Pintu 'Neraka' di Dunia yang Terus Menyala Selama 45 Tahun

Reporter : Sandy Mahaputra
Kamis, 8 Desember 2016 09:01
Pintu 'Neraka' di Dunia yang Terus Menyala Selama 45 Tahun
Penampakannya sangat menyeramkan.

Dream - Sebuah kawah gas alam di Derweze, Turkmenistan terus mengeluarkan api sejak tahun 1971. Karena penampakannya yang menyeramkan, kawah tersebut dijuluki 'pintu neraka'.

Para insinyur Uni Soviet menemukan area tersebut pada tahun 1971. Mereka berpikir telah menemukan sumur minyak. Tapi saat menggali, tanah tiba-tiba runtuh, menciptakan kawah dengan diameter 69 meter dan kedalaman 30 meter!

Lubang tersebut kemudian mulai melepaskan gas metana, gas alam yang sangat mudah terbakar. Khawatir kota-kota terdekat akan terdampak gas beracun, para insinyur 'membakar' gas metana tersebut. Mereka berpikir dengan membakar gas maka akan mematikan sisa-sisa di dalamnya.

Awalnya mereka mengira api yang membakar gas metana akan pada dalam beberapa minggu, tetapi mereka salah. Api tersebut terus berkobar selama lebih dari empat dekade!

(Sumber: Viral4real.com)

1 dari 2 halaman

Ini Orang Pertama yang Masuk `Pintu Neraka`

Ini Orang Pertama yang Masuk `Pintu Neraka` © Dream

Dream - Penjelajah asal Kanada George Kourounis menjadi orang pertama di dunia, yang berani turun ke dalam kawah menyala yang dikenal sebagai 'Pintu Menuju Neraka'.

Disebut demikian karena kawah yang terletak di Turkmenistan tersebut suhunya bisa mencapai 1.000 derajat Celcius.

Dilansir Dream dari Daily Mail, Minggu 10 Mei 2015, menggunakan baju tahan panas menyerupai astronot yang terbuat dari aluminium, Kourounis turun ke kedalaman 100 kaki dan berjalan-jalan di dalamnya.

Di dalam kawah dia mengumpulkan sampel batuan yang belakangan diketahui terdapat bakteri.

Kawah dengan panas luar biasa yang punya nama resmi The Darvaza Crater ini terus menyala dan tidak pernah padam selama lebih dari 40 tahun.

Kawah ini tetap menyala hingga kini karena kecelakaan pengeboran oleh insinyur Soviet sehingga mereka terpaksa membakar kelebihan gas yang keluar dari kawah tersebut.

Kourounis merasa tertantang untuk 'menaklukkan' kawah neraka ini setelah mendengar Pemerintah Turkmenistan berencana memadamkannya.

Ia berada dalam kawah sekitar 15 menit sebelum ditarik kembali ke permukaan.

" Saya merasa di sebuah tempat di mana manusia belum pernah ada sebelumnya. Seperti berjalan-jalan di planet alien," kata Kourounis.

Untuk menahan suhu yang sangat tinggi di dalam kawah, Kourounis memakai pakaian yang bisa memantulkan panas, alat bantu pernapasan dan mengenakan rompi Kevlar custom.

Kawah ini memiliki diameter sekitar 70 meter dan terletak di wilayah pedesaan di Turkmenistan - sekitar 260 km dari ibukota Ashgabat.

Terletak di salah satu sumber gas alam terbesar di dunia, Darvaza Crater pertama kali ditemukan oleh insinyur Soviet pada tahun 70-an.

2 dari 2 halaman

Gawat! Benua Australia Terus Bergerak Mendekati Indonesia

Gawat! Benua Australia Terus Bergerak Mendekati Indonesia © Dream

Dream - Benua Australia rupanya terus bergerak. Saban tahun, benua di selatan Indonesia ini bergeser 7 sentimeter ke arah utara. Pergeseran ini terjadi karena pergerakan lempeng Bumi.

Sebagaimana dikutip Dream dari laman ABC News, Australia memang berada di atas lempeng tektonik yang memiliki pergerakan paling cepat dan bertumbukan dengan Lempeng Pasifik yang setiap tahun bergerak 11 sentimeter.

Akibat pertemuan dua lempeng ini, terjadilah gempa bumi. Misalnya, gempa berkekuatan 8,1 yang melanda utara Pulau Macquarie pada tanggal 23 Desember tahun 2004.

Menurut data, sejak tahun 1994 Benua Australia telah bergeser ke sebelah utara sejauh 1,5 meter. Oleh karena itu, para ilmuwan Negeri Kanguru itu kembali menghitung posisi Garis Bujur dan Garis Lintang negara mereka.

Penghitungan titik koordinat itu akan meningkatkan akurasi semua informasi spasial di seluruh Australia untuk berbagai layanan termasuk transportasi, navigasi pribadi, dan survei.

Menurut pejabat Geoscience Australia, Dan Jaksa, pembaruan data ini sangat penting sebab ada perbedaan antara posisi saat ini dengan koordinat yang dipakai oleh Global Navigation Satellite Systems, seperti GPS.

" Garis benua memang tetap, tapi seiring berjalannya waktu, posisi itu dibandingkan dengan posisi GPS dapat membuat perbedaan, sehingga kita sangat perlu mengubahnya," tutur Jaksa.

Data baru penyesuaian ini akan dikeluarkan awal tahun depan. Tapi akan didasarkan pada proyeksi untuk tahun 2020.

Beri Komentar