Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Masjid Istiqlal (Foto: Shutterstock.com)
Dream - Tren muslim friendly tourism atau wisata ramah muslim semakin gencar di seluruh dunia. Tak hanya di negara muslim, banyak negara yang penduduknya minoritas beragama Islam juga turut mengampanyekan tren travel baru ini demi menggaet wisatawan muslim.
Indonesia, khususnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yang tak ingin ketinggalan laju tren wisata baru ini juga baru saja resmi membuka Jakarta Moslem Friendly Tourism (JMFT) 2022. Pameran wisata ramah muslim itu akan berlangsung pada 5-7 Agustus 2022 di Gandaria City Mall.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta, Andhika Permata, mengatakan Disparekraf berkomitmen untuk memposisikan Jakarta sebagai destinasi wisata yang ramah muslim.
Hal ini bukan tanpa alasan, sebab wisatawan muslim menjadi pasar yang paling besar dengan jumlah 25 persen dari total wisatawan di dunia.
“ Ada beberapa pandangan dari data akurat yang perlu saya sampaikan di forum ini, saya perlu menyampaikan bahwasanya wisatawan muslim menjadi pasar yang paling besar mewakili 25% dari total wisatawan di dunia,” kata Andhika Permata di Jakarta, Jumat, 5 Agustus 2022.
Andhika menambahkan wisatawan muslim memiliki pertumbuhan pasar tercepat di dunia yakni mencapai 30 persen per tahun. Angka ini lebih besar dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan wisatawan global yang hanya sekitar 6 persen per tahun.
“ Ini merupakan data yang sangat baik untuk kita pelaku industri pariwisata tidak hanya pemerintah pusat atau daerah tentunya pentaholic juga demikian, bagaimana melihat tren ini menjadi suatu fitur pariwisata baru dan tentunya juga untuk meningkatkan pemulihan ekonomi,” ujar Andhika.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI) Riyanto Sofyan membeberkan wisatawan muslim adalah pasar yang besar. Saat tahun 2019 sebelum pandemi, jumlah wisatawan muslim di dunia mencapai 200 juta.
“ Pasarnya itu besar, termasuk adalah wisatawan mancanegara di seluruh dunia. Kalau kita lihat data tahun 2016 mengatakan seluruh turis dari mancanegara adalah sekitar 1,4 miliar. Nah wisatawan muslim sekitar 200 juta di tahun 2019 sebelum pandemi,” ungkapnya.
Menilik kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia, Riyanto Sofyan juga mengatakan pengeluaran wisatawan muslim dikatakan jauh lebih besar dibandingkan wisatawan mancanegara dengan rata-rata sebesar US$1.350 sampai US$2.500.
“ Kalau rata-rata wisatawan mancanegara yang datang ke indonesia spendingnya 1100 dollar per turis per kunjungan. Kalau muslim rata-rata dari 1350 dollar sampai dengan 2500. Itu terlihat di dashboard Kemenparekraf,” ungkapnya.
Menurutnya DKI Jakarta juga mempunyai potensi besar dalam memanfaatkan pangsa pasar wisatawan muslim yang tinggi ini. Karena Jakarta merupakan gerbang pintu masuk terbesar ke Indonesia bersama bersama Bali dan Batam.
Riyanto juga menerangkan, ada tiga jenis wisatawan muslim mancanegara saat berkunjung ke Indonesia. Pertama Timur Tengah, yang lebih menyukai resort, shopping, dan spa.
Kedua, Eropa dengan 70 juta penduduk muslim yang menyukai adventure serta culture atau budaya. Adapula dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, yakni mereka menyukai wisata berkurban dan shopping khususnya di mall-mall di Jakarta.
Sementara itu, Andhika menambahkan, tak hanya Indonesia yang menggalakkan Muslim Friendly Tourism. Kota besar lain seperti Kuala lumpur, Bangkok hingga Asia Timur seperti Seoul dan Tokyo juga sudah menerapkan tren wisata ramah muslim.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya