Miliarder Habis Rp141 M Buru Alien di 1.300 Bintang, Hasilnya?

Reporter : Maulana Kautsar
Senin, 24 Juni 2019 07:00
Miliarder Habis Rp141 M Buru Alien di 1.300 Bintang, Hasilnya?
Tidak ada yang mencolok.

Dream - Keberadaan alien masih menjadi misteri bagi umat manusia. Pencarian alien dilakukan dengan menghabiskan dana yang banyak.

Seorang miliarder asal Israel-Rusia, Yuri Milner, turut mendanai program pencarian untuk membuktikan keberadaan alien. Selama 10 tahun pencarian, Yuri menghabiskan dana sebesar US$10 juta sekitar Rp141 miliar di bawah organisasi Breakthrough Listen.

Pencarian dilakukan menggunakan program Search for Extraterrestrial Intelliggence (SETI). Dalam pencariannya, SETI menyurvei sebanyak 1.327 bintang terdekat.

" Jelas tidak ada yang mencolok di sana," kata Danny Price, seorang ahli astrofisika di University of California, Berkeley, penulis di jurnal The Astrophysical Journal.

" Tidak ada peradaban yang luar biasa maju yang mencoba menghubungi kami dengan pemancar yang sangat kuat," ujar Danny, kepada Live Science.

Danny mengatakan, tim mungkin tidak menemukan apa pun kali ini. Tapi, Price mengatakan, mungkin ada banyak penjelasan tentang kurangnya sinyal yang dipancarkan.

1 dari 8 halaman

Belum Bertemu

Dia mengatakan, dia menduga, pencarian dilakukan pada frekuensi yang salah atau sinyal itu terganggu radio dari Bumi.

" Dalam banyak hal, SETI merupakan cerminan pada diri kita dan teknologi kita sendiri dan pemahaman kita tentang fisika," kata Price.

Inisiatif pencarian alien dimulai pada 2015. Pencarian bergantung pada dua teleskop paling kuat di dunia.

 

2 dari 8 halaman

Publikasi Terbesar

Dua teleskop yang digunakan yaitu, teleskop Robert C Byrd Green Bank yang berdiameter 100 meter di Virginia Barat dan teleskop Parkes Telescope di New South Wales, Australia yang berdiameter 64 meter.

Dalam rilis data terbaru mereka, para peneliti menganalisis 1 juta gigabyte data di radio dan panjang gelombang optik. Penelitian itu untuk melihat lebih dari seribu bintang dalam 160 tahun cahaya Bumi.

Seluruh katalog informasi raksasa akan tersedia untuk umum di Breakthrough's Open Data Archive. Data itu menjadikan menjadikannya publikasi terbesar data SETI.

3 dari 8 halaman

Rusia Berambisi Punya Bayi yang Lahir di Luar Angkasa

Dream - Rusia ingin mendobrak ilmu pengetahuan. Kepala Laboratorium Biofisika Sel dari Institute of Medical and Biological Problems of Russian Academy of Science, Irina Ogneva membeberkan tujuan dari rencana `aneh` tersebut.

" Kami selalu menjadi yang pertama di luar angkasa, dan ingin manusia pertama yang lahir di luar angkasa menjadi warga negara Rusia," kata Irina dikutip dari Daily Star, Kamis, 20 Juni 2019.

Tetapi, dia mengakui, sejauh ini kosmonot Rusia telah menolak untuk menyumbangkan sperma yang diperoleh di ruang untuk studi ilmiah. Dia menyebut, upaya penelitian bukan hanya sebatas keinginan patriotik semata.

“ Yang paling penting bukanlah fakta (bagi bayi) untuk dilahirkan, tetapi (bayi yang) dilahirkan sehat," ucap dia.

 

4 dari 8 halaman

Kekurangan Sampel

Irina menyebut, tujuan melahirkan anak di luar angkasa masih terlampau prematur. Tapi, dia mengatakan, kelahiran mamalia di ruang angkasa masih memungkinkan terjadi.

“ Tapi, dari sudut pandang moral dan etika, ini adalah percobaan, dan percobaan dengan embrio manusia," ujar dia.

Karena kurangnya sampel sperma dari luar angkasa, Irina mengakui angkasawan Rusia di Stasiun Luar Angkasa Internasional telah menolak untuk bekerja sama.

“ Kami terus mengalami hambatan moral, psikologis, dan etika," kata dia.

5 dari 8 halaman

Fenomena Bulan Makin Menyusut Kejutkan Dunia Sains

Dream - Sebuah fenomena langit yang cukup mengkhawatirkan terkait dengan Bulan menjadi perbincangan hangat para ilmuwan dalam beberapa waktu belakangan ini.

Menurut sebuah studi penelitian baru, Bulan kemungkinan akan terus menyusut akibat sering mengalami apa yang disebut dengan moonquake atau gempa Bulan.

Bulan disebut telah mengalami gempa sebanyak 28 kali sejak tahun 1969 hingga 1977. Dan para ilmuwan telah menganalisis gempa Bulan tersebut.

Hasil analisis ilmuwan tentang gempa Bulan tersebut ternyata sangat mengejutkan. Karena ada kemungkinan terdapat aktivitas tektonik di Bulan.

6 dari 8 halaman

Ada Pergeseran Lempeng di Bulan

Menurut profesor geologi UniversityofMaryland, Nicholas Schmerr, dari 28 gempa Bulan, delapan di antaranya berasal dari 'aktivitas tektonik asli'. Artinya, ada pergeseran lempeng kerak di Bulan.

Jadi, gempa di Bulan terjadi bukan karena adanya benturan dengan asteroid atau runtuhan di bagian dalam satelit Bumi tersebut.

Fenomena Bulan

Profesor Nicholas mengungkapkan bahwa sejumlah gempa yang terekam dalam data Apollo terjadi mirip dengan sesar yang terlihat dalam misi LRO (Lunar ReconnaissanceOrbiter) NASA.

" Sangat mungkin bahwa sesar itu masih aktif hingga hari ini. Anda mungkin tidak pernah mendengar aktivitas tektonik di mana pun kecuali di Bumi. Jadi, sangat menarik bahwa sesar itu masih menghasilkan gempa Bulan," kata Profesor Nicholas.

7 dari 8 halaman

Setara Gempa Bumi Pada 5 Skala Magnitudo Momen

Gempa Bulan direkam oleh lima seismometer yang ditempatkan di permukaan Bulan selama misi Apollo 11, 12, 14, 15 dan 16. Jika di Bumi, gempa Bulan yang tercatat berada dalam kisaran antara 2 dan 5 pada skala Magnitudo Momen.

Thomas Watters, kepala penelitian, mengatakan kemungkinan delapan gempa ini dihasilkan oleh pergeseran sesar. Karena adanya tekanan yang meningkat ketika kerak Bulan dikompresi oleh kontraksi global dan kekuatan pasang surut.

Bulan

" Ini menunjukkan Bulan mengalami penyusutan, dan seismometer Apollo memperlihatkan Bulan masih aktif secara tektonik," kata Thomas.

NASA pertama kali menemukan Bulan menyusut pada tahun 2010 ketika menganalisis citra dari LRO. Mereka menemukan bahwa Bulan 'layu seperti kismis ketika bagian dalamnya mendingin, menghasilkan ribuan tebing yang disebut thrustfaults (dorongan sesar pada permukaan Bulan)'.

Kemudian ketika dibandingkan dengan data dari tahun 60-an dan 70-an dengan data tahun 2010, tercipta algoritma baru untuk lebih memahami dari mana datangnya gempa Bulan tersebut.

8 dari 8 halaman

Bulan Aktif Secara Tektonik Selama 4,5 Miliar Tahun

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah NatureGeoscience itu, Bulan dianggap aktif secara tektonik sekitar 4,5 miliar tahun.

" Kami menyimpulkan bahwa hubungan dekat gempa bulan dengan thrustfaults muda, bersama dengan bukti gangguan regolith dan gerakan batu besar di dalam dan di dekat tebing sesar menunjukkan Bulan aktif secara tektonik," bunyi abstrak penelitian tersebut.

Bulan

Profesor Nicholas menambahkan temuan yang menarik ini menjadi dasar bagi manusia untuk menginjakkan kaki sekali lagi di Bulan.
" Kami belajar banyak dari misi Apollo, tetapi kami hanya mengenal permukaannya saja," pungkasnya.

(Sah, Sumber: FoxNews.com)

Beri Komentar