2 Batasan Bermesraan Ketika Istri Haid

Reporter : Puri Yuanita
Kamis, 18 Februari 2016 13:14
2 Batasan Bermesraan Ketika Istri Haid
Islam tetap memperbolehkan pasangan suami istri untuk bermesraan ketika sang istri sedang haid, dengan beberapa batasan yang harus ditaati. Apa saja?

Dream - Para pasangan muslim tentu telah mengetahui jika berjima atau berhubungan suami istri, ketika istri sedang haid haram hukumnya dalam Islam.

Namun Islam tetap memperbolehkan pasangan suami istri untuk bermesraan ketika sang istri sedang haid. Dengan beberapa batasan yang harus ditaati. Apa saja?

Pertama, jika bermesraan pada bagian di atas pusar dan di bawah lutut, maka para ulama sepakat memperbolehkannya. Ini berdasarkan ayat:

“ Mereka bertanya kepadamu tentang (darah) haid. Katakanlah, “ Dia itu adalah suatu kotoran (najis)”. Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita di tempat haidnya (kemaluan). Dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci (dari haid). Apabila mereka telah bersuci (mandi bersih), maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Kedua, jika bermesraan pada bagian antara lutut dan pusar, maka di sini ada 3 pendapat di kalangan ulama.

Pendapat yang paling tepat adalah pendapat Aisyah, Ummu Salamah, Ummu Athiyah, Asy-Sya’bi, Mujahid, Atha’, Ikrimah, Ats-Tsauri, Ishaq, Al-Auzai, Daud, dan merupakan mazhab Al-Malikiah, Asy-Syafi’iyah, dan pendapat Imam Ahmad, serta yang dikuatkan oleh Imam Ibnul Mundzir.

Mereka menyatakan: Bolehnya melakukan apa saja dengan wanita haid kecuali jima (bertemunya dua yang dikhitan).

Selengkapnya baca di sini.      

(Ism) 

1 dari 3 halaman

Cara Istri Menyenangkan Suami Saat Sedang Haid

Dream - Saat istri sedang datang bulan atau haid, ada beberapa hal yang dilarang salah satunya adalah tidak diperbolehkannya melakukan jima atau berhubungan intim pasutri.

Lantas bagaimana jika suami menginginkan dipenuhinya kebutuhan biologisnya?

Menolak keinginan suami dalam hal ini memang tidak dianjurkan, karena pada dasarnya istri berkewajiban memenuhi keinginan suami untuk dilayani. Lewat 3 cara berikut, istri masih bisa melayani kebutuhan suami tanpa melanggar larangan ketika haid.

 

1. Bercumbu dan Bermesraan

Bercumbu dan bermesraan selain di daerah antara pusar sampai lutut istri halal hukumnya. 

Jika saya haid, Rasulullah menyuruhku untuk memakai sarung kemudian beliau bercumbu denganku. (HR. Ahmad)



2. Boleh Melakukan Segala Sesuatu Dengan Tubuh Istri Kecuali Berhubungan Seks

Allah SWT berfirman :

“ Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “ Haid itu adalah suatu kotoran”. Karena itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita ketika haid..” (QS. Al-Baqarah: 222)

Mengenai ayat diatas, Ibnu Qudamah berkata,

Ketika Allah hanya memerintahkan untuk menjauhi tempat keluarnya darah, ini dalil bahwa selain itu, hukumnya boleh. (Al-Mughni, 1/24)

Selain itu, ada juga hadits lain dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ketika para sahabat menanyakan tentang istri mereka pada saat haid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“ Lakukanlah segala sesuatu (dengan istri kalian) kecuali nikah.” (HR. Muslim)

Ketika menjelaskan hadis ini, Imam At-Thibi mengatakan,

“ Makna kata ‘nikah’ dalam hadis ini adalah hubungan intim.” (Aunul ma’bud, 1/302)

 

3. Melakukan Masturbasi Dengan Bantuan Tangan Istri

Jangan melakukan mastrubasi tanpa bantuan tubuh istri. Mengeluarkan mani dengan selain tubuh istri adalah perbuatan yang terlarang, sebagaimana firman Allah SWT

Orang-orang yang menjaga kemaluannya, Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Mukminun: 5-7)

2 dari 3 halaman

Saat Haid Wanita Tetap Bisa Raih Pahala Berlipat-lipat

Dream - Datangnya bulan suci Ramadan disambut oleh seluruh umat Islam di seluruh penjuru dunia. Baik tua maupun muda menyambut gembira bulan penuh berkah ini. Semua orang berlomba-lomba untuk mendapatkan pahala.

Allah SWT menjanjikan setiap ibadah dan kebaikan pada bulan ini akan dilipatgandakan pahalanya. Ibadah wajib akan berbalas mendapat pahala 70 kali lipat, sedangkan pahala amalan sunnah seperti amalan wajib di luar Ramadan.

Akan tetapi wanita tidak bisa menjalankan ibadah sebulan penuh kerena mengalami siklus menstruasi. Otomatis ibadah wajib seperti shalat, puasa, dan mengaji tidak bisa dilakukakan ketika sedang mengalami siklus kewanitaan tersebut.

Namun perempuan yang haid tetap bisa meraih keutamaan bulan suci ini. Meski haid, wanita bisa raih pahala Ramadhan dengan melakukan amalan sebagai berikut:

1. Tetap bangun ketika sahur
2. Senantiasa menjawab adzan dan memanjatkan doa di waktu adzan dan istiqomah
3. Perbanyak sedekah
4. Memberi makan orang yang berbuka puasa 
5. Memperbanyak Istiqfar
6. Tetap melatih kebersihan hati, dan menjaga ahlak baik

Ingin tahu penjelasannya lebih lanjut? Yuk selengkapnya Baca di sini

Kirimkan kisah nyata inspiratif disekitamu atau yang kamu temui, ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog atau sosmed
3. Foto dengan ukuran high-res
4. Isi di luar tanggung jawab redaksi

Ayo berbagi traffic di sini!

3 dari 3 halaman

Bolehkah Tidur dalam Keadaan Junub Setelah Berhubungan?

Dream - Mungkin masih ada di antara Anda yang bertanya-tanya. Apakah perlu bagi pasangan suami istri untuk segera mandi besar setelah berhubungan intim? Ataukah diperbolehkan melakukannya ketika bangun di pagi hari?

Islam adalah agama kebersihan. Bahkan dalam QS. Al-Baqarah: 222 disebutkan," Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri."

Pun Nabi dalam salah satu hadisnya juga telah mengatakan bahwa " kebersihan merupakan sebagian dari iman" .

Berdasarkan ayat dan hadis tersebut, tampak jelas jawaban untuk pertanyaan di atas. Yang paling baik adalah menyegerakan mandi besar setelah berhubungan.

Namun, dibolehkan bagi orang yang junub untuk menunda mandi besar sampai fajar. Hanya saja disunahkan kepada pasangan suami istri yang junub itu untuk melakukan wudhu sebelum tidur atau sebelum melakukan aktivitas lainnya.

Berdasarkan riwayat dari Aisyah RA, beliau mengatakan, “ Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila hendak makan atau tidur, beliau berwudhu terlebih dahulu. Maksud A’isyah adalah ketika dalam keadaan junub.” (HR. Abu Daud, dinilai sahih oleh Al-Albani)

Dalam riwayat yang lain terdapat tambahan, " Jika beliau hendak makan, sementara beliau dalam kondisi junub, beliau mencuci tangannya." (HR. Abu Daud, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani)   

Selengkapnya baca di sini.     (Ism) 

 

Kirimkan kisah nyata inspiratif disekitamu atau yang kamu temui, ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog atau sosmed
3. Foto dengan ukuran high-res
4. Isi di luar tanggung jawab redaksi

Ayo berbagi traffic di sini!

Beri Komentar
(Deep Dream) Menteri PAN-RB Buka-bukaan Soal PNS Kerja dari Rumah dan Single Salary