5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa
© Pexels.com/Gabby K
Reporter : Abidah
Keberagaman etnis biasanya berkaitan dengan sejumlah unsur, seperti kesamaan leluhur, bahasa, budaya, dan sejarah.
DREAM.CO.ID - Bayangkan mengambil dua orang secara acak dari sebuah negara, lalu hampir pasti keduanya berasal dari kelompok etnis yang berbeda. Kondisi seperti itu bukan sekadar gambaran tentang masyarakat yang beragam. Di Papua Nugini, misalnya, ukuran keberagaman etnis dalam sebuah penelitian bahkan mencapai angka sempurna 1,0000.
Keberagaman etnis biasanya berkaitan dengan sejumlah unsur, seperti kesamaan leluhur, bahasa, budaya, dan sejarah. Negara dengan wilayah luas, kondisi geografis yang sulit ditembus, serta sejarah migrasi panjang cenderung memiliki masyarakat yang lebih terfragmentasi secara etnis.
Namun, istilah “paling beragam” perlu dipahami berdasarkan cara pengukurannya. Daftar ini menggunakan penelitian ilmuwan politik James Fearon pada 2003 yang mengukur keberagaman etnis di 160 negara. Skornya berada antara 0 dan 1: semakin mendekati 1, semakin tinggi tingkat fragmentasi etnis. Pengukuran Fearon sangat dipengaruhi oleh bahasa dan hanya menghitung kelompok yang memiliki sedikitnya 1 persen dari populasi.
Berikut lima negara dengan skor keberagaman etnis tertinggi menurut ukuran tersebut.
1. Papua Nugini
Papua Nugini menempati posisi teratas dengan skor 1,0000. Salah satu alasannya berkaitan dengan aturan penghitungan penelitian tersebut: tidak ada satu kelompok etnis pun yang mencapai 1 persen populasi sehingga negara ini secara statistik tidak memiliki kelompok dominan.
Keberagaman Papua Nugini juga terlihat dari bahasanya. Negara ini memiliki lebih dari 800 bahasa yang masih digunakan. Bahkan, masyarakat yang tinggal relatif berdekatan dapat menggunakan bahasa yang memiliki hubungan sangat jauh satu sama lain.
Kondisi geografis ikut membentuk keragaman tersebut. Pegunungan dan lembah yang sulit ditembus selama ribuan tahun membuat komunitas-komunitas berkembang relatif terpisah dari tetangganya.
2. Tanzania
Tanzania dihuni lebih dari 100 kelompok etnis dengan banyak bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Meski demikian, masyarakatnya memiliki satu bahasa bersama, yakni Swahili.
Setelah kemerdekaan, Swahili dipromosikan sebagai bahasa nasional dan menjadi sarana komunikasi lintas kelompok. Keberadaan bahasa bersama tersebut menunjukkan bahwa keberagaman etnis yang tinggi tidak otomatis berarti masyarakatnya terpecah secara sosial.
3. Republik Demokratik Kongo
Republik Demokratik Kongo memiliki sekitar 110 juta penduduk, lebih dari 200 kelompok etnis, dan lebih dari 240 bahasa.
Bahasa Prancis berfungsi sebagai bahasa resmi, sementara Lingala, Kikongo, Tshiluba, dan Swahili menjadi empat bahasa nasional yang digunakan dalam berbagai wilayah dan situasi.
Skala penduduk dan luas wilayah negara tersebut membuat keragaman masyarakatnya semakin kompleks, dengan kelompok etnis dan bahasa yang tersebar di berbagai kawasan.
4. Uganda
Uganda memiliki sekitar 51 juta penduduk, tetapi tidak ada satu kelompok etnis yang mendominasi mayoritas penduduk. Baganda merupakan kelompok terbesar dengan sekitar 16,9 persen populasi, diikuti Banyankole sebesar 9,5 persen dan Basoga sekitar 8,4 persen.
Setelah kelompok-kelompok terbesar tersebut, populasi tersebar di antara puluhan kelompok lain. Distribusi yang relatif tersebar inilah yang turut membuat Uganda memperoleh posisi tinggi dalam indeks fragmentasi etnis.
5. Liberia
Liberia menjadi negara kelima dalam daftar tersebut. Negara di pesisir Afrika Barat ini berpenduduk sekitar 5,6 juta orang dan memiliki sekitar 28 kelompok masyarakat adat, dengan bahasa masing-masing.
Bahasa-bahasa tersebut secara umum dikelompokkan ke dalam tiga rumpun besar, yakni Mande, Kru, dan Mel. Liberia juga memiliki sejarah demografis yang berbeda karena pada abad ke-19 negara ini menjadi tempat pemukiman orang-orang kulit hitam Amerika yang telah dibebaskan. Keturunan mereka, Americo-Liberians, kemudian membentuk komunitas tersendiri di tengah mayoritas penduduk pribumi.
Mengapa Banyak Negara Afrika Berada di Puncak?
Di luar lima besar, negara-negara Afrika mendominasi peringkat atas dalam pengukuran Fearon. Kamerun, Togo, Afrika Selatan, Madagaskar, Gabon, Kenya, dan Ghana juga memiliki tingkat fragmentasi etnis yang tinggi.
Salah satu penjelasan yang sering dikaitkan dengan kondisi tersebut adalah sejarah pembentukan perbatasan negara di Afrika. Pada masa kolonial, banyak batas wilayah ditentukan oleh kekuatan Eropa tanpa sepenuhnya mengikuti persebaran kelompok masyarakat yang telah ada. Akibatnya, banyak negara modern menaungi berbagai kelompok etnis yang sebelumnya berkembang dalam wilayah dan jaringan sosial masing-masing.
Meski demikian, keberagaman tidak dapat direduksi menjadi satu angka. Indeks Fearon sangat menekankan fragmentasi berdasarkan bahasa dan komposisi kelompok etnis. Jika ukuran yang digunakan adalah keragaman asal imigran, misalnya, negara seperti Kanada, Australia, dan Amerika Serikat dapat memiliki posisi yang berbeda.
Dengan demikian, daftar ini lebih tepat dibaca sebagai gambaran tentang fragmentasi etnis dan bahasa, bukan ukuran tunggal tentang seberapa beragam sebuah negara. Setiap metode pengukuran akan menangkap sisi keberagaman yang berbeda.