Perjuangan Terakhir Sang Loper Koran Penghuni Rumah Reyot

Reporter : Maulana Kautsar
Rabu, 2 Mei 2018 17:40
Perjuangan Terakhir Sang Loper Koran Penghuni Rumah Reyot
"Kami lebih baik kerja sendiri daripada mengharapkan orang,"

Dream - Berkurangnya pembaca koran tak menghalangi Agussalim, 35 tahun, untuk terus menjualnya. Koran menjadi usaha terakhirnya untuk bisa menghidupi keluarganya.

Demi meraih rupiah dari berjualan koran dia kerap terlambat makan dan kelelahan. Selain akibat pekerjaannya, kondisi ekonomi Agussalim juga memprihatinkan.

Bayangkan saja, bersama isti dan tiga orang anaknya, Agussalim tinggal di rumah reyot berukuran 4 x 4 meter.

Akibat kelelahan dan tak teratur makan, Agussalim sempat dibawa ke rumah sakit pada 2012. Rupanya, inilah kali terakhir Agussalim menginjakkan kaki di rumah sakit. Keterbatasan biaya menjadi alasannya tak mendapatkan kembali perawatan setelah itu.

Kondisi yang membuat sakit yang diderita Agussalim semakin parah. Pekan lalu, Agussalim menghembuskan nafas terakhirnya.

Tiara, istri Agussalim, yang ditemui Liputan6.com, bercerita mengenai kehidupan keluarganya.

" Ini rumah kami sendiri yang buat, hasil dari saya dan bapak menjual koran dan tisu di lampu merah," kata Tiara.

Rumah ituberdiri di atas lahan milik seorang warga Kendari yang berbaik hati meminjamkan tanah. Agussalim berharap dari gubuk reyot itu meraka dapat memiliki rumah sendiri.

" Tapi, belum sempat punya rumah, Bapak sudah meninggal. Sekarang saya merawat ketiga anak saya," ucap dia.

Tiga anak Tiara dan Agus masih bersekolah. Putra sulungnya, Herman Lili, 13 tahun menapaki kelas 3 sekolah dasar (SD). Adiknya, Rika, 12 tahun, duduk di kelas 2 SD, sementara itu bungsu, Rustam Marzuki, 6 tahun, belum bersekolah.

Meski hidup dalam kesusahan, Tiara enggan meminta-minta. Dia lebih baik bekerja mandiri.

" Kami lebih baik kerja sendiri daripada mengharapkan orang," ujar dia.

Untungnya, beberapa orang tetangga kerap menolong kehidupan keluarga Agussalim. 

" Kalau tetangga yang bawa, ada sayur, ikan, dan nasi," ucap Tiara.

Dua hari sejak kematian Agussalim, pihak kantor tempatnya menjual koran juga belum datang menjenguk kondisinya. Hanya Kapolres Kendari, yang datang bersama anggota dan pengurus Bhayangkari.

" Saya tahunya dari media sosial, anggota dan teman-teman wartawan," kata Kapolres Kendari, AKBP Jemi Junaidi.

Kapolres Kendari, mengatakan akan berkoordinasi dengan Pemkot Kendari untuk memberikan solusi bagi keluarga penjaja koran ini. Sebab, sejak pertama menginjakkan kaki di gubuk milik Tiara dan suaminya, Kapolres langsung tersentuh.

Bahkan, kaki istri Kapolres Kendari, Siska, sempat terperosok begitu masuk ke dalam rumah loper koran ini. Lantai papan yang sudah lapuk tidak mampu menahan berat empat orang diatasnya.

Simak selengkapnya kisah Tiara dan keluarga Agussalim di tautan ini.

(Sah, Sumber: Liputan6.com/Ahmad Akbar Fua)

Beri Komentar
Tips Jitu Menyeimbangkan Karier dan Pendidikan Ala Tiffani Afifa