Kumpulan Puisi Chairil Anwar yang Terkenal dan Tak Lekang Waktu

Reporter : Arini Saadah
Kamis, 4 Juni 2020 17:48
Kumpulan Puisi Chairil Anwar yang Terkenal dan Tak Lekang Waktu
Meski meninggal di usia muda, yakni pada 28 April 1949, namun karya-karyanya sudah membanjiri dunia sastra di Indonesia.

Dream – Chairil Anwar adalah salah satu sastrawan Indonesia angkatan '45 yang terkenal. Salah satu satu puisinya bahkan telah dinobatkan sebagai puisi nasional. Meninggal di usia muda pada 28 April 1949, karya-karya Chairil Anwar masih dikenali dan membanjiri dunia sastra Indonesia.

Meskipun sudah 58 tahun meninggal dunia, pada tahun 2007 ia mendapatkan penghargaan dari Dewan Kesenian Bogor Award 2007 dalam kategori seniman sastra. Penghargaan itu diterima oleh putrinya.

Bahasa puisi memang mengutamakan keindahan. Selain itu Bahasa puisi yang terdiri dari irama, rima, matra dan bait itu padat makna tentang kehidupan. Puisi merupakan karya sastra yang berasal dari ungkapan atau curahan hati penyair. Lahirnya sebuah karya sastra berangkat dari kegelisahan penulis dan ungkapan perasaan penyair.

Puisi menurut Herbert Spencer adalah suatu bentuk pengucapan gagasan yang sifatnya emosional dengan mempertimbangkan suatu keindahan. Puisi Chairil Anwar merupakan sastra yang sudah membumi di kalangan sastrawan Indonesia. Kali ini kita akan menyajikan kumpulan puisi Chairil Anwar yang sarat makna dan menginspirasi. Yuk simak berikut ini.

1 dari 4 halaman

Puisi Lama dan Puisi Baru

Ilustrasi© unsplash.com

Sebelum kita membahas kumpulan puisi Chairil Anwar, kita akan mencoba memahami terlebih dahulu ciri-ciri dan jenis-jenis puis. Puisi dibagi menjadi dua jenis, yaitu puisi lama dan puisi baru.

Puisi lama merupakan karya sastra lama yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Nama penulis tak diketahui.
  • Terikat aturan rima, irama, baris, dan bait.
  • Disebut sastra lisan, disampaikan dari mulut ke mulut.
  • Isi tentang kerajaan dan fantastis.
  • Majas yang digunakan berupa tetap dan klise.

Puisi lama ini terdiri dari banyak jenis, yaitu pantun, syair, mantra, talibun, seloka, gurindam, karmina. Selian puisi lama, kita juga mengenal puisi baru, yaitu puisi yang lebih bebas dan tidak terikat aturan seperti puisi lama. Puisi baru ini lebih populer di kalangan penyair.

Ciri-ciri puisi baru bisa diketahui sebagai berikut:

  • Nama pengarang diketahui.
  • Tidak terikat aturan seperti rima, irama, baris, dan bait.
  • Disampaikan melalui lisan dan tulisan.
  • Berita tentang kehidupan.
  • Majas dinamis.
  • Berbenuk rapi dan simetris.
  • Persajakan akhir biasanya diatur.

Jenis-jenis puisi baru ini banyak banget ya, Sahabat Dream, seperti Balada, Himne, Romansa, Ode, Epigram, Satire, Alegi. Selain itu juga terdapat jenis puisi berdasarkan bentuknya, seperti distikon, terzina, kuatrain, kuint, sektet, septime, oktaf, dan sonata.

Setelah kita mengetahui sedikit tentang puisi, yuk kita lihat kumpulan puisi Chairil Anwar di bawah ini.

2 dari 4 halaman

Kumpulan Puisi Chairil Anwar yang Terkenal

Ilustrasi© tokopedia.com

Banyak dari karya-karya sastra puisi Chairil Anwar tak dipublikasikan hingga kematiannya. Puisi Chairil Anwar yang paling terkenal berjudul Aku dan Krawang-Bekasi.

 

Aku

Kalau sampai waktuku

Ku mau tak seorang ‘kan merayu

Tidak juga kau

 

 

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

 

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

 

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

hingga hilang pedih peri

 

Dan aku akan lebih tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun  lagi

Maret 1943

 

Krawang-Bekasi

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi

tidak bisa teriak “ Merdeka” dan angkat senjata lagi.

 

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,

terbayang kami maju dan berdegap hati?

 

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.

Kenang, kenanglah kami.

 

Kami sudah coba apa yang kami bisa

 

Tapi kerja belum selesai,

belum bisa memperhitungkan 4-5 ribu

nyawa

 

Kami cuma tulang-tulang berserakan

Tapi adalah kepunyaanmu

 

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan

kemenangan dan harapan atau tidak untuk apa-apa,

 

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata

Kaulah sekarang yang berkata

 

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

 

Kenang, kenanglah kami

Teruskan, teruskan jiwa kami

Menjaga Bung Karno

menjaga Bung Hatta

menjaga Bung Sjahrir

 

Kami sekarang mayat

Berikan kami arti

Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

 

Kenang, kenanglah kami

yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

 

Derai-Derai Cemara

Cemara menderai sampai jauh

terasa hari akan jadi malam

ada beberapa dahan di tingkap merapuh

dipukul angin yang terpendam

 

Aku sekarang orangnya bisa tahan

sudah berapa waktu bukan kanak lagi

tapi dulu memang ada suatu bahan

yang bukan dasar perhitungan kini

 

Hidup hanya menunda kekalahan

tambah terasing dari cinta sekolah rendah d

an tahu, ada yang tetap tidak terucapkan

sebelum pada akhirnya kita menyerah

 

Senja di Pelabuhan Kecil

Kepada Sri Ajati

 

Ini kali tidak ada yang mencari cinta

di antara gudang, rumah tua, pada cerita

tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut

menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

 

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang

menyinggung muram, desir hari lari berenang

menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak

dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

 

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan

menyisir semenanjung, masih pengap harap

sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan

dari pantai keempar, sedu penghabisan bisa terdekap

3 dari 4 halaman

Kumpulan Puisi Chairil Anwar yang Menginspirasi

Ilustrasi© Liputan6.com

Inilah kumpulan puisi Chairil Anwar yang dapat menginspirasi. Yuk disimak,

Tak Sepadan

Aku kira:

Beginilah nanti jadinya

Kau kimpoi, beranak dan berbahagia

Sedang aku mengembara serupa Ahasvéros.

 

Dikutuk-sumpahi Eros

Aku merangkaki dinding buta

Tak satu juga pinti terbuka.

 

Jadi baik juga kita pahami

Unggunan api ini

Karena kau tidak ‘kan apa-apa

Aku terpanggang tinggak rangka.

Februari 1943

 

Di Mesjid

Kuseru saja Dia

Sehingga datang juga

 

Kami pun bermuka-muka.

 

Seterusnya Ia Bernyala-nyala dalam dada.

Segala daya memadamkannya

 

Bersimbah peluh diri yang tak bisa diperkuda

 

Ini ruang

Gelanggang kami berperang.

 

Binasa-membinasa

Satu menista lain gila

 

Persetujuan dengan Bung Karno

Ayo! Bung Karno kasih tangan, mari kita bikin janji

Aku sudah cukup lama dengan bicaramu

Dipanggang di atas apimu, digarami lautmu

Dari mulai 17 Agustus 1945

 

Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu

Aku sekarang api, Aku sekarang laut

 

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat

Di zatmu, di zatku kapal-kapal kita berlayar

Di uratmu, di uratku kapal-kapal kita betolak dan berlabuh

 

Cinta dan Benci

Aku tidak pernah mengerti

Banyak orang menghembuskan cinta dan benci

Dalam satu napas

 

Tapi sekarang aku tahu

Bahwa cinta dan benci adalah saudara

Yang membodohi kita, memisahkan kita

 

Sekarang aku tahu bahwa

Cinta harus siap merasakan sakit

Cinta harus siap untuk kehilangan

Cinta harus siap untuk terluka

Cinta harus siap untuk membenci

 

Karena itu hanya cinta yang sungguh-sungguh mengizinkan

kita

Untuk mengatur semua emosi dalam perasaan

 

Setiap emosi jatuh… Keluarlah cinta

 

Sekarang aku mengetahui implikasi dari cinta

Cinta tidak berasal dari hati

Tapi cinta berasal dari jiwa

Dari zat dasar manusia

 

Ya, aku senang telah mencintai

Karena dengan melakukan itu aku merasa hidup

Dan tidak ada orang yang dapat merebutnya dariku

4 dari 4 halaman

Kumpulan Puisi Chairil Anwar yang Sarat Makna

Ilustrasi© wikipedia.org

Berikut ini adalah kumpulan puisi Chairil Anwar yang sarat makna tentang kehiudpan.

 

Kepada Peminta-minta

Baik, baik, aku akan menghadap Dia

Menyerahkan diri dan segala dosa 

Tapi jangan tentang lagi aku

Nanti darahku jadi beku

 

Jangan lagi kau bercerita

Sudah tercacar semua di muka

Nanah meleleh dari muka

Sambil berjalan kau usap juga

 

Bersuara tiap kau melangkah

Mengerang tiap kau memandang

Menetes dari suasana kau datang

Sembarang kau merebah

 

Mengganggu dalam mimpiku

Menghempas aku di bumi keras

Di bibirku terasa pedas

Mengaum di telingaku

 

Baik, baik, aku akan menghadap Dia

Menyerahkan diri dan segala dosa

Tapi jangan tentang lagi aku

Nanti darahku jadi beku

 

Yang Terampas dan Yang Terputus

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,

menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,

malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

 

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

 

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang

dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;

tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

 

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

 

Kepada Kawan

Sebelum ajal mendekat dan menghianat

Mencengkam dari belakang ketika kita tidak melihat

Selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa

 

Belum bertugas kecewa dan gentar belum ada

Tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam

Layar merah berkibar hilang dalam kelam

Kawan, mari kita putuskan kini di sini

Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri

 

Jadi

Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan

Tembus jelajah dunia ini dan balikkan

Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu

Pilih kuda yang paling liar, pacu laju

Jangan tembatkan pada siang dan malam

 

Dan

Hancurkan lagi apa yang kau perbuat

Hilang sonder pusaka, sonder kerabat

Tidak minta ampun atas segala dosa

Tidak memberi pamit siapa saja

 

Jadi

Mari kita putuskan sekali lagi

Ajal yang menarik kita, kan merasa angkasa sepi

Sekali lagi kawan, sebaris lagi

Tikamkan pedangmu hingga ke hulu

Pada siapa yang mengairi kemurnian madu…!!

 

Selamat Tinggal

Ini muka penuh luka

Siapa punya?

 

Kudengar seru menderu

Dalam hatiku

Apa hanya angin lalu?

 

Lagi lain pula

Menggelepar tengah malam buta

 

Ahh!

 

Segala menebal, segala mengental

Segala tak kukenal..!!!

Selamat tinggal…!!

 

Puisi Kehidupan

 

Hari hari lewat, pelan tapi pasti

Hari ini aku menuju satu puncak tangga yang baru

Karena aku akan membuka lembaran baru

Untuk sisa jatah umurku yang baru

Daun gugur satu-satu

Semua terjadi karena ijin Allah

Umurku bertambah satu-satu

Semua terjadi karena ijin Allah

Tapi… coba aku tengok kebelakang

Ternyata aku masih banyak berhutang

Ya, berhutang pada diriku

Karena ibadahku masih pas-pasan

Kuraba dahiku

Astagfirullah, sujudku masih jauh dari khusyuk

Kutimbang keinginanku….

Hmm… masih lebih besar duniawiku

 

Ya Allah

 

Akankah aku masih bertemu tanggal dan bulan yang sama di

tahun depan?

Akankah aku masih merasakan rasa ini pada tanggal dan bulan

yang sama di tahun depan?

Masihkah aku diberi kesempatan?

 

Ya Allah….

 

Tetes airmataku adalah tanda kelemahanku

Rasa sedih yang mendalam adalah penyesalanku

Astagfirullah…

Jika Engkau ijinkan hamba bertemu tahun depan

Ijinkan hambaMU ini, mulai hari ini lebih khusyuk dalam ibadah

Timbangan dunia dan akhirat hamba seimbang

Sehingga hamba bisa sempurna sebagai khalifahMu

Hamba sangat ingin melihat wajahMu di sana

Hamba sangat ingin melihat senyumMu di sana…

Ya Allah,

Ijikanlah

 

Itulah kumpulan puisi Chairil Anwar yang sarat makna dan menginspirasi. Selain kumpulan puisi di atas, sebenarnya masih banyak karya Chairil Anwar yang telah melegenda. Namun banyaknya puisi Chairil Anwar tak sanggup disajikan di dalam artikel ini. Meskipun hidup hanay selama 27 tahun, Chairil Anwar telah melahirkan banyak karya puisi yang bisa menginspirasi sastrawan-sastrawan setelahnya.

 

(Dilansir dari berbagai sumber)

Beri Komentar