Grup Musik RasPlus Yang Memiliki Personil Tuna Netra (Foto: Annisa Mutiara Asharini)
Dream - Banyak penyandang disabilitas yang memanfaatkan kebaikan orang lain sebagai mata pencaharian. Tapi, tak sedikit pula yang bekerja keras membanting tulang demi mendapatkan rupiah.
Inilah yang dibuktikan lima penyandang tuna netra, bernama Rafiq, Agus, Slamet, Yatiman dan Mamat Sumantri. Hidup dalam keterbasan bukan alasan untuk menyerahkan dan mengiba belas kasihan.
D dengan segala keterbatasannya mereka memilih menjajakan suara ketimbang mengemis. Bakatnya tak bisa disamakan dengan pengamen biasa.
Mereka adalah The Rasplus, grup musik tuna netra yang berasal dari jalanan.
Pada mulanya, Rafiq, Agus dan Slamet adalah tiga sekawan yang kerap kali mengamen di Bekasi. Pertemanan mereka sempat terputus ketika Agus terpaksa pindah ke Jakarta pada 2013.
© Dream
Seakan masih berjodoh, ketiganya kembali dipertemukan saat mengikuti audisi Institut Musik Jalanan (IMJ) di tahun 2017.
" Disitu kami lolos audisi, bikin grup awalnya bernama The Ras yang terdiri dari singkatan nama kami. Lalu ditawari IMJ untuk menambah dua personil, Yattiman dan Mamat. Jadilah The Rasplus," kata Agus ketika ditemui di Pejaten Village, Jumat, 9 Februari 2018.
Agus sangat bersyukur dengan itikad baik IMJ yang berupaya menyelamatkan pengamen berbakat dari jalanan. Kini, mereka bisa mendapat panggung yang layak untuk tampil.
Tetapi, dia merasa masih belum bisa terlepas sepenuhnya dari jalanan.
" Sesekali masih harus turun ke jalanan lagi untuk mencari nafkah. Kemaren manggung, besoknya bisa jadi di lapangan lagi," ucap dia.
Turun ke jalanan tak semudah memetik gitar di atas panggung. Mereka harus terus menghindar dari kejaran tim patroli.
" Kita ngamen sendiri-sendiri, biasa di pasar tradisional. Jalan dari ujung ke ujung sambil nyanyi tidak berhenti. Bukan seperti pengamen yang cuma diam tepuk tangan atau preman yang pura-pura menjadi pengamen," kata Agus.
© Dream
Di sela-sela waktu mengamen dan manggung, mereka juga berlatih keras. Pagi hingga malam mereka habiskan untuk latihan. Tak ada mentor. Mereka terbiasa bergerak sendiri.
Agus beserta timnya sangat berharap akan adanya peningkatan kesetaraan antarkalangan. Dia menuturkan masih diperlukan banyak upaya dan kepedulian dari golongan yang lebih mampu.
" Selama ini kami ngerasanya orang terlantar itu dipelihara sama kita-kita sendiri. Bagi-bagi tugas, ada yang kebagian nyediain makanan, tempat latihan, transportasi hingga kostum," ucap Agus.
Diskriminasi juga masih menghantui Agus dan kawan-kawan. Tak jarang, masih ada yang mengira mereka sebagai pengemis.
" Abis manggung, sudah rapih-rapih pakai jas nunggu taksi di pinggir jalan. Eh, ada yang ngasih uang dua ribu. Ya memang kita (tuna netra) kadang tidak dianggap sama," kata Agus.
Walau begitu, lima sekawan itu tak pernah berhenti meninggalkan dunia musik dan tarik suara. Agus mengatakan dia tak peduli dengan motif di balik uang yang diberikan orang lain.
" Ada yang karena kasihan atau mengharap pahala. Gak mikirin. Semua demi menyanyi dan keluarga. Apa yang bisa kita perbuat, itulah harapan kami," ujar Agus.
(Sah/Laporan: Annisa Mutiara Asharini )