Tak Ingin Anak Marah, Kisah Kakek Jalan Jauh ke Klinik Ini Bikin Terenyuh

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 5 November 2019 12:50
Tak Ingin Anak Marah, Kisah Kakek Jalan Jauh ke Klinik Ini Bikin Terenyuh
Dia hidup sendirian, jauh dari anak-anaknya.

Dream - Menjadi tua adalah kepastian. Tetapi, tentu tak ada orang yang ingin menjalani masa tua dengan penderitaan apalagi sampai ditelantarkan oleh anak-anaknya.

Seorang kakek usia 60 tahun asal Malaysia terpaksa berjalan kaki untuk periksa kesehatan. Padahal, rumahnya cukup jauh dari tempat praktik dokter langganannya.

Kisah pilu ini diunggah oleh pemilik akun Twitter @hausofhilton. Akun milik pria berprofesi dokter dan beridentitas Nimelesh ini menceritakan bagaimana situasi yang dialami kakek tersebut.

Pemilik akun sempat bertanya mengapa kakek itu datang terlambat dari jadwal periksa. Padahal, biasanya si kakek tidak pernah terlambat.

 

 

1 dari 5 halaman

Alasan Si Kakek Bikin Terenyuh

" Maaf dokter, tidak ada kendaraan. Jadi saya jalan sendiri hari ini. Tidak sempat menumpang orang," kata kakek itu seperti ditirukan Nimelesh.

" Jauhnya Bapak jalan!!! Mana anak Bapak? Mengapa tidak minta diantarkan anak?" tanya dokter itu.

Jawaban kakek itu membuat sang dokter kaget.

" Maaf, Pak Dokter. Saya tidak punya kendaraan, jadi saya harus jalan kaki. Saya tidak punya orang untuk mengantarkan saya," kata kakek itu.

 

2 dari 5 halaman

Hidup Sendirian Ditinggal Anak-anak

Mendengar jawaban tersebut, dokter pun terus menanyakan anak si kakek. Jawaban yang diberikan semakin membuat perasaan dokter itu hancur.

" Semua anak saya pindah ke Kuala Lumpur. Mereka mengunjungi saya saat liburan," kata kakek itu.

Si kakek juga mengaku kini hidup sendiri. Istrinya sudah meninggal dunia.

" Saya beruntung karena para tetangga selalu menengok saja sekarang dan nanti, jadi saya tidak merasa kesepian," kata dia.

3 dari 5 halaman

Tak Mau Bikin Marah Anak

" Mengapa bapak tidak tinggal saja dengan anak-anak?" kata dokter.

" Mereka tidak pernah mengajak saya untuk tinggal bersama. Saya sudah tua dan sedikit lambat. Jika saya membuat kesalahan, anak-anak saya akan marah. Saya tidak ingin itu terjadi," jawab kakek tersebut.

Kakek itu menangis saat bercerita soal anak-anaknya. Nimelesh juga mengatakan ini bukan kali pertama dia bertemu dengan pasien lansia yang diabaikan anak-anaknya.

Nimelesh mengatakan anak-anak dari para pasien lansia itu ada yang berprofesi dokter, pengacara, juga guru. Tetapi, terlepas dari profesi, tidak berarti mereka bisa mengabaikan orangtuanya.

(Sah, Sumber: World of Buzz)

4 dari 5 halaman

Kisah Pilu, Gadis 27 Tahun Berbobot 21 Kg Urus Adik yang Sakit Mental

Dream - Seberapa kuat Sahabat Dream memikul beban keluarga seandainya hidup tanpa orangtua? Apalagi tinggal hanya berdua dengan adik satu-satunya?

Sebagian besar mungkin akan mengaku tak kuat menanggungnya. Karena hidup ini begitu berat. Apalagi jika tinggal dengan saudara yang sakit mentalnya.

Namun tidak demikian dengan gadis 24 tahun dan adiknya dari China ini. Mereka harus menanggung hidup yang susah setelah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya.

Wu Huayuan masih berusia empat tahun saat ibunya meninggal dunia. Tak lama setelah itu, ayahnya menyusul sang ibu pada tahun 2014 karena penyakit sirosis.

Praktis, Wu harus menanggung beban hidup sendirian bersama adiknya sepeninggal sang ayah. Wu mengandalkan penghasilan 1.290 yuan (Rp2,5 juta) per bulan dari menghemat pengeluarannya.

Wu memilih tidak sarapan. Dia hanya makan roti untuk makan siang dan makan malam. Dia bahkan hanya makan nasi putih dengan saus cabai.

Hal itu dilakukan agar dia hanya menghabiskan 2 yuan (Rp3.900) sehari untuk biaya makan berdua dengan adiknya.

5 dari 5 halaman

Menghemat Demi Biayai Pengobatan Adik

Wu sangat berhemat karena dia harus menabung uang untuk membiayai perawatan adiknya yang menderita penyakit mental.

Perlu diketahui bahwa kerabat Wu juga miskin. Selain itu, meskipun usianya sudah 24 tahun, Wu terlihat seperti anak kecil akibat kekurangan gizi.

Penampilan fisik Wu memang menyedihkan. Dia hanya memiliki berat 21kg dan tinggi 135cm, rambutnya juga rontok dan tidak memiliki alis.

Meski sering jatuh sakit, Wu tak pernah mau membeli obat mahal untuk berobat. Dia hanya membeli obat generik yang murah harganya.

Wu melakukan itu karena lebih mengutamakan perawatan adiknya. Wu ingin mengumpulkan uang hingga mencapai Rp9,9 juta untuk biaya perawatan adiknya.

Untungnya, setelah satu tahun perawatan, penyakit mental adiknya dapat dikendalikan. Meskipun miskin, Wu tidak menyerah pada mimpinya dan sangat ambisius.

Wu berhasil mendapatkan pinjaman mahasiswa untuk belajar di sebuah universitas di Guizhou. Saat ini berada di tahun ketiga di jurusan ekonomi.

Namun, pinjaman mahasiswa tersebut tidak cukup untuk menutupi pengeluarannya. Karena itu dia bekerja serabutan.

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More