Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Pixabay)
Dream - Penelitian terbaru Kaspersky melaporkan bahwa para pelaku kejahatan siber menggunakan video game untuk mendistribusikan malware. Para penjahat siber memasukkan malware di salinan palsu video game.
Akibatnya, sebanyak 930 ribu pengguna terkena serangan siber selama kurun waktu setahun, sejak awal Juni 2019 hingga Juni 2019.
" Selama berbulan-bulan kita telah melihat bahwa pelaku kejahatan siber mengeksploitasi sektor hiburan untuk menyerang pengguna dengan mengejutkan - baik itu serangkaian acara TV populer, pemutaran perdana film-film top atau video game populer," kata Maria Fedorova, peneliti keamanan di Kaspersky, Selasa 18 Juni 2019.
Maria menjelaskan, dipilihnya sektor hiburan karena orang bisa menjadi kurang waspada ketika ingin bersantai dan bersenang-senang. Menurut dia, peneliti Kaspersky melihat lebih dekat pada file yang terinfeksi dan terdeteksi selama 2018 serta paruh pertama 2019.
Puncak teratas game yang disalahgunakan yaitu 'Minecraft'. Game tersebut menyumbang sekitar 30 persen dari serangan, dengan lebih dari 310.000 pengguna terkena infeksi.
Di tempat kedua yaitu ‘GTA 5’, yang menargetkan lebih dari 112.000 pengguna. Kemudian 'Sims 4' menempati posisi ke empat dengan menyerang hampir 105.000 pengguna.
Menurut para peneliti, para pelaku kejahatan siber juga berusaha memikat pengguna agar mengunduh file berbahaya yang menyamar sebagai game pra-rilis. Penyamaran setidaknya terlihat pada 10 game pra-rilis, dengan 80 persen deteksi difokuskan pada FIFA 20, Borderlands 3, dan Elder Scrolls 6.
Untuk menghindari program berbahaya yang menyamar sebagai video game, Kaspersky merekomendasikan pengguna untuk menggunakan layanan sah dengan reputasi yang telah terbukti.
" Berikan perhatian ekstra pada keaslian situs web. Jangan mengunjungi situs web yang mengizinkan pengunduhan permainan video sampai Anda yakin itu sah dan mulailah dengan 'https'," ujar Maria.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya