Kisah Pilu Mbah Atim: Rumahku Diambil, Aku Tidur di Becak

Reporter : Eko Huda S
Jumat, 12 Februari 2016 13:17
Kisah Pilu Mbah Atim: Rumahku Diambil, Aku Tidur di Becak
Usianya 99 tahun. Dia sebenarnya punya rumah, namun diambil oleh orang sehingga tinggal di becak.

Dream - Ini kisah Mbah Atim. Usianya sudah hampir seabad. Tepatnya 99 tahun. Meski tubuhnya sudah ringkih termakan usia, kakek asal Cerme, Gresik, ini masih kuat mengayuh becak.

Mbah Atim merantau ke Surabaya. Hidup sebatangkara. Di Kota Pahlawan itu, saban hari dia mangkal di Jalan Mawar. Di depan rumah mewah. Saat malam tiba, si Mbah memarkir becak di Jalan Kedungdoro dan tidur di dalamnya.

Hidup Mbah Atim sangatlah susah. Saat mobilitas manusia semakin cepat seperti sekarang, tenaganya tak lagi dibutuhkan. Sudah tak ada pelanggan yang mau naik becaknya. Namun dia tak mau menyerah. Pantang mengemis.

Kisah Mbah Atim ini diunggah oleh akun Riska Heaven ke Facebook. Beberapa foto Mbah Atim diunggah. Disertai keterangan hasil dialog dengan Mbah Atim.

 

Alhmdulillah.. gk sia2 pncarian saya tngh mlm, akhirnya ktmu jg dg bpk.Atim.Stlh kliling jln.Kedungdoro-Surabaya gk...

Dari kisah itu, hidup Mbah Atim terlunta-lunta. Sebenarnya dia punya rumah di kampung halamannya. Namun dia memilih tinggal di becak. Namun rumah itu telah diambil oleh.....

Baca selengkapnya di tautan berikut ini

1 dari 5 halaman

Kejujuran Tukang Becak yang Diangkat Anak oleh Jenderal TNI

Dream - Hari itu Makassar begitu mencekam. Kerusuhan berbau Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA) meletus di ibukota Sulawesi Selatan. Toko-toko dan rumah milik warga keturunan dijarah kemudian dibakar.

Dalam kerusuhan 15-17 September 1997 itu Sekitar 2.000 rumah dan toko hancur, dibakar dan dijarah. Tak kurang dari 80 mobil dan 150 sepeda motor jadi sasaran amuk massa. Total kerugian mencapai Rp 17,5 miliar.

Tragedi ini dikenang sebagai Peristiwa September. Saat itu Panglima Kodam Wirabuana dipegang Mayjen Agum Gumelar.

Saat patroli, Agum melihat seorang pemuda duduk di atas becaknya. Sementara ribuan orang lain sibuk menjarah toko-toko yang terbakar.

Mayor Jenderal Agum yang berpakaian sipil bertanya pada pemuda itu kenapa tidak ikut menjarah. Jawaban tukang becak bernama Mustafa tersebut mengejutkan Agum.

" Itu perbuatan haram. Saya tidak pernah diberi makan barang haram oleh orangtua saya," kata Mustafa tegas.

Kisah ini dituliskan Agum dalam biografinya Agum Gumelar Jenderal Bersenjata Nurani terbitan Pustaka Sinar Harapan 2004.

Agum kagum pada pemuda itu. Dia kemudian memberi uang Rp 20.000, tapi Mustafa menolaknya. Mustafa tidak tahu berhadapan dengan seorang Panglima Kodam.

Setelah Kapolres dan Komandan Kodim ikut mendesak, barulah Mustafa menerimanya. Uang dari Agum pun tak dipakai oleh Mustafa. Dia hanya menyimpannya saja.

Mustafa pemuda jujur berkemauan besar. Meninggalkan kampungnya di Janeponto demi melanjutkan SMA di Makassar.

Mustafa tak mau hanya jadi lulusan SMP dan jadi petani. Dia punya mimpi sekolah setinggi-tingginya. Demi sekolah, pemuda belasan tahun itu jadi penarik becak. Sehari-hari, dia ditampung oleh pamannya.

Mustafa juga baru tahu setelah koran-koran ramai memberitakan Pangdam Wirabuana mencari tukang becak untuk diberi penghargaan sebagai teladan. Akhirnya bertemulah Mustafa dengan Agum Gumelar.

Agum kemudian mengangkat Mustafa sebagai anak angkat. Dia menanggung semua biaya sekolah Mustafa. Agum juga mengajak Mustafa tinggal di rumah dinas Pangdam.

Pada 1998, Agum dipindah ke Jakarta. Dia berniat mengundang Mustafa untuk mengikuti perayaan sumpah pemuda di ibukota. Namun rupanya ada kabar duka dari Makassar.

Mustafa sudah meninggal dunia. Ternyata sudah lama Mustafa sakit-sakitan. Dia tak pernah menyampaikan hal itu pada Agum.

Penarik becak yang jujur itu sempat dirawat di sebuah rumah sakit, tapi karena tak ada biaya perawatan hanya asal-asalan.

Agum melayat ke Janeponto, dia disambut ribuan warga. Secara tak resmi, Mustafa diangkat jadi pahlawan kejujuran dari Janeponto. Mereka semua berduka atas kematian seorang pemuda yang layak jadi teladan.

Next ==> Pengemis sukses

(Sumber: Merdeka.com)

2 dari 5 halaman

Tukang Becak Sumbang Rp 500 Juta untuk Anak Miskin

Dream - Namanya Bai Fang Li. Pria tua miskin yang pekerjaannya adalah tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskan di atas sadel becak. Bai tak pernah letih mengayuh untuk mengantarkan kemana saja pelanggan menginginkan, dengan imbalan uang sekadarnya.

Dari penghasilan yang diperoleh selama seharian mengayuh becak, sebenarnya ia mampu membeli makanan dan minuman yang layak untuknya. Atau membeli pakaian menggantikan baju tua yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek.

Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah Yayasan yang mengurusi sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin, China.

Bai akhirnya tutup usia pada usia 93 tahun. Meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, dia telah menyumbangkan disepanjang hidupnya sekitar Rp 500 juta dari penghasilan narik becak untuk anak-anak miskin.

Bagaimana kisah lengkapnya? Simak di sini http://bit.ly/1yH5KCw (Ism)

Kirimkan kisah nyata inspiratif disekitamu atau yang kamu temui, ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog atau sosmed
3. Foto dengan ukuran high-res

Ayo berbagi traffic di sini! 

3 dari 5 halaman

Tertipu Tukang Becak, Menumpang 3 Menit Bayar Rp 4 Juta

Dream - Berhati-hatilah jika Anda berkunjung ke London. Pastikan Anda mendapat informasi yang jelas tentang tarif angkutan, terutama becak, di ibukota Inggris itu. Jika tidak, bisa-bisa Anda akan tertipu.

Baru-baru ini dua turis berdebat dengan tukang becak karena dikenakan ongkos sangat mahal. Sepasang turis itu diminta membayar 206 pound sterling atau sekitar Rp 4,3 juta. Padahal hanya menumpang selama tiga menit, dari Oxford Circus ke Jalan Great Cumberland Street, dekat Marble Arch.

Perdebatan panas itu mengundang perhatian pengguna jalan dan juga dua polisi. Kedua polisi itu kemudian menghampiri mereka dan menanyakan sumber permasalahan yang membuat kedua orang ini berdebat di pinggir jalan.

Kepada polisi, sang turis pria mengatakan mereka ditarik tarif yang tak masuk akal. Diminta membayar 206 poundsterling hanya untuk perjalanan selama tiga menit. Namun pengemudi becak menyanggahnya dan mengatakan perjalanan itu selama sepuluh menit.

" Mereka menumpang becakmu selama sepuluh menit, dan kamu meminta mereka bayar 206 poundsterling?" tanya salah satu polisi. Tukang becak itu membenarkan dan mengklaim menarik 10 pounsterling atau sekitar Rp 208 ribu permenit.

" Saya kira itu sangat tidak fair," tambah polisi itu. " Baiklah, lalu berapa mereka harus bayar?" jawab tukang becak itu.

Polisi itu kemudian mengatakan bahwa tukang becak tersebut telah mengeksploitasi dua turis itu. " Mereka turis asing, kamu memeras mereka. Kamu memeras mereka karena kamu tahu di sini satu menit tarifnya bukan 10 poundsterling," kata polisi itu. (Sumber: Metro.co.uk

4 dari 5 halaman

Cerita Tukang Becak Diundang Pernikahan Putra Sulung Jokowi

Dream - Tak hanya para pejabat tinggi dan tamu penting lainnya yang diundang dalam hajatan pernikahan putra tertua Presiden Jokowi, namun kalangan masyarakat menengah ke bawah pun ikut diundang.

Salah satunya adalah, Sardi Ahmad, penarik becak yang saban hari mangkal di depan gedung Batari, Jalan Slamet Riyadi, Solo.

Sardi mengaku bangga dan kaget ketika ada salah satu perwakilan dari panitia pernikahan Gibran Rakabuming Rakan dan Selvi Anandanya menyerahkan undangan kepadanya.

Undangan bersampul beludru warna merah itu diterimanya sekitar lima hari lalu.

" Saya sangat senang karena ikut diundang untuk menghadiri pernikahan putranya Pak Presiden," kata Sardi, Selasa 9 Juni 2015.

Sardi diundang karena yang bersangkutan merupakan ketua paguyuban becak wilayah Solo tengah. Selain Sardi, yang ikut diundang dalam prosesi pernikahan adalah sekretaris paguyuban.

" Yang menerima undangan kan cuma perwakilan paguyuban saja. Hanya ketua dan sekretaris," jelas dia.

Meskipun memastikan akan hadir untuk memenuhi undangan resepsi putra Presiden, namun Sardi mengaku tidak akan menyumbang saat hadir dalam acara tersebut.

Sardi dijadwalkan untuk hadir dalam prosesi pernikahan, Kamis pukul 11.00 hingga 12.00 WIB.

" Tidak nyumbang lah mas, kami ini dari kalangan orang kecil. Kami diundang pun sudah sangat senang sekali," ujarnya bangga.

(Ism, Laporan: Ben Satrian)

5 dari 5 halaman

Kisah Ikhlasnya Tukang Becak Tutup Lubang di Jalan Raya

Dream - Abdul Sukur tidak memiliki aktivitas berbeda dengan para pengayuh becak lainnya di Kota Pahlawan. Setiap hari, bersama rekan-rekan seprofesinya, ia biasa menunggu penumpang di depan pintu masuk ITC Gembong, Surabaya.

Tetapi, ada aktivitas lain yang kerap dilakukan pria yang kerap disapa Pak Dul ini. Aktivitas yang sangat jarang dilakukan hampir semua orang, menutup lubang menganga di jalanan Surabaya.

Momen ketika Sukur menutup lubang diabadikan oleh Himan Utomo dalam tulisan yang diunggah di akun facebook One Day One Juz. Himan sempat bertemu di suatu malam dengan Sukur, dan mengajak pria tersebut berbincang.

Waktu itu, tepatnya pukul 23.05 WIB, Himan melihat Sukur berhenti di depan ITC. Sukur kemudian turun dan menurunkan bongkahan batu dari becaknya. Batu-batu itu ditaruh di jalan yang berlubang.

Setelah meletakkan batu, Sukur memecah batu tersebut menggunakan palu besar. Ini agar batu dapat pecah sehingga bisa diratakan dan membuat permukaan jalan halus.

Sukur lalu duduk sebentar, setelah selesai melakukan aktivitasnya. Lalu ia mengambil topi dari kepalanya, dan mengipaskannya. " Alhamdulillah," ujar Sukur.

Sukur hanyalah tukang becak biasa. Ia melakukan aktivitas menutup lubang tanpa mendapat bayaran dari siapapun. Semua dia lakukan dengan penuh keikhlasan.

" Ini sudah jadi hobi saya tiap malam. Setelah cari rejeki dengan menjadi tukang becak, malamnya saya selalu mencari bongkahan batu aspal, buat nutup jalan yang berlubang. Ya, hitung-hitung abdi saya sebagai warga kota Surabaya," kata dia.

Jawaban itu bagi sebagian besar orang mungkin dianggap keanehan. Sukur pun memahami pandangan tersebut. Dia pun pernah ditertawakan rekan-rekannya.

" Saya sering diolok-olok sama teman-teman seprofesi tukang becak, 'Wes Pak Dhe, gak onok sing mbayari kok yo dilakoni ae. Gak kiro direken lha karo wong-wong nduwuran pemerintah kota. Opo maneh Bu Risma. Istirahat ae, sampeyan wes tuek (Sudah Pak De, tidak ada yang membayar kok masih dikerjakan saja. Nggak bakal ada yang merespon lah sama orang-orang atasan Pemerintah Kota. Apa lagi sama Bu Risma. Istirahat saja, kamu sudah tua)," ungkapnya.

Tetapi, hal itu tidak membuat pria yang tinggal di Jalan Tambak Segaran Barat Gang 1 Nomor 27, Kota Surabaya ini berputus asa. Ia terus menutup lubang di jalan raya dengan harapan tidak ada orang yang mendapat musibah kecelakaan.

Kisah selengkapnya, silakan baca di sini.

Beri Komentar
Video Polisi Tes Kandungan Sabu Cair dalam Mainan Anak-anak