Niat Mulia di Balik Arisan Jamban di Nunukan

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Kamis, 17 November 2016 10:43
Niat Mulia di Balik Arisan Jamban di Nunukan
Arisan unik ini ditemui di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Dream – Jika mendengar kata “ arisan”, kata yang langsung terlintas di pikiran adalah kaum hawa, uang, dan perkumpulan. Dan barang yang lazim digunakan untuk arisan adalah uang.

Tapi, ada yang unik di dalam arisan di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Mereka membuat arisan jamban.

Dilansir dari menpan.go.id, Kamis 17 November 2016, Sistem arisan yang unik ini—Sistem Arisan Jamban Keluarga (SiArja) merupakan inovasi yang diinisiasi oleh Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan, Ramsidah.

Inovasi binaan Lembaga Administrasi Negara (LAN) melalui laboratorium inovasi, menyabet juara inovasi pelayanan publik se-Kalimantan.

“ Inovasi ini sederhana, tetapi hasilnya sangat bagus karena berkelanjutan dan mampu menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi, terutama dunia usaha melalui CSR,” kata Deputi Inovasi Lembaga Administrasi Negara, Tri Widodo.

Apa itu sistem arisan jamban?

1 dari 2 halaman

Arisan Jamban Itu

Ramsidah mengatakan SiArja ini adalah sistem pembuatan jamban di setiap rumah dengan dana arisan warga. Dengan dana arisan ini, Ramsidah meminta warga bergotong-royong membuat jamban sederhana dari ban bekas, ijuk, kerikil, dan kaporit.

Ban bekas digunakan karena di sana banyak ban yang sudah tidak bermanfaat dan bisa menjadi sarang nyamuk.

Ban bekas dari motor dan mobil ini disusun dalam lubang berukuran 2x2 meter dan di sampingnya diberi ijuk, pasir, dan kerikil untuk mencegah pencemaran lingkungan. Kemudian, diberi kapur dan kaporit sehingga kotoran bisa diuraikan. Lalu, lubang itu dicor dengan semen dan ditutup kayu atau bambu.

Usaha Ramsidah tidak sia-sia. Inovasinya menunjukkan hasil yang baik.

“ Hasil klinisnya bagus,” kata dia.

2 dari 2 halaman

Ini Niat Tulus Ramsidah

Ramsidah mengatakan inovasi ini berawal dari situasi masyarakat Nunukan. Dikatakan bahwa pada tahun 2014 hanya ada 30 persen warga yang memiliki jamban keluarga. Kondisi ini membuat Ramsidah merasa miris. Padahal, Dinas Kesehatan Nunukan selalu mensosialisasikan betapa pentingnya hidup sehat.

Ramsidah menambahkan warga yang memiliki rumah bagus pun tidak punya jamban. Kalaupun ada, pembuangannya langsung ke saluran pembuangan air limbah sehingga menimbulkan pencemaran air.

“ Saat mengikuti Diklat PIM yang mengharuskan peserta membuat proyek perubahan, saya berpikir untuk membuat sebuah inovasi dengan bahan-bahan yang sangat sederhana,” kata dia.

Sejak tahun 2014, sudah ada 1000 jamban yang telah dibangun.(Sah)

Beri Komentar