Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli
© Pexels.com/Nguyen Tinh Thn
Reporter : Abidah
Hingga kini belum ada strategi yang terbukti dapat menunda menopause secara aman dan efektif.
DREAM.CO.ID - Menopause bukan sekadar akhir dari menstruasi dan masa subur. Perubahan hormon yang menyertainya juga berkaitan dengan kesehatan jantung, tulang, dan proses penuaan tubuh. Karena itu, muncul pertanyaan yang semakin menarik perhatian: mungkinkah menopause ditunda agar perempuan tetap sehat lebih lama?
Pertanyaan ini antara lain mencuat setelah influencer kesehatan dan umur panjang, Kayla Barnes-Lentz, mengungkapkan upayanya menunda menopause hingga usia 60 tahun melalui kombinasi kebiasaan hidup sehat dan sejumlah perawatan eksperimental. Dilansir dari Health, hingga kini belum ada strategi yang terbukti dapat menunda menopause secara aman dan efektif.
Mengapa Menopause Terlambat Dikaitkan dengan Umur Panjang?
Menopause merupakan fase ketika menstruasi berhenti secara permanen akibat berkurangnya fungsi ovarium. Pada masa perimenopause hingga menopause, produksi hormon seperti estrogen dan progesteron menurun secara bertahap. Kedua hormon tersebut memiliki fungsi yang memengaruhi berbagai bagian tubuh, bukan hanya sistem reproduksi.
Berenice Benayoun, profesor madya gerontologi dan ilmu biologi di Leonard Davis School of Gerontology, University of Southern California, menjelaskan bahwa salah satu kesalahpahaman tentang menopause adalah menganggapnya semata-mata sebagai persoalan kesuburan.
Padahal, perubahan hormon selama fase ini diperkirakan ikut berkontribusi terhadap meningkatnya risiko sejumlah masalah kesehatan, termasuk penyakit jantung, stroke, dan osteoporosis. Sejumlah penelitian juga menghubungkan menopause pada usia yang lebih tua dengan risiko lebih rendah terhadap beberapa penyakit tersebut sepanjang hidup serta harapan hidup yang lebih panjang.
Meski demikian, hubungan tersebut tidak otomatis berarti menunda menopause akan membuat seseorang hidup lebih lama. Waktu terjadinya menopause dipengaruhi banyak faktor, dan kaitan antara usia menopause dengan kesehatan tidak membuktikan bahwa memperlambat prosesnya pasti menghasilkan manfaat yang sama.
Genetik dan Gaya Hidup Memengaruhi Waktu Menopause
Salah satu faktor utama yang menentukan usia menopause adalah genetik. Kara Goldman, ahli endokrinologi reproduksi di Northwestern University Feinberg School of Medicine, menjelaskan bahwa usia menopause seorang ibu memiliki hubungan kuat dengan usia menopause anak perempuannya.
Faktor lingkungan juga berpengaruh. Paparan kemoterapi dan pengalaman buruk pada masa kanak-kanak, misalnya, dapat mempercepat penuaan ovarium dan berkontribusi terhadap menopause yang terjadi lebih dini.
Di sisi lain, kebiasaan hidup sehat berpotensi membantu menjaga kesehatan ovarium. Pola makan Mediterania dan olahraga teratur dikaitkan dengan kesehatan metabolik yang lebih baik. Meski belum terbukti dapat menunda menopause, kebiasaan tersebut mungkin berhubungan dengan risiko menopause dini yang lebih rendah.
Kesehatan metabolik berkaitan dengan kemampuan tubuh mengatur gula darah dan mengolah lemak. Menurut Goldman, gangguan metabolik dapat meningkatkan aktivitas jalur biologis bernama mTOR (mammalian target of rapamycin), yang berperan dalam pertumbuhan dan reproduksi. Aktivitas mTOR yang lebih tinggi dapat memicu hilangnya folikel ovarium sehingga mempercepat proses penuaan organ tersebut.
Merokok juga menjadi faktor penting yang berkaitan dengan penuaan ovarium. Karena itu, berhenti merokok, berolahraga, dan menjaga pola makan tetap relevan untuk kesehatan jangka panjang, meskipun manfaatnya bukan jaminan menopause akan datang lebih lambat.
Rapamycin dan Terapi Eksperimental Belum Terbukti
Salah satu pendekatan yang sedang diteliti adalah rapamycin, obat yang menghambat jalur mTOR. Dalam penelitian pada tikus, obat ini menunjukkan potensi melindungi ovarium dari penuaan. Namun, penelitian untuk mengetahui apakah efek serupa dapat terjadi pada manusia masih berada pada tahap awal.
Terapi cahaya merah dan terapi oksigen hiperbarik juga disebut-sebut sebagai cara memperlambat penuaan ovarium. Akan tetapi, Goldman menegaskan belum ada bukti kuat bahwa kedua metode tersebut dapat mengubah waktu menopause. Keduanya juga memiliki risiko keamanan tertentu.
Para ahli mengingatkan agar perempuan tidak terburu-buru mengeluarkan biaya atau menjalani perawatan eksperimental tanpa bukti manfaat yang memadai.
Fokus pada Kesehatan, Bukan Sekadar Menunda Menopause
Alih-alih mengejar usia menopause tertentu, para ahli menyarankan perempuan berfokus pada upaya mengurangi risiko kesehatan selama masa transisi. Juliana Kling, pakar penyakit dalam kesehatan perempuan di Mayo Clinic, merekomendasikan pengurangan makanan olahan dan alkohol, pengelolaan stres, serta tidur yang cukup.
Sebagian perempuan juga dapat mempertimbangkan terapi penggantian hormon atau hormone replacement therapy (HRT), berupa pil, plester, atau sediaan lain yang menggantikan hormon seperti estrogen dan progesteron. Terapi ini dapat membantu meredakan gejala menopause dan mengurangi dampak tertentu terhadap kesehatan, tetapi kesesuaiannya perlu dinilai bersama tenaga medis berdasarkan kondisi dan risiko masing-masing.
Menopause merupakan proses biologis alami yang pada akhirnya akan dialami perempuan. Walaupun penelitian tentang cara memperlambatnya terus berkembang, bukti saat ini belum mendukung klaim bahwa menopause dapat ditunda hingga usia tertentu melalui gaya hidup atau terapi eksperimental. Menjaga kesehatan tulang, jantung, tidur, dan metabolisme tetap menjadi langkah yang lebih berlandaskan bukti untuk menghadapi fase tersebut.