Sandiaga Uno Berharap Berkah ASEAN Tourism Forum 2023 di Yogyakarta

Reporter : Dwi Ratih
Selasa, 10 Januari 2023 16:45
Sandiaga Uno Berharap Berkah ASEAN Tourism Forum 2023 di Yogyakarta
Di lokasi itu, Sandiaga berujar bahwa Yogyakarta memiliki kelengkapan infrastruktur yang luar biasa.

Dream – Sandiaga Uno meninjau Jogja Expo Center yang akan menjadi tempat ASEAN Tourism Forum 2023 pada tanggal 2 hingga 5 Februari mendatang. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif itu berharap persiapan venue ATF selesai sesuai jadwal.

“ Tadi kita sudah lihat infrastruktur Jogja Expo Centre yang sedang direnovasi. Untuk toiletnya sudah bagus, dan semoga untuk keseluruhan bisa selesai sebagaimana yang telah dijadwalkan,” kata Sandiaga Uno.

Menurut Sandiaga, Yogyakarta punya kelengkapan infrastruktur yang luar biasa, seperti adanya Bandara Yogyakarta International Airport, ketersediaan hotel beragam, memiliki destinasi unggulan, dan destinasi super prioritas Borobudur.

Ia pun berharap target jumlah wisatawan mancanegara atau yang mencapai 7,4 juta pada tahun 2023 bisa ditopang dengan kesuksesan penyelenggaraan ATF 2023, yang bertema ASEAN: A Journey to Wonderful Destinations.

1 dari 4 halaman

Sandiaga Uno (paling kanan)© Instagram.com/sandiuno

Sandiaga Uno menambahkan, ATF 2023 memiliki makna cukup besar karena akan menjadi event pembuka pertemuan antarmenteri ASEAN di masa keketuaan Indonesia di ASEAN pada seluruh sektor di 2023 yang mengusung tema ASEAN: Epicentrum of Growth.

Momentum Keketuaan Indonesia di ASEAN pada 2023 diharapkan dapat menghasilkan inisiatif baru dalam mengatasi berbagai tantangan utama yang menjadi perhatian di kawasan dan dunia.

“ Dan ini kementerian lembaga pertama yang akan menyambut Keketuaan Indonesia pada ASEAN 2023. Oleh karenanya, mohon pemerintah pusat dan daerah di Yogyakarta serta pelaku di industri pariwisata untuk hadir dan mendukung kesuksesan ATF 2023,” kata Sandiaga.

Sementara, Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, Singgih Raharjo, mengatakan bahwa keseriusan Pemprov Yogyakarta dalam mendukung ATF 2023 ditandai dengan penawaran paket wisata dan menyediakan free ongkir untuk pembelian produk ekonomi kreatif yang dipamerkan.

Sumber: Kemenparekraf.go.id, Laporan: Rena Safira

2 dari 4 halaman

Belajar Sejarah dengan Berkunjung ke Museum-Museum di Jakarta

Dream - Museum menjadi salah satu alternatif tempat untuk melewatkan liburan, termasuk saat akhir pekan. Selain bisa refreshing, kita bisa belajar sejarah dari benda-benda koleksi di museum.

Benda-benda koleksi di museum memang punya banyak cerita masa lalu negeri kita, mulai masa prasejarah, zaman kerajaan, masa kolonial, hingga era terkini.

Main-Main ke Resor Eksotis di Raja Ampat, Liburan Semakin Seru!

Sudah begitu, tidak terlalu sulit menemukan museum di Indonesia, utamanya di Jakarta. Di ibu kota, kita bisa berkunjung ke beberapa museum menyimpan banyak cerita sejarah. 

Berikut ini beberapa museum di Jakarta yang bisa dikunjungi untuk belajar sejarah Indonesia: 

3 dari 4 halaman

  • Museum Kebangkitan Nasional

Pertama ada museum yang menyajikan banyak pengetaguan tentang pergerakan kebangkitan di Indonesia. Terletak di Jakarta Pusat, tempat ini dulunya merupakan sebuah sekolah kedokteran kesehatan Jawa dengan nama STOVIA. 

© Ilustrasi/ Shutterstock

Menikmati Keindahan & Kekayaan Sumba di NIHI, Hotel Terbaik Dunia

Museum Kebangkitan Nasional terdiri dari empat ruangan yang menyajikan informasi secara terperinci tentang gerakan di bidang pendidikan kesehatan, publikasi dan percetakan (pers), asal-usul organisasi pemuda Budi Utomo serta gerakan perempuan. Di antara ruangan-ruangan tersebut, museum medis dan kesehatan memiliki porsi yang paling besar. 

  • Museum Sumpah Pemuda

Masih terletak di Jakarta Pusat, Museum Sumpah Pemuda sebenarnya dibangun pada abad ke-20. Bangunan ini sebenarnya milik seorang keturunan Tionghoa, Sie Kong Liong, yang akhirnya membuat bangunan ini menjadi asrama pria.

Tidak hanya untuk siswa, tetapi bangunan ini juga berfungsi sebagai “ rumah kos” bagi kaum muda yang tidak tinggal di Jakarta. Dimana, orang-orang muda ini aktif mengorganisir banyak gerakan sebagai wujud pengabdian mereka kepada negara. 

Tak hanya itu, gedung ini juga digunakan oleh siswa untuk berlatih kesenian “ Langen Siswo” dan melakukan diskusi politik. Dimulai dari kelahiran PPPI atau Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia pada tahun 1926, antusiasme anak muda terus tumbuh besar dan memicu lahirnya banyak organisasi pemuda Indonesia yang membawa Indonesia menuju gerakan kemerdekaan.

4 dari 4 halaman

  • Gedung Museum Joang 45

Gedung Museum Joang 45 dibangun sekitar tahun 1920-an, awalnya bangunan ini adalah sebuah hotel yang dimiliki oleh keluarga L.C Schomper, seorang warga negara Belanda yang telah lama tinggal di Batavia. Saat itu, hotel ini menjadi sebuah hotel yang bagus dan terkenal di kawasan Batavia karena terletak di kawasan Menteng. 

© Ilustrasi/ Shutterstock

3 Destinasi Wisata Halal yang Wajib Masuk 'Bucket List' di 2023

Di masa lalu, bangunan ini berfungsi sebagai tempat persinggahan dimana para pemuda Menteng berkumpul dan belajar banyak tentang politik dengan Bung Karno dan Bung Hatta. 

Para pemimpin muda itulah yang akhirnya tergerak untuk mendeklarasikan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia sampai mereka akhirnya membawa Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta bersama dengan Ibu Fatmawati dan Guntur Soekarno Putra diasingkan ke Rengasdengklok. 

Saat berkunjung ke museum ini, kamu akan melihat banyak benda peninggalan gerakan kemerdekaan Indonesia. Kamu juga dapat melihat mobil yang digunakan oleh Presiden Pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno dan Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia Mohammad Hatta.

  • Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Museum Perumusan Naskah Proklamasi sebenarnya adalah rumah dari Laksamana Tadashi Maeda, yang pada waktu itu, memiliki posisi yang cukup berpengaruh selama pendudukan Jepang di Indonesia. Laksamana Tadashi Maeda memiliki hubungan persaudaraan dengan beberapa tokoh yang terlibat dalam perjuangan untuk kebangkitan dan kemerdekaan Republik Indonesia. 

© Ilustrasi/ Shutterstock

Pada 16 Agustus 1945, selama hari-hari terakhir sebelum kemerdekaan Indonesia, beliau mengundang Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta kembali dari pengasingan di Rengasdengklok untuk merumuskan naskah proklamasi yang berlangsung hingga jam 3 pagi. Kamu masih bisa melihat kursi, meja bahkan piano yang ada saat para Proklamator merumuskan naskah proklamasi.

Sumber: Indonesia.travel

Beri Komentar