Kisah Pilu Pak Asep Rawat Anak Sendirian di Rumah Reot Bekas Kandang Ayam Usai Istrinya Kabur

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Senin, 25 Oktober 2021 07:00
Kisah Pilu Pak Asep Rawat Anak Sendirian di Rumah Reot Bekas Kandang Ayam Usai Istrinya Kabur
Aroma kotoran unggas menjadi bau yang biasa tercium saat sampai di kediaman Pak Asep.

Dream - Nasib pilu harus dialami Pak Asep, 47 tahun, warga Bandung, Jawa Barat. Himpitan ekonomi membuatnya tak mampu membangun rumah layak, alhasil ia harus tinggal di rumah seadanya.

Aroma kotoran unggas menjadi bau yang biasa tercium saat sampai di kediaman Pak Asep. Itulah yang dirasakan oleh tim PPPA Daarul Quran saat berkunjung ke rumah Pak Asep.

" Eh kang Ilham!," sapa Pak Asep kepada salah satu Tim PPPA Daarul Quran Bandung, dikutip dalam siaran pers tertulis, Jumat 22 Oktober 2021.

1 dari 8 halaman

Sudah bertahun-tahun Pak Asep dan anaknya, Nila, 8 tahun, menjadikan bekas kandang ayam sebagai singgahsananya. Bahkan sebelumnya, ia dan sang anak pernah tinggal di dalam WC umum.

" Dari Naila umur 3 tahun ibunya kabur, pergi enggak tahu ke mana. Dia udah enggak inget sama ibunya," jelas Pak Asep.

Sehari-hari Pak Asep menjadi buruh kebun dan mencari cacing dalam selokan untuk dibudidaya. Dahulu ia berjualan cilok keliling, namun karena penyakit tulang yang dideritanya membuat Pak Ssep berhenti berjualan.

 

2 dari 8 halaman

Pak Asep© Istimewa

Melihat kondisi yang memprihatinkan, PPPA Daarul Quran Bandung dalam program pemberdayaan ekonomi menyalurkan bantuan untuk berjualan kopi. Diharapkan dari bantuan ini dapat menambah penghasilan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

" Alhamdulillah Ya Allah, sebelumnya saya bingung mau usaha apa lagi karena fisik enggak kuat. Hatur nuhun donatur, hatur nuhun Daarul Qur'an," ucap pak Asep penuh syukur.

3 dari 8 halaman

Kisah Ita, Anak Pedagang Mie yang Gigih Menghafal Alquran

Dream - Ita masih sangat belia. Baru 11 tahun. Gadis itu masih duduk di bangku sekolah dasar. Saban lepas Subuh, Ita dengan telaten membantu ayahnya menyiapkan aneka macam keperluan untuk berjualan mie ayam. Ayah Ita, Selamet, merupakan penjual mie ayam di depan masjid dekat rumahnya.

Ita juga seorang santri di Rumah Tahfidz Daarul Quran Miftahul Jannah, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Meski berasal dari keluarga sederhana, Ita memiliki cita-cita menjadi seorang hafidzah atau penghafal Alquran. Kini, Ita sudah menghafal 18 juz Alquran.

" Ita sudah menghafal Alquran sejak usia enam tahun," demikian siaran pers PPPA Daarul Qur'an.

4 dari 8 halaman

Koordinator Daerah Rumah Tahfidz wilayah Jawa Timur, Ustaz Ya'qub, menemui Ita di rumahnya dan memberikan bantuan.

Saat berbincang dengan Ita dan keluarganya, diketahui bahwa anak perempuan itu begitu gigih untuk bisa hafal 30 juz.

" Ita juga terbiasa mengulang hafalannya sebanyak dua juz setiap hari. Itu semua dilakukannya untuk tetap menjaga hafalan yang sudah ia dapatkan selama ini. Aktivitas mengulang hafalannya kerap ia lakukan saat sebelum memasuki waktu Salat Zuhur dan sesudah Maghrib."

Selain ikut membantu ayahnya, Ita juga tak pernah absen belajar di rumah tahfiz.

" Ita membantu ayahnya bekerja sebagai wujud baktinya kepada orang tua," demikian keterangan Daarul Qur'an.

5 dari 8 halaman

Masya Allah, Satu Keluarga Jadi Guru Ngaji Tanpa Pungut Bayaran

Dream - Memulai perjalanan khidmatnya untuk Al-Qur’an di 2012, Ustadz Malik bersama istri, Ustadzah Siti Robiah, mengawali kehidupan baru mereka dengan mengajar buah hatinya sendiri serta beberapa anak-anak tetangganya. Ruang tamu rumah yang terletak di Desa Sumuradem, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu menjadi tempat mengaji.

Lambat laun anak didiknya terus bertambah. Ruang tamu itu tak bisa lagi menamping anak-anak yang belajar mengajai. Ustadz Malik tak putus asa. Ruang dapur kembali dikorbankan sebagai areal mengaji. Ia dan istri terpaksa melakukan demi anak-anak yang ingin mengaji bersama mereka.

Meski sibuk mengajar ngaji, Ustadz Malik memiliki banyak aktivitas, di antaranya petani dan tukang ojek.

Semua dia lakukan untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah dan menyambung hidup. Selama mengajar, Ustaz Malik dan istri memang tak memungut biaya kepada anak-anak yang belajar mengaji bersamanya.

6 dari 8 halaman

Rasakan Pahitnya Hidup

Selama delapan tahun mengajar ia telah mengalami banyak lika-liku perjuangan. Banyak cobaan yang dilaluinya, salah satunya ketika ia diperkarakan ke Kepolisian lantaran seorang wali santri yang menuntutnya.

Tindakan tu nyaris membuat tempat mengajinya hampir tutup.

Namun karena ikhtiarnya, masalah tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan tempat mengajinya pun dapat terus berjalan.

7 dari 8 halaman

Dapat Bantuan

Pada 2018, Allah pertemukan Ustads Malik dengan PPPA Daarul Qur’an Cirebon melalui wasilah PLN Area Indramayu dan menjadi Rumah Tahfidz Daarul Qur’an PLN Al-Wafa.

Semenjak bergabung menjadi mitra Daarul Qur’an, Rumah Tahfidz Daarul Qur’an PLN Al-Wafa kian berkembang.

Saat ini, kegiatan belajar mengajar sudah dapat dilakukan di dua ruang kelas. Meski dengan dua ruang kelas, Rumah Tahfidz Daarul Qur’an PLN Al-Wafa masih membutuhkan tempat tambahan lagi untuk menampung santri yang ingin belajar di sana.

8 dari 8 halaman

Miliki Banyak Santri

“ Saat ini, total 200 lebih santri yang belajar di rumah tahfidz, karena ruangan tidak cukup, dibagi waktunya dari pagi, siang dan malam, itupun saya masih belum bisa menerima yang daftar baru,” ujar Ustadzah Siti Robiah saat ditemui di Rumah Tahfidz PLN Al-Wafa, Kamis 5 November 2020.

Saat ini Ustadz Malik tak hanya ditemani sang istri dalam mengajar ngaji. Anaknya yang kini telah tumguh dewasa pun turut membantunya.

“ Saya dan keluarga ingin dapat barokahnya Al-Qur’an, mudah-mudahan dengan wasilah berkhidmat untuk Al-Qur’an bisa menjadi berkah untuk keluarga dan masyarakat Desa Sumuradem,” pungkas Ustadz Malik.

Beri Komentar