Presiden Joko Widodo
Dream - Kasus pelajar SMP asal Desa Padang Ulak Tanding, Provinsi Bengkulu berinisial YY memilukan hati. Gadis yang dibawah umur itu menjadi korban pemerkosaaan dan pembunuhan 14 pemuda.
Senin, 2 Mei 2016 pengguna media sosial ramai menggunakan tagar untuk mewujudkan keprihatinan dan perlawanan atas peristiwa yang dialami YY. Selasa, 3 Mei 2016 ini Presiden Joko Widodo, dalam akun twitter resminya, @jokowi turut berkomentar atas kematian gadis itu.
Kita semua berduka atas kepergian YY yg tragis. Tangkap & hukum pelaku seberat2nya. Perempuan & anak2 harus dilindungi dari kekerasan -Jkw
— Joko Widodo (@jokowi)May 4, 2016
" Kita semua berduka atas kepergian YY yang tragis. Tangkap dan hukum pelaku seberat-beratnya. Perempuan dan anak-anak harus dilindungi dari kekerasan," papar Jokowi, Selasa, 3 Mei
Banyak pengikut Jokowi di twitter yang setuju hukuman seberat-beratnya yang harus dijatuhkan. Meski begitu, pada kenyataannya tuntutan hukuman kepada para pelaku jauh dari kata berat.
Kondisi itu diungkapkan akun @bemz_q dan @elliana_meina. Menurut dia, tuntutan hukuman kepada pelaku yang hanya 10 tahun jauh dari kata memberatkan.
@jokowi sudah ditangkap bapak presiden, dan cuma dituntut 10 tahun penjara.
— Bemz_Q (@Bemz_Q)May 4, 2016
" Sudah ditangkap bapak presiden dan cuma dituntut 10 tahun penjara," tulis akun @bemz_q.
@jokowi cuma dituntut 10 taun pakde...alsan krn kejahatan spontan bukan perencanaan....Ada gitu memperkosa spontan??? Lucuk nih indonesia
— brums.... (@elliana_meina)May 4, 2016
" Cuma dituntut 10 tahun pakde. Alasannya karena kejahatan spontan bukan perencanaan. Ada gitu memperkosa spontan??? Lucu nih Indonesia," tulis @elliana_meina. (Ism)
Advertisement

Cerita Panji: Kisah Cinta dari Jawa yang Menjelma Jadi Dongeng di Seluruh Asia Tenggara

Berat Badan Rata-Rata Bayi per Bulan: Panduan Grafik dan Perkembangannya yang Harus Diketahui

Cara Mengurangi Kebiasaan Jajan pada Anak dan Mulai Mengajari Cara Mengatur Keuangan


Deretan Musisi Luar Negeri yang Akan Mengunjungi Indonesia pada Agustus 2026

Mengapa Cara Membaca Aksara di Tiap Budaya Bisa Berbeda-beda?
