Walisongo (4): Strategi Kebudayaan Islam Sunan Kalijaga

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 30 Maret 2015 19:23
Walisongo (4): Strategi Kebudayaan Islam Sunan Kalijaga
Dialah anggota Walisongo yang kerap bertindak seperti 'Robinhood' Jawa. Pencipta lagu anak-anak ``Gundul-gundul Pacul``.

Dream - Lir-ilir, lir-ilir,    
Tandure wis sumilir,
Tak ijo royo-royo,
Tak sengguh temanten anyar

Cah angon, cah angon,
Penekno blimbing kuwi,
Lunyu-lunyu penekno,
Kanggo basuh dodotiro,

Dodotiro, dodotiro,
Kumitir bedhah ing pinggir,
Dondomono, jlumatono,
Kanggo sebo mengko sore
    
Mumpung padhang rembulane,
Mumbung jembar kalangane,
Dho surako,
Surak iyo.

(Bangun, bangun,
Tanaman sudah bersemi,
Tampak begitu hijau,
Seperti gairah pengantin baru,

Hai pengembala, hai penggembala,
Panjatkan belimbing itu,
Licin-licin panjatkan,
Untuk membasuh pakaianmu,

Pakaianmu, pakaianmu,
Yang telah koyak pinggirkan,
Jahitlah, benahilah,
Untuk menghadap nanti sore,

Selagi terang cahaya bulan,
Selagi lingkungannya luas,
Bersoraklah,
Ayo bersorak.)

Lirik di atas merupakan lirik sebuah tembang legendaris ‘Lir-ilir’. Di masyarakat Jawa, khususnya Muslim, tembang ini begitu akrab dikenal dan dinyanyikan sebagai penanda datangnya zaman baru.

Adalah Sunan Kalijaga, ulama Jawa salah satu anggota majelis sembilan wali, rujukan ajaran Islam Nusantara yang menjadi sosok di balik lahirnya tembang ini. Penciptaan tembang ini bukan tanpa sebab. Sang Sunan ingin mengajak masyarakat Jawa yang kala itu identik dengan agama Hindu menuju agama baru, Islam.

Namun mengapa harus melalui tembang dan tidak langsung saja mengenalkan Islam dari sumber aslinya? Masyarakat Jawa bukanlah entitas yang terbentuk dalam kurun waktu relatif singkat. Perguliran waktu membuat masyarakat Jawa kala itu telah memiliki tradisi yang dipegang dengan teguh. Mereka tidak mudah beralih dari satu keyakinan ke keyakinan lain.

Hal itulah yang menjadi dasar bagi Sunan Kalijaga untuk mengenalkan Islam. Islam tidak akan diterima sebagai agama baru jika dikenalkan dengan wajah keras dan galak. Sehingga Sunan Kalijaga memilih mengadopsi budaya Jawa agar Islam dapat diterima. Dan tembang ‘Lir-ilir’ merupakan salah satu dari sekian banyak produk kebudayaan yang dia ciptakan untuk menyebarkan Islam di tanah Jawa.

***

Sunan Kalijaga lahir...

1 dari 3 halaman

Anak Adipati Tuban yang Membangkang

Anak Adipati Tuban yang Membangkang © Dream

Sunan Kalijaga lahir dengan nama Raden Mas Said dari keluarga penguasa Tuban. Ia diperkirakan lahir tahun 1.450 Masehi. Ayahnya, Tumenggung Wilatikta, seorang Adipati di Bumi Ranggalawe itu. Raden Said menghabiskan masa kecilnya di lingkungan kadipaten, sehingga merasakan pendidikan yang cukup. Alhasil, Raden Mas Said tumbuh sebagai remaja yang cerdas dan banyak pengetahuan.

Tumenggung Wilatikta diketahui telah memeluk Islam sebelum Raden Mas Said lahir. Tetapi, agama Islam yang dianutnya tidak bisa membuatnya menjadi pemimpin yang luhur. Ia terkenal kejam, menetapkan pajak tinggi bagi rakyat. Tidak peduli apakah rakyat mampu membayar atau tidak.

Hal itu membuat Raden Mas Said muda tidak bisa cocok dengan sang ayah. Ia sering membangkang pada sang ayah, sehingga hubungan keduanya tidak pernah bisa akur. 

Sampai suatu ketika saat penduduk mengalami kelaparan hebat akibat paceklik, Raden Mas Said membongkar lumbung kadipaten dan membagi padi simpanan kepada seluruh rakyat. Tindakan itu membuat Tumenggung Wilatikta marah dan mengadakan sidang mengadili Raden Mas Said. 

Dalam sidang tersebut, Raden Mas Said secara lantang menyatakan perbuatan itu ia lakukan atas dasar ajaran agama. Ia pun mengkritik keras sang ayah lantaran menyimpan makanan yang sangat banyak sementara rakyatnya kelaparan. Akibatnya, kemarahan Tumenggung Wilatikta semakin menjadi dan sidang memutuskan Raden Mas Said diusir dari kadipaten.

Raden Mas Said pun menjalani kehidupan dengan memilih menjadi perampok. Ia kemudian merampok orang kaya dan membagi hasilnya kepada kaum miskin. Sebagai perampok, Raden Mas Said sangat ditakuti.

***

Suatu ketika,...

2 dari 3 halaman

Perjumpaan dengan Sunan Bonang

Perjumpaan dengan Sunan Bonang © Dream



Suatu ketika, Raden Mas Said bertemu dengan sosok tua renta. Pak tua itu membawa tongkat penyangga saat berjalan. Tongkat itu menarik perhatian Raden Mas Said, lantaran terlihat terbuat dari emas. 

Segera saja ia mendatangi pak tua dan memaksanya menyerahkan tongkat itu. Pak tua itu bertanya untuk apa Raden Mas Said ingin mengambil tongkat itu. Raden Mas Said pun menjawab untuk dibagikan kepada orang miskin.

Mendengar jawaban itu, pak tua mengatakan perbuatan yang dilakukan Raden Mas Said tergolong baik tapi dilakukan dengan cara yang salah. Pak tua itu lantas menunjukkan bagaimana seharusnya menolong sesama.

Perbincangan terjadi di antara mereka berdua. Hingga pada akhirnya Raden Mas Said menyatakan ingin menjadi murid dari pak tua itu, yang ternyata adalah Sunan Bonang. 

Sunan Bonang paham betul siapa calon muridnya itu, sosok pemuda keras dan gampang terpancing emosi. Menyadari hal itu, Sunan Bonang memberikan ujian kepada Raden Mas Said. Ia meminta Raden Mas Said menjaga tongkat titipan dia di tepi sungai. Raden Mas Said dilarang beranjak dari tempatnya duduk sebelum Sunan Bonang kembali.

Raden Mas Said menyetujui syarat itu. Ia lalu menjaga tongkat tersebut. Tetapi, beberapa saat setelah kepergian Sunan Bonang, Raden Mas Said tertidur sambil terduduk. Tidur tersebut berlangsung dalam waktu lama, hingga tubuh Raden Mas Said ditumbuhi lumut.

Tiga tahun kemudian, Sunan Bonang kembali dan membangunkan Raden Mas Said. Ia kemudian menyuruh Raden Mas Said untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Sunan Bonang kemudian menyatakan menerima Raden Mas Said menjadi murid dan memberinya nama baru, Kalijaga (Penjaga Sungai).

***

Raden Mas Said telah...

3 dari 3 halaman

Produk Budaya Sebagai Media Dakwah

Produk Budaya Sebagai Media Dakwah © Dream


Raden Mas Said telah berganti nama menjadi Sunan Kalijaga. Ia kemudian menimba ilmu agama dari Sunan Bonang. Hubungan antara keduanya lebih dari sekedar guru dan murid, melainkan sudah layaknya sahabat.

Ajaran dan tata cara berdakwah Sunan Kalijaga sangat identik dengan Sunan Bonang. Keduanya sama-sama menggunakan strategi kebudayaan dalam mengenalkan Islam.

Sunan Kalijaga mendapat amanah untuk menyebarkan Islam di wilayah Jawa pedalaman. Ini lantaran latar belakang Sunan Kalijaga yang dianggap sesuai dengan kebiasaan masyarakat yang masih terbiasa melakukan kemaksiatan. Sunan Kalijaga dianggap mampu mengerti bagaimana cara menghadapi masyarakat yang masih kerap mabuk, main perempuan, mencuri, dan lain sebagainya.

Selain itu, masyarakat pedalaman Jawa masih berada di bawah pengaruh keyakinan Hindu yang kuat. Beberapa contohnya adalah cara berpakaian, seni seperti wayang, ukiran dan sebagainya. Sunan Kalijaga sadar penuh kebiasaan itu tidak bisa diubah seketika. 

Islam kala itu masih dianggap asing. Sunan Kalijaga meyakini akan ada penolakan jika Islam diajarkan langsung seusai sumbernya. Akhirnya, Sunan Kalijaga menciptakan beberapa media syiar yang berasal dari nilai-nilai tradisi Jawa lama. Ciptaan tersebut seperti lakon wayang “ Petruk Dadi Ratu.

Lakon wayang ini mengisahkan tokoh Petruk, salah satu anggota Punakawan selain Semar, Gareng, dan Bagong, yang menjadi raja. Padahal, sejatinya Petruk hanyalah rakyat biasa yang menjadi abdi kerajaan. Namun tatkala menjadi raja, Petruk dikenal kuat dan dengan kekuasaannya itu sanggup mengguncangkan dunia dewa dan manusia.

Sejatinya, lakon ini diciptakan sebagai kritik atas penguasa yang lalim. Sunan Kalijaga ingin mengingatkan kepada penguasa kala itu bahwa kekuasaan sesungguhnya dijalankan untuk menyejahterakan rakyat dan bukan untuk dinikmati sendiri. Jika penguasa tidak mau memperhatikan rakyat, maka rakyat bisa marah dan dunia menjadi gempar.

Sunan Kalijaga juga menciptakan sebuah tembang lain yang dikenal dengan judul “ Gundhul-gundhul Pacul.” Tembang tersebut mengisyaratkan kritik terhadap kepemimpinan yang dijalankan sembarangan. Tembang ini cukup dikenal hingga saat ini.

Masih banyak produk budaya yang berhasil dibuat Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Sekatenan, sebuah perayaan yang selalu digelar di Yogyakarta untuk memperingati Hari Lahir Nabi Muhammad SAW. 

Juga pakaian adat Jawa disebut ‘Surjan’. Nama ‘Surjan’ berasal dari Bahasa Arab ‘Sirajan’ yang berarti ‘Pelita’. Pakaian ini juga disebut sebagai ‘Baju Takwa’ yang hingga saat ini masih digunakan oleh Abdi Dalem Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Sunan Kalijaga diperkirakan wafat pada usia 100 tahun. Ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1.478 M), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1.546 M, serta awal kehadiran Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senopati. Ketika wafat, ia dimakamkan di Desa Kadilangu, dekat kota Demak (Bintara). Makam itu hingga sekarang masih ramai diziarahi orang.
    
Dengan memilih strategi kebudayaan, Sunan Kalijaga berhasil memasukkan nilai-nilai Islam sehingga diterima masyarakat Jawa tanpa gejolak. Dia pun kelak kemudian dikenang sebagai penyebar agama Islam paling terkenal di tanah Jawa…  (eh)

Beri Komentar