya ketika pada 1974 ibunya terbang ke Singapura dan menemui anak ketujuhnya di negara itu. Baru setelah rezim Orde Baru tumbang, Batara dapat kembali ke Indonesia.

Pada bulan Juni 2018, Batara  meninggal dunia karena sakit di Belanda, dalam usia 86 tahun. Batara memang warganegara Belanda sejak Maret 1984.

Sayangnya saat Dream.co.id mengirim surat melalui email ke Bjorka, dia memilih bungkam. Padahal suratnya masuk dan diterima Bjorka. Tapi dia tak menjawab apakah dia kenal dengan Batara Simatupang atau 11 mahasiswa Indonesia yang ada di Warsawa, Polandia, lainnya yang dicabut paspornya di Indonesia pada tahun 1965.

***

Sikap diam Bjorka pada wartawan membuat misteri ini tak terpecahkan.

Bjorka juga tak menjawab saat ditanya Dream.co.id, mengapa bila dia tinggal di Warsawa, Polandia, seperti yang dia akui di Twitter dan Grup Telegram, namun alamat email-nya justru berakhiran .ai.

Ai adalah nama lain dari Anguilla, Wilayah Seberang Laut Inggris di Karibia Timur, terdiri dari sebuah pulau utama kecil dan beberapa pulau lepas pantai.

Anguila© Forbes

(Negara Anguila/Forbes)

Kode .ai adalah top-level domain kode negara Internet (ccTLD) untuk Anguilla, Wilayah Luar Negeri Inggris di Karibia. Domain ini dikelola oleh pemerintah Anguilla.

Domain .ai dapat ditangguhkan atau dicabut, jika domain tersebut didasarkan pada beberapa aktivitas ilegal, seperti melanggar merek dagang atau hak cipta. Penggunaannya tidak boleh melanggar hukum Anguilla.

Harga domain .ai adalah U$ 100 atau Rp 1,4 juta untuk setiap periode dua tahun. Mulai November 2021, registry " .ai" mendukung Extensible Provisioning Protocol. Akibatnya, banyak pendaftar diizinkan untuk menjual domain " .ai" .

Biaya pendaftaran yang diperoleh dari domain .ai masuk ke kas Pemerintah Anguilla. Sesuai laporan New York Times, pada tahun 2018, total pendapatan yang dihasilkan dari penjualan domain .ai adalah U$ 2,9 juta atau Rp 43 miliar.

Pantai Anguila sendiri berkisar dari bentangan pasir panjang seperti Teluk Rendezvous, yang menghadap ke pulau Saint Martin yang berdekatan, hingga teluk-teluk kecil terpencil yang dicapai dengan perahu, seperti di Little Bay. Kawasan lindung termasuk Gua Mata Air Besar, yang terkenal dengan petroglif prasejarahnya, dan East End Pond, situs konservasi satwa liar.

Lewat narasinya, Bjorka memang telah mengembalikan kenangan bangsa Indonesia pada perubahan politik pahit di tahun 1965. Saat ratusan warga negara Indonesia kehilangan kewarganegaraannya dan terkatung-katung di negeri asing akibat kebijakan politik Orde Baru. Sayangnya, Bjorka tak mau menjawab pertanyaan yang diajukan Dream.co.id untuk mengkonfirmasi ceritanya. Ia lebih memilih untuk bungkam. (eha)

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More