Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'

News | Jumat, 23 Oktober 2026 13:00

Reporter : Syahid Latif

Pesan Wapres RI ke-10 dan ke-12 itu disampaikan saat memberikan kuliah di Harvard University, AS.

DREAM.CO.ID - Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla menilai kondisi sosial-ekonomi Indonesia belakangan ini dipengaruhi empat faktor dari internal dan eksternal yang perlu dicermati sekaligus diantisipasi secara serius.

Di tengah situasi dunia yang semakin tidak pasti, kepemimpinan membutuhkan kemampuan membaca perubahan global sekaligus keberanian membenahi persoalan di dalam negeri.

Peringatan tersebut disampaikan JK, sapaan mantan Wapres Jusuf Kalla, saat menyampaikan kuliah bertajuk Leadership Amidst Uncertainty : Lessons from Experience atau “Kepemimpinan di Tengah Ketidakpastian : Pelajaran dari Pengalaman” di Belfer Case Study Room, CGIS South, Harvard University, Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat pada Kamis, 22 Oktober 2026 siang waktu setempat.

Dalam kuliah yang dihadiri mahasiswa Harvard University, Massachusetts Institute of Technology (MIT), Boston University, serta sejumlah perguruan tinggi lain di kawasan New England, Amerika Serikat, JK menyampaikan dinamika geopolitik tidak hanya menentukan arah hubungan antarnegara, tetapi juga memengaruhi stabilitas ekonomi dan kehidupan masyarakat. Menghadapi situasi tersebut, seorang pemimpin perlu memiliki kemampuan membaca situasi, mengambil keputusan, dan mengantisipasi dampak krisis yang meluas melampaui batas negara.

“Ketidakpastian dunia saat ini sangat dipengaruhi oleh perang di berbagai kawasan. Konflik Rusia-Ukraina dan ketegangan di Timur Tengah, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, berdampak terhadap perekonomian dunia. Indonesia juga tidak bisa menghindari dampak dari situasi tersebut,” ujar JK.

2 dari 4 halaman

Empat Faktor yang Perlu Diwaspadai

Dalam paparannya, JK menguraikan kondisi sosial-ekonomi Indonesia saat ini diperngaruhi oleh empat faktor yang dominan. Pertama, situasi global dan dampak perang. Konflik di berbagai kawasan dapat mengganggu pasokan minyak dan komoditas lainnya yang pada akhirnya berpotensi mendorong kenaikan harga, menekan daya beli masyarakat, dan menambah beban perekonomian nasional.

“Kita tidak bisa menganggap persoalan global sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan masyarakat. Ketika pasokan terganggu dan harga naik, rakyat yang merasakan dampaknya secara langsung,” ujar JK.

Faktor kedua adalah bencana alam dan perubahan iklim. Kebakaran hutan yang sedang terjadi saat ini serta fenomena El Niño dikhawatirkan dapat mengganggu produktivitas, ketersediaan air, serta produksi pangan. Pemerintah diharapkan JK dapat mengantisipasi potensi kekurangan beras melalui perencanaan yang matang dan tidak meremehkan risiko yang mungkin terjadi.

JK juga menyoroti korupsi yang berkaitan dengan mahalnya biaya politik sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi sosial-ekonomi Indonesia saat ini. Para politikus saat ini bergulat dengan tingginya biaya yang harus dikeluarkan dalam kontestasi politik, khususnya dalam pemilihan kepala daerah. Seorang calon pemimpin daerah harus memperhitungkan biaya politiknya mulai dari proses pencalonan, kampanye, pembayaran saksi, dan kebutuhan operasional lainnya.

Tingginya biaya politik tersebut, lanjut mantan Ketua Umum Partai Golkar itu, perlu menjadi perhatian karena dapat menciptakan tekanan bagi pejabat terpilih untuk mengembalikan modal yang telah dikeluarkan selama proses pemilihan.

“Kalau biaya untuk menjadi kepala daerah sangat besar, sementara penghasilan resminya jauh lebih kecil, kita harus mempertanyakan bagaimana sistem politik itu dibiayai. Persoalan biaya politik perlu dibenahi agar tidak menjadi pintu masuk korupsi,” kata JK.

Faktor terakhir yang disinggung JK adalah kualitas kebijakan publik dan penentuan prioritas anggaran. Seorang pemimpin negara harus dapat perencanaan yang sistematis sebagai isu penting dengan mempertimbangkan kebutuhan paling mendesak serta kemampuan keuangan negara.

Pemerintah harus berhati-hati dalam menentukan belanja dan memastikan setiap pengeluaran sesuai dengan kapasitas fiskal. Pengeluaran yang tidak terukur dan ketergantungan berlebihan pada utang berisiko menambah beban keuangan negara pada masa mendatang.

“Belanja negara harus disusun berdasarkan skala prioritas dan kemampuan keuangan. Jangan sampai pengeluaran terlalu besar, sementara kemampuan membayar terbatas. Utang hari ini pada akhirnya menjadi tanggungan generasi mendatang,” tegas JK.

3 dari 4 halaman

Punya Uang Saja Tidak Cukup

Menurut JK, sebuah negara saat ini tidak cukup hanya memiliki kekuatan finansial dan kepemilikan peralatan modern untuk menghadapi berbagai tantangan kondisi dunia yang penuh ketidakpastian seperti saat ini. Hal lain yang penting diperhatikan adalah semangat, keberanian, penguasaan ilmu pengetahuan, dan inovasi.

“Uang saja tidak cukup. Kita juga membutuhkan semangat, keberanian, ilmu pengetahuan, dan inovasi. Teknologi harus dikuasai dan kemampuan manusia harus terus dikembangkan,” kata JK dengan mengambil contoh Iran yang tetap mampu mempertahankan kapasitasnya di tengah tekanan dan sanksi internasional selama bertahun-tahun.

Menurut JK, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi salah satu faktor yang mendukung kemampuan suatu negara untuk bertahan menghadapi tekanan.

Selain iran, JK juga menyinggung tantangan keamanan yang dihadapi negara-negara di Timur Tengah, termasuk Arab Saudi dalam menghadapi kelompok bersenjata Houthi. Menurutnya, pengalaman dari konflik di Iran menunjukkan bahwa kekuatan material perlu ditopang kemampuan, strategi, dan semangat untuk menghadapi tantangan.

4 dari 4 halaman

Pandangan yang disampaikan JK dalam perkuliahan di Harvard merupakan bagian dari rangkaian agenda akademiknya di Amerika Serikat. Sebelumnya, JK menghabiskan sekitar dua pekan di Northern Illinois University (NIU), DeKalb, Illinois, melalui program Vice President Kalla Lecture Series.

Di kampus tersebut, JK membahas berbagai isu strategis, mulai dari otonomi daerah dan dinamika politik Indonesia, pengalaman penyelesaian konflik di sejumlah kawasan, hingga tantangan transisi energi hijau. Pada kesempatan yang sama, JK juga menerima penghargaan khusus dari NIU pada 20 Oktober 2026 dalam acara pelepasan tugasnya sebagai dosen tamu.

Setelah NIU dan Harvard university, rangkaian kunjungan JK dijadwalkan berlanjut di MacMillan Center, Yale University, New Haven, Connecticut, pada pada Jumat (23/10/2026). Kali ini JK akan memberikan paparan dengan topik Conflict Resolution and Peacebuilding, Humanitarian and Disaster Response in Pluralistic Indonesia.

Melalui kuliah di tiga universitas tersebut, JK membagikan pengalaman Indonesia dalam menghadapi persoalan politik, ekonomi, konflik, dan pembangunan kepada komunitas akademik internasional.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id