Salwa (Radio ABC Australia)
Dream - Mimpi. Itulah salah satu kekuatan yang dimiliki Salwa. Perempuan berhijab itu tak pernah berputus asa mengejar mimpi kuliah strata dua alias S2 di negeri Kanguru, Australia.
Lulusan program Bahasa Inggris Universitas Negeri Malang ini semula ragu saat hendak mendaftar beasiswa. Padahal, dia sudah menjadi dosen tetap di Universitas Kanjuruhan Malang dan juga mengajar di Universitas Islam Negeri Malang.
Namun dia agak keder untuk mendaftar sebagai calon penerima beasiswa, mengingat statusnya masih sebagai pekerja honorer. Sudah begitu, usianya sudah kepala tiga. " Apalagi akan banyak pendaftar yang tentu lebih hebat. Pikiran-pikiran itu terus ada di kepala," kata Salwa dikutip Dream dari laman Radio ABC Australia, Jumat 14 Agustus 2014.
Namun, perempuan yang karib disapa Wawa ini ingat kata-kata sang suami yang berpesan agar dirinya tidak patah arang, sehingga mimpi hidupnya tidak " dicuri" oleh orang lain. Ditambah lagi teman-teman di sekelilingnya merupakan " pejuang beasiswa" yang gigih. " Akhirnya, dengan dukungan orang-orang terdekat terutama keluarga, membuat saya berani mendaftarkan diri," kata dia.

Setelah melewati beberapa tahapan, akhirnya dia masuk daftar calon penerima beasiswa yang lulus. Dia sadar apa yang dia raih itu tidaklah mudah. Dia selalu teringat nasihat motivator, Andre Wongso, yang mengatakan hidup akan lunak jika kita keras pada hidup. " Kata-kata motivasi dari Andre Wongso itu melecut semangatku untuk terus berusaha," ujar Wawa.
Perjuangannya mulai berbuah. Dia kini tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi tes IELTS dan wawancara. Latihan-latihan soal terus dia geber tanpa mengenal lelah. Tak hanya soal untuk IELTS, Wawa juga tak lupa mengenal budaya dan wilayah Australia lewat peta.
" Saya juga memasang peta Australia di tembok kamar. Itu saya sebut sebagai peta mimpi, kutulis di peta itu, 'Kuliah S2 di Australia'. Itu saya lakukan untuk menvisualisasikan mimpi-mimpi. Sehingga semakin merasa dekat dan terus memberi autosugesti yang kuat dalam diri saya," tutur dia.
Namun, Wawa juga tak lupa menyiapkan mental. Sebab, menurut dia, kesiapan sukses juga harus imbang dengan kesiapan untuk 'menang' dalam kegagalan. " Lalu tibalah saat pengumuman. Alhamdulillah, mimpi ini menjadi nyata," ucap Wawa.
Dia membagi tips bagaimana cara untuk lulus di tahap wawancara. Sebab, pada tahapan inilah yang menjadi penentu berhasil atau tidak bagi penerima beasiswa, terutama ADS. Agar tidak grogi, dia punya cara khusus. " Sepuluh menit sebelum dipanggil, saya sempatkan menelpon Ibu dan Ibu mertua untuk memohon doa. Saya sangat yakin, kekuatan doa seorang ibu sangatlah luar biasa."
Berkat doa itulah, Wawa yakin. Sehingga dia bisa tampil dengan percaya diri saat sesi wawancara. " Berbicara tentang kepercayaan diri saat wawancara, buktikan bahwa kita adalah kandidat yang layak terpilih. Tunjukkan kompetensi, prestasi dan pemikiran-pemikiran yang kita miliki," kata Wawa.