Jangan Tidur Posisi Tengkurap, Ini 3 Sebabnya dalam Islam

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 11 Desember 2019 20:02
Jangan Tidur Posisi Tengkurap, Ini 3 Sebabnya dalam Islam
Ada bahaya di balik tidur tengkurap.

Dream - Tidur, aktivitas istirahatnya seluruh anggota tubuh setelah bekerja seharian. Tidur menjadikan energi dan fungsi tubuh menjadi normal.

Tentu setiap orang menyukai posisi tidur tertentu. Entah itu berbaring terlentang maupun menyamping.

Dalam ajaran Islam, posisi tidur yang dianjurkan adalah dengan berbaring pada rusuk kanan. Posisi tidur ini diajarkan sendiri oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Sementara tidur dalam posisi terlentang sangat tidak diajurkan dalam Islam. Bahkan Rasulullah SAW melarang tidur dalam posisi ini.

Dikutip dari Bincang Syariah, setidaknya ada tiga sebab Rasulullah melarang tidur dalam posisi tengkurap. Hal itu terdapat dalam sejumlah hadis.

 

1 dari 6 halaman

3 Sebab Tengkurap Dilarang

Sebab pertama yaitu tidur tengkurap adalah posisi yang dimurkai Allah. Hal ini disebutkan dalam hadis riwayat Imam Abu Daud dari Thikhfah Al Ghifari.

Ketika aku sedang berbaring tengkurap di masjid karena begadang da itu terjadi waktu sahur. Lalu tiba-tiba ada seseorang menggerak-gerakkanku dengan kakinya. Ia pun berkata, " Sesungguhnya ini adalah cara berbaring yang dibenci oleh Allah." Kemudian aku pandang orang tersebut, ternyata ia adalah Rasulullah SAW.

Sebab kedua, tengkurap adalah posisi yang tidak disukai Allah. Ini seperti tertuang dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA.

Rasulullah SAW pernah melihat seseorang yang tidur dengan posisi tengkurap. Kemudian Rasulullah SAW berkata, " Sesungguhnya ini adalah cara berbaring yang tidak disukai Allah."

Sebab ketiga, tengkurap adalah posisi tidurnya ahli neraka. Ini disebutkan dalam hadis riwayat Imam Ibnu Majah dari Abu Dzar Al Ghifari RA.

Nabi SAW lewat di hadapanku dan ketika itu aku sedang tidur tengkurap. Beliau menggerak-gerakkanku dengan kaki beliau. Beliau pun bersabda, " Wahai Junaidib, tidur seperti itu seperti berbaringnya penduduk neraka."

Sumber: Bincang Syariah

2 dari 6 halaman

Dianjurkan Memulai Baca Al-Quran dengan Ta'awudz, Mengapa?

Dream - Kita mungkin terbiasa mengucapkan lafal ta'awudz sebelum membaca Al-Quran. Kalimat " A'udzubillahi minasy syaithonir rojim"  biasa dibaca sebagai pembuka aktivitas mengaji Al-Quran.

Hal ini menjadi kebiasaan sebagian dari kita. Sebab, sedari kecil kita diajarkan untuk melakukannya baik oleh orangtua maupun guru mengaji.

Secara makna, kalimat taawudz berarti " Saya berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk."  Baru kemudian kita mengucap kalimat " Bismillahir rahmanir rahim"  yang artinya " Dengan nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang."

Dilihat dari makna, tentu kalimat basmalah memiliki derajat lebih tinggi. Tapi mengapa justru ta'awudz dianjurkan dibaca lebih dulu?

3 dari 6 halaman

Perintah Membaca Ta'awudz

Dikutip dari NU Online, para ulama menyatakan terdapat sejumlah dalil mengenai perintah membaca ta'awudz. Baik itu ayat Al-Quran maupun hadis.

Dalam Al-Quran, perintah itu bisa kita temukan pada Surat An Nahl ayat 98.

Jika engkau membaca Al-Quran, berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk.

Perintah lain juga bisa kita temukan pada Surat Al-Araf ayat 199-200, Surat Al-Mukminun ayat 96-98, dan Surat Fushshilat ayat 36.

 

4 dari 6 halaman

Ini Maksudnya

Pakar tafsir Al-Quran, Imam Ibnu Katsir, menjelaskan kandungan ayat tersebut dalam kitabnya, Tafsirul Qur'anil Azhim atau lebih dikenal dengan Tafsir Ibnu Katsir. Dia mengetengahkan pandangan sebagian besar ulama mengenai perintah ini.

" Pandangan yang masyhur di kalangan mayoritas ulama, isti'adzah atau ta'awudz bertujuan untuk menolak was-was dalam bacaan Al-Quran dan itu dilakukan sebelum membaca Al-Quran. Pandangan ini berangkat dari pengertian ayat berikut menurut mayoritas ulama, 'Jika engkau membaca Al-Quran, berlindunglah kepada Allah dari setan terkutuk,' (An-Nahl ayat 98). Maksudnya tidak lain, 'Jika kamu ingin membaca' sebagaimana pengertian pada 'Jika kalian melakukan sholat, basuhlah wajah dan tangan kalian,' (Al-Maidah ayat 6), maksudnya 'Jika kalian ingin sholat'."

Selanjutnya, Imam Ibnu Katsir menjelaskan pengucapan kalimat ta'awudz mengandung faedah membersihkan mulut dari ucapan sia-sia dan kotor. Ucapan tersebut merupakan persiapan mulut sebelum membaca Kalam Ilahi.

Sumber: NU Online

5 dari 6 halaman

Tiga Hal Dalam Hidup yang Sulit Disembuhkan, Hati-hatilah

Dream - Dalam kehidupan, masalah dan kesulitan adalah dua hal yang pasti terjadi. Tidak ada satu orangpun yang bebas dari segala masalah maupun kesulitan.

Tidak peduli apakah dia kaya atau miskin. Semua menghadapi kesulitannya masing-masing.

Namun demikian, kita patut pahami setiap masalah dan kesulitan hadir dalam kehidupan sejatinya sebagai jalan manusia melatih diri. Banyaknya masalah membuat kita belajar cara menanganinya.

Karena, sejatinya setiap masalah bisa disembuhkan. Semua bergantung kepada mereka yang menjalaninya.

Dikutip dari Bincang Syariah, pada dasarnya semua masalah dan kesulitan bisa disembuhkan. Tetapi, ada hal dalam hidup yang tidak bisa disembuhkan.

Ibnu 'Abdil Barr dalam kitabnya Bahjatul Majalis wa Ansul Majalis menyebutkan tiga kesulitan dalam hidup yang tidak bisa disembuhkan.

" Tiga hal yang susah disembuhkan dalam hidup adalah kemiskinan yang besertakan kemalasan, permusuhan yang dirasuki kedengkian, dan sakit yang disebabkan faktor usia."

6 dari 6 halaman

3 Masalah Susah Diatasi

Hal pertama disebutkan yaitu kemiskinan yang disertai kemalasan. Jika hanya miskin, orang masih bisa mengatasi situasi. Dengan usaha dan kerja keras, seseorang bisa terentas dari kemiskinan.

Lain halnya jika kemiskinan disertai dengan kemalasan. Bagaimana mungkin seseorang bisa lepas dari kemiskinan jika dia malas berusaha?

Hal kedua yang tidak bisa disembuhkan dalam hidup yaitu permusuhan yang dirasuki kedengkian. Rasa dengki bisa memicu permusuhan, sementara permusuhan yang sudah terjadi bisa jadi awet akibat kedengkian.

Seseorang yang dalam hatinya ada rasa dengki, sejatinya dia tidak bisa menerima ketentuan Allah SWT. Dia terus menginginkan apa yang belum ditetapkan atas dirinya.

Sedangkan hal ketiga yaitu sakit karena faktor usia. Usia senja adalah masa yang rentan akan berbagai penyakit akibat sistem imun yang semakin melemah.

Sistem kekebalan membantu tubuh terhindar dari segala macam penyakit yang berasal dari unsur-unsur berbahaya. Bisa berupa bakteri, virus, racun, dan lain sebagainya.

Tidak mengherankan jika di usia senja, tubuh mudah sakit. Ini karena sistem kekebalan tubuh tidak bekerja dengan baik.

Sumber: Bincang Syariah

 

Beri Komentar
4 Januari, Hari Bahagia dan Paling Sedih Rizky Febian