(Foto: Lala Elmira/Shutterstock)
Dream - Sudah tidak bisa dipungkiri lagi kalau kecanggihan teknologi dapat dinikmati segala kalangan termasuk anak-anak.
Misalnya saja bermain game sampai menyaksikan kartun favorit di YouTube.
Kekuatan internet dan ragam hiburan yang disajikan seakan jadi magnet sehinga anak-anak tidak terpikir untuk bermain di halaman rumah dengan teman-temannya sampai keringat mengucur atau melakukan sesuatu tanpa harus memegang gawai.
Melihat fenomena tersebut, Elmira Nidya atau yang dikenal dengan Lala Elmira mendirikan komunitas One Day To Write (ODTW).
Berkesempatan ngobrol melalui dunia maya, hijaber berkulit sawo matang ini bercerita awal mula mendirikan ODTW yang didominasi dengan anak-anak Sekolah Dasar (SD) sampai Menengah Atas (SMA).
" Tiap kumpul keluarga, sepupu dan keponakan semua sibuk memegang ponsel, apalagi kalau bukan main game atau membuka-buka video di YouTube," cerita Lala.
" Sampai-sampai aku banyak mendengar keluhan para orangtua dan guru yang mengatakan, kalau anak zaman sekarang minat membaca dan menulisnya menurun. Dari situ terpikir kenapa nggak coba bikin workshop menulis, ya?" tambah Lala yang juga berprofesi sebagai dosen di Universitas Indonesia (UI) dan mengajar di beberapa lembaga pendidikan Bahasa Inggris sebelumnya.
Berbekal ilmu yang diperoleh dari pendidikan sastra yang ia ambil selama kuliah di UI dan hobinya menulis, sehingga menelurkan tiga novel, Lala pun nekat mencoba membuat ODTW pada Agustus 2015 silam.

Bak gayung bersambut, aksi nekat Lala direspons baik dengan penerbit novel merilis karya-karya Lala sebelumnya.
Zikrul Hakim Bestari, penerbit inilah yang siap membantu Lala dalam memulai mendirikan komunitas ODTW.
" Alhamdulillah di batch pertama ada enam SD yang ikutan," ucap Lala.
Mendatangi sekolah-sekolah dasar di Jabodetabek, mengajak para murid untuk workshop bareng di awal berdirinya ODTW adalah salah satu kerja keras Lala dalam membesarkan ODTW.
Mengajak para siswa-siswi untuk menulis cerita yang ada di benak mereka adalah kegiatan utama ODTW.
" Anak-anak itu kan memiliki imajinasi dan kreativitasnya masih sangat orisinil dan luar biasa. Jadi kami ingin kedua hal itu tertuang dalam tulisan. Dari banyaknya tulisan yang kami terima, kami pilih beberapa tulisan menarik dan kami kumpulkan untuk dijadikan buku," ujar Lala sang founder ODTW.
Meski di awal Lala menyasar pada siswa-siswi SD sebagai target peserta workshop, tapi selama hampir tiga tahun ODTW berdiri, hijaber satu ini pernah mengajak siswa-siswi SMP, SMA, bahkan para orangtua para siswa-siswi tersebut.

" Awalnya para ibu-ibu deg-degan sampai mereka bilang 'Kak Lala, aku terakhir menulis itu skripsi lho!, dan rupanya hasilnya kece banget, karena menurutku bikin cerita pendek itu bisa dalam waktu singkat dan nggak ada batasan usia," ceritanya semangat.
Mau menginjakkan usia ketiga di Agustus mendatang, ODTW kini berhasil mencetak 20 buku yang berisikan kumpulan cerpen dari anak-anak yang ikut workshop ODTW.
Tapi rupanya untuk mencapai 20 buku kumpulan cerpen, Lala mengatakan kalau jalannya tak semulus yang dibayangkan.
Seperti di tahun pertama, kata Lalau, tentu tantangan paling besar adalah mendapat kepercayaan dari pihak sekolah untuk mengadakan acara.
" Kami kan mengambil jam pelajaran anak-anak selama tiga jam. Lalu juga memungut biaya per-orang. Jadi, sekolah benar-benar harus tahu benefit dan goal program kami. Sedangkan untuk sekarang lebih ke tantangan yang mana selalu memberi pembaharuan materi. Jangan sampai pokoknya audiens merasa materinya sama dan membosankan," katanya.
Ketika ditanya tantangan apa yang paling berat selama ODTW berdiri? Lala pun menjawab, " Saat harus memilih naskah. Sedih campur gemas karena banyak banget naskah yang bagus rasanya ingin dimasukin semua tapi apa daya, tim ODTW dan penerbit kan punya kesepakatan kuota cerpen yang masuk ke dalam kumpulan cerpen."
Saat ini, ODTW terdiri dari tiga orang. Lala menjabat sebagai Founder, Fansha mengurus bagian teknis dan korespondensi serta Oki yang mewakili dari penerbit yang juga selalu membantu Lala dalam presentasi.
" Tapi untuk konsep, materi, sampai terjun ke lapangan di depan audiens masih aku yang handle," ungkap Lala yang merupakan lulusan strata dua Linguistik UI.

Mencapai lebih dari 700 peserta yang pernah mengikuti workshop ODTW, Lala berharap ODTW bisa semakin berkembang, merambah ke dunia kampus atau ke luar Jabodetabek.
Tentunya dengan adanya ODTW, Lala ingin memberi manfaat buat anak-anak dan teman-teman di dunia literasi dengan anggapan bahwa potensi menulis anak Indonesia itu masih sama besarnya seperti dulu.
" Menulis itu ibarat belajar naik sepeda. Awal-awal pasti akan jatuh, namun makin banyak latihan makin lancar," pungkas dara kelahiran Jakarta, 7 Juni 1991.