`Mak Ikah, Jangan Lagi Tinggal di Kandang Kambing...`

Reporter : Maulana Kautsar
Kamis, 24 Maret 2016 10:29
`Mak Ikah, Jangan Lagi Tinggal di Kandang Kambing...`
Kondisi ekonomi membuat Mak Ikah tinggal bersama cucunya di kandang domba. Sang suami yang terserang stroke, tidur di sebelah kandang.

Dream - Dua tahun terakhir, Mak Ikah (70), warga Kampung Legoknyenang, Desa Cikujang, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, terpaksa tinggal di bekas kandang kambing. Kandang 3x4 meter, beralas tanah, berdinding bilik bambu rapuh itu menjadi istananya.

Kondisi ekonomi membuat Mak Ikah tinggal bersama cucunya di kandang domba. Sang suami yang terserang stroke, tidur di sebelah kandang.

Dua hari lalu, bangunan yang tak layak disebut rumah itu akhirnya diratakan dengan tanah. Adalah Kapolres Sukabumi, Kota Jawa Barat Ajun Komisaris Besar Polisi Diki Budiman dan jajarannya yang turut membantu Mak Ikah.

Kapolres Diki menyerahkan sejumlah material bangunan kepada Mak Ikah untuk membangun rumah layak huni bersama kedua cucunya.

Rasa haru pun muncul di wajah Mak Ikah kala menerima beberapa bahan material bangunan yang akan dipergunakan untuk pembangunan tempat tinggalnya yang baru. Doa-doa terlantun dari mulut Mak Ikah untuk Kapolres Sukabumi Kota dan jajarannya serta sejumlah warga lainnya yang akan membantu membangun tempat tinggal baru untuknya.

Setelah proses penyerahan bahan material dari Kapolres ke Mak Ikah, sejumlah anggota Polres Sukabumi Kota dibantu warga lainnya terlihat membongkar bangunan bekas kandang kambing itu.

Satu persatu genteng yang dijadikan sebagai atap bekas kandang kambing diturunkan warga sekitar dan sejumlah anggota Polres Sukabumi Kota. Dalam waktu kurang dari satu jam, bekas kandang kambing yang dijadikan tempat tinggal oleh Mak Ikah dan kedua cucunya itu pun rata dengan tanah.

Dalam keterangannya, Kapolres Sukabumi Kota AKBP Diki Budiman, SIK MH menyampaikan, pembangunan rumah layak huni itu akan dipercepat. Sehingga dalam beberapa hari kedepan, rumah tersebut dapat segera ditempati oleh Mak Ikah dan kedua cucunya. (Ism, Sumber: Facebook Divisi Humas Polri)

1 dari 3 halaman

Bripda Taufiq, Polisi Jujur yang Tinggal di Kandang Sapi

Dream - Menolak menyerah di tengah keterbatasan. Begitulah yang ingin ditunjukkan seorang polisi berpangkat Bripda, Muhammad Taufiq Hidayat.

Berasal dari keluarga miskin dan tinggal di bangunan bekas kandang sapi, tidak lantas membuat polisi muda ini patah arang, mewujudkan cita-citanya bergabung bersama Polri. 

Bripda Taufiq tidak merasa gengsi, meski saban hari sering menghirup bau tengik kotoran sapi dan ditemani nyamuk-nyamuk ganas di rumahnya.

Jika menengok rumah Bripda Taufiq memang jauh dari layak. Dia tinggal bersama sang ayah dan tiga adiknya di bangunan semi permanen di Jongke Tengah, Sendangadi, Mlati, Sleman. Dulunya bangunan ini difungsikan sebagai kandang sapi oleh kelompok peternak di kampungnya.

Bangunan tersebut tidak memiliki daun pintu, hanya gorden kucal yang menutupnya. Dindingnya pun tak lagi utuh. Sebagian saja yang dibatako, sisanya lagi bolong. Sebuah spanduk bekas pun dibentangkan menggantikan tembok.

Di atas lantai tanah, ada dua buah ranjang dengan kasur lusuh dan sebuah lemari kayu besar yang sudah keropos. Rumah itu dibangun oleh ayahnya setelah berpisah dengan ibunya dua tahun lalu. Meski hanya bekas kandang sapi, mereka tetap harus membayar sewa tanahnya.

" Itu tanah khas desa jadi tetap harus bayar, dulu saya punya rumah di Jongke juga, tapi dijual setelah orang tua berpisah," ujar Taufiq dikutip Dream.co.id dari laman Merdeka.com, Kamis 15 Januari 2014.

Saat malam tiba, Bripda Taufiq tidur bersama dengan tiga adiknya di dalam rumah. Sementara sang ayah tidur di bak mobil tua miliknya yang biasa dipakai untuk menambang pasir. " Nggak ada tempatnya, jadi bapak tidur di bak mobil," katanya. (Ism)

2 dari 3 halaman

Kisah Dua Bocah Manado Tinggal di Kandang Anjing

Dream - Akhir tahun lalu, warga Manado, Sulawesi Utara digegerkan dengan kisah pilu dua bocah tinggal di kandang anjing. Ramadhan (3) dan Nona (4,5) diduga ditelantarkan kedua orangtuanya hingga hidup berjuang sendiri tanpa bantuan siapapun.

Keduanya tinggal dan menetap di bangunan berukuran sekitar 4x7 meter. Hanya beratap terpal plastik, beberapa tiang, tanpa jendela dan pintu. Di dalam rumah yang mirip tenda pengungsian itu juga hidup hewan-hewan ternak. Lebih mirip kandang. Karena ayam, bebek, dan anjing tinggal bersama mereka.

Panci, piring, kain-kain kotor dan sejumlah barang-barang lainnya berserakan. Itulah kediaman yang ditinggali mereka sejak 3-4 tahun lalu. Letaknya di atas sebuah bukit kosong, tak jauh dari Perumahan Telkom, Kalasey. Kedua bersaudara ini harus menghidupi diri sendiri sepanjang hari karena ibu mereka, Martha, diduga menelantarkan.

Terkadang, warga terpaksa menaruh makan di piring dan menaruh di jalan. Itu dilakukan warga karena kedua bocah itu kerap berkeliaran dan tak menetap. Saat lelah berjalan dan merasa lemah karena lapar, mereka bisa tidur lelap di mana saja.

Penasaran dengan kisah dua bocah itu? Klik di sini  (Ism)

Kirimkan blog atau website kamu kekomunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog/web
3. Foto dengan ukuran high-res

 

3 dari 3 halaman

Bocah Ini Dipaksa Orangtua Tinggal di Kandang Babi

Dream - Seorang bocah berusia tujuh tahun ditemukan hidup bersama kawanan babi dan tidak bisa berkomunikasi dengan manusia.

Ketika pekerja sosial mengunjungi rumah sebuah keluarga di Kota Fangyu, Provinsi Henan, mereka menemukan anak itu tinggal di salah satu kandang babi yang berada di luar kediaman kedua orangtuanya.

Kondisinya sangat kotor dengan memar dan luka di sekujur tubuhnya. Anak itu diduga sengaja ditelantarkan orangtuanya.

Foto-foto bocah malang yang diposting di media sosial menunjukkan dia naik babi di belakang rumahnya.

Setelah dilakukan penelusuran, para tetangga mengatakan anak itu bernama Liu Hongbo. Mereka sering mendengar Hongbo menangis setelah dipukuli oleh ibunya.

" Ketika ditegur agar tidak memukuli Hongbo, ibunya hanya tersenyum saja, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Hongbo sering dipukuli," kata salah satu tetangga.

Ketika ditemukan pekerja sosial, Hongbo sedang tidur di atas tumpukan baju di kandang babi. Sayangnya, pekerja sosial dari panti asuhan anak ini tidak bisa mengajak Hongbo pergi karena mereka butuh izin dari pemerintah agar bisa merawatnya.

Hongbo tidak bisa berbicara. Namun spesialis anak yakin jika ditempatkan di lingkungan normal, Hongbo kemungkinan masih bisa belajar untuk berbicara dan punya kehidupan normal.

ICrossChina melaporkan, anak itu kini telah dikirim ke bibinya untuk tinggal bersamanya. Hongbo akan dirawat di rumah sakit setempat untuk pemeriksaan fisik.

(Ism, Sumber: Mirror.co.uk)

Beri Komentar
Potret Aktifitas Prisia Nasution Saat Jelajahi Alam