Penuhi Pesan Terakhir Ibunda, Penyandang Tunanetra Khatam Quran

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 18 Februari 2020 10:41
Penuhi Pesan Terakhir Ibunda, Penyandang Tunanetra Khatam Quran
Meski terbatas, semangat menghapal Alquran begitu tinggi.

Dream - Annis Wikhdati Nur Ilahi, 23 tahun, duduk bersila. Di pangkuannya, ada semacam bundel berisi kertas putih.

Tak tampak ada tulisan dalam bundel itu. Tetapi, jika dilihat lebih teliti. titik-titik timbul dengan bentuk tertentu ada di sana.

Itulah yang disebut buku braille. Lebih tepatnya Alquran braille, karena rangkaian titik-titik itu berisi ayat-ayat suci.

Alasan satu-satunya Annis menggunakan Alquran tersebut adalah dia terlahir dengan kondisi tubuh yang tidak sempurna. Sedari kecil, dia sudah tidak bisa melihat.

Membaca Alquran braille memang sulit, terutama jika berkaitan dengan makharijul huruf. Untuk menyempurnakan bacaan, Annis mengandalkan rekaman audio murattal Alquran.

1 dari 5 halaman

Baca Alquran Braille, Sempurnakan Dengan Rekaman Murottal

Annis merupakan salah satu santriwati di Rumah Tahfiz Sekolah Luar Biasa Beringin Bhakti di Jalan Pangeran Cakra Buana, Kepongpongan, Talun, Cirebon, Jawa Barat. Di rumah tahfiz ini, Annis bersama sejumlah santriwati tunanetra lainnya mengazamkan diri untuk menjadi penghapal Alquran.

" Dulu Ibu sebelum meninggal meminta saya agar mengkhatamkan hapalan Quran. Alhamdulillah berkat alamarhumah ibu, saya mampu mengaji dan menghafal sampai sekarang," ujar Annis, melalui keterangan tertulis diterima Dream dari PPPA Daarul Quran.

 Santriwati tunanetra© istimewa

Dengan perjuangan penuh semangat, Annis telah menghapalkan juz 30 dan kini sedang menuntaskan hapalan jus 1. Proses belajar Alquran sudah dijalani Annis sejak kecil, semangat itu muncul pertama kali dari mushola milik keluarga.

 

2 dari 5 halaman

Tak Lelah Menghapal Alquran

Annis selalu memanfaatkan waktu luang untuk menghapal. Ditemani Alquran braille dan rekaman murattal, Annis berusaha menancapkan setiap ayat Alquran dalam ingatannya.

" Lebih enak pakai audio karena bisa untuk memastikan kebenaran bacaan dari Alquran braille. Di sini Alquran braille juga terbatas, jadi harus gantian sama teman-teman," kata dia.

 Santriwati tunanetra© istimewa

Pimpinan Cabang Daarul Quran Cirebon, Abdul Aziz, mengatakan Annis dan teman-temannya memberikan inspirasi kepada banyak orang. Di tengah keterbatasan, mereka tidak menyerah dalam menghapal Alquran.

" Sampai saat ini kami masih menggalang donasi baik melalui Rekening Sedekah PPPA Daarul Qur’an, Sedekah Online maupun ke berbagai komunitas untuk mewujudkan mimpi Annis dan teman-temannya sesama tunanetra untuk menjadi seorang hafidz dan hafidzah Quran," kata dia.

3 dari 5 halaman

Anak-Anak Tunanetra Lulus Jadi Hafiz Alquran

Dream - Gedung Al Asyari Universitas Islam Malang (Unisma) tampak sibuk pada Minggu 9 Februari 2020. Di sana sedang ada hajatan besar, Wisuda Tahfiz Jawa Timur Menghafal yang digelar Rumah Tahfiz Center PPPA Daarul Quran

Wisuda itu diikuti banyak santriwan dan santriwati dari seluruh Jatim. Mereka ingin menguji daya hafalnya yang telah dilatih dengan keras.

Ada yang menarik di acara wisuda kali ini, dengan kehadiran 16 santri Rumah Belajar Alquran Sekolah Luar Biasa (SLB) Kedungkandang, Malang. Mereka begitu bersemangat dalam menghapal Alquran meski memiliki keterbatasan fisik.

Sebanyak 15 santri tersebut merupakan peyandang tuna netra, sedangkan satu sisanya menyandang down syndrom. Selama ini, mereka belajar membaca, menulis, dan menghapal dengan Alquran Braille.

4 dari 5 halaman

Berbekal Alquran Braille

Perjuangan mereka tentu lebih keras dibandingkan santri normal. Namun begitu, berkat semangat yang gigih akhirnya mereka sanggup menghapal Ayat-ayat Suci.

" Alhamdulillah, saya senang anak-anak bersemangat belajar Alquran bersama saya dan teman-teman. Semoga bisa terus istiqomah membina mereka hingga lancar membaca dan menghapalkan Alquran," ujar founder Rumah Belajar Alquran, Taufiqurrahman, melalui keterangan tertulis diterima Dream.

 santri tuna netra© Daarul Quran

Taufiq mengatakan mengikuti Wisuda Tahfiz Jawa Timur Menghafal merupakan pengalaman yang baru pertama kali dirasakan para santri Rumah Belajar Alquran. Para santri tampak bersemangat mengikuti ujian hapalan dan wisuda.

5 dari 5 halaman

Santri Menginspirasi

Ditemani orangtua masing-masing, para santri melantunkan ayat-ayat Alquran yang telah mereka hapalkan di depan penguji. Para orangtua sampai menangis, merasakan haru ketika menyaksikan buah hatinya telah selesai membacakan hafalannya.

" Kami sangat bahagia bisa melihat anak-anak senang dan mengenal banyak teman baru," ujar Sekar, ibu dari salah satu santri tuna netra.

Wisuda Tahfiz Jawa Timur Menghapal diikuti 2.850 santri dari 19 kabupaten/kota di Jatim. Para santri terdiri dari usia balita, anak-anak, remaha, mahasiswa, hingga para ibu.

 santri tuna netra© Daarul Quran

Pimpinan Daarul Quran Surabaya, Nahar Zainuddin, mengatakan kehadiran para santri tahfiz tuna netra merupakan kesempatan yang istimewa. Dia berharap para santri tersebut dapat menjadi sumber inspirasi bagi yang lain untuk lebih bersemangat lagi dalam menghapal Alquran.

" Kehadiran para santri tuna netra adalah bukti nyata semua bisa menghafal Alquran asalkan ada niat dan kesungguhan hati," kata Nahar.

Beri Komentar
Indah Permatasari: Karena Mimpi Aku Hidup