Hampir 3 Juta Orang Tewas akibat Perubahan Iklim dalam 8 Tahun, Panas Ekstrem Jadi Ancaman Utama
© Pexels.com/Gustavo Fring
Reporter : Rizky Wahyu Permana
Penelitian ini memperkirakan lebih dari 500.000 orang meninggal setiap tahun akibat panas selama periode 2016–2023. 68% Kematian disebabkan karena cuaca panas ekstrem.
DREAM.CO.ID - Perubahan iklim bukan lagi sekadar ancaman bagi lingkungan yang dampaknya baru akan dirasakan puluhan tahun mendatang. Dampaknya sudah terlihat dalam kehidupan manusia, mulai dari gelombang panas yang mematikan, kekeringan, kebakaran hutan, hingga meningkatnya risiko banjir dan tanah longsor. Sebuah laporan global terbaru bahkan memperkirakan hampir 3 juta kematian akibat panas selama delapan tahun terakhir berkaitan dengan perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia.
Temuan tersebut berasal dari laporan tahunan Lancet Countdown on Health and Climate Change yang memantau hubungan antara perubahan iklim dan kesehatan manusia. Penelitian ini memperkirakan lebih dari 500.000 orang meninggal setiap tahun akibat panas selama periode 2016–2023. Dari jumlah tersebut, sekitar 68 persen kematian diperkirakan disebabkan oleh perubahan iklim akibat aktivitas manusia.
Jika dihitung selama delapan tahun, jumlahnya mencapai sekitar 2,7 juta kematian. Angka tersebut menjadi salah satu gambaran paling jelas tentang besarnya dampak pemanasan global terhadap kesehatan manusia.
Laporan ini juga menyampaikan bahwa kemajuan dalam mengatasi perubahan iklim belum sebanding dengan meningkatnya risiko kesehatan. Meski sejumlah kebijakan iklim menunjukkan hasil positif, dunia masih bergantung pada bahan bakar fosil yang menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar.
Negara Berkembang Paling Rentan terhadap Panas Ekstrem
Salah satu temuan penting laporan tersebut adalah bahwa negara berkembang menanggung proporsi kematian akibat panas yang lebih tinggi. Kondisi ini mencerminkan ketimpangan dampak perubahan iklim: masyarakat yang kontribusinya terhadap emisi global relatif lebih kecil justru sering menghadapi risiko kesehatan yang lebih berat.
Kelompok rentan seperti lansia, pekerja luar ruangan, masyarakat berpenghasilan rendah, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu menghadapi risiko lebih besar ketika suhu meningkat. Mereka mungkin tidak memiliki akses memadai terhadap pendingin ruangan, tempat berlindung, layanan kesehatan, atau pekerjaan yang memungkinkan mereka menghindari paparan panas.
Paul Beggs, pakar kesehatan dan iklim dari Macquarie University sekaligus salah satu penulis penelitian, mengingatkan bahwa tidak ada wilayah yang sepenuhnya terbebas dari dampak tersebut.
Bahkan di Australia, kematian akibat gelombang panas dan paparan asap kebakaran hutan telah menjadi persoalan kesehatan. Menurutnya, dampak perubahan iklim terhadap kesehatan sudah terjadi dan berpotensi semakin besar.
Gambaran serupa terlihat di Eropa. Sejumlah penelitian yang dirilis setelah musim panas 2026 memperkirakan lebih dari 50.000 orang meninggal akibat panas ekstrem di kawasan tersebut. Sekitar dua pertiga kematian itu dikaitkan dengan perubahan iklim yang disebabkan manusia.
Kekeringan dan Banjir Semakin Mengancam Kesehatan
Laporan Lancet Countdown tidak hanya menyoroti kematian akibat panas. Peneliti juga mencatat bahwa 11 tahun terakhir merupakan periode terpanas dalam catatan pengamatan global. Gelombang panas dan kekeringan semakin sering terjadi, sementara perubahan pola curah hujan meningkatkan risiko hujan ekstrem, banjir, serta tanah longsor.
Pada 2025, lebih dari 50 persen daratan dunia mengalami kekeringan setidaknya selama satu bulan. Kondisi tersebut dapat mengganggu produksi pangan, mengurangi ketersediaan air, dan meningkatkan tekanan ekonomi masyarakat yang bergantung pada pertanian.
Dampak perubahan iklim juga merembet ke produktivitas kerja. Paparan panas menyebabkan hilangnya sekitar 573 miliar jam kerja potensial secara global sepanjang 2025. Kerugian pendapatan yang ditimbulkannya diperkirakan mencapai 1,07 triliun dolar AS.
Negara berpenghasilan rendah dan menengah menjadi kelompok yang paling terdampak. Pekerja konstruksi, petani, buruh lapangan, dan pekerja sektor informal termasuk kelompok yang sulit menghindari paparan panas karena aktivitas mereka berlangsung di luar ruangan.
Bahan Bakar Fosil Masih Mendominasi Energi Dunia
Di tengah meningkatnya dampak kesehatan, penggunaan bahan bakar fosil masih menjadi persoalan utama. Laporan tersebut mencatat bahan bakar fosil masih memasok sekitar 80 persen kebutuhan energi dunia. Emisi dari sektor energi bahkan mencapai rekor tertinggi pada 2024.
Para peneliti juga menyoroti kepentingan industri bahan bakar fosil yang dinilai menghambat upaya peralihan menuju energi bersih. Aktivitas lobi dan penyebaran informasi menyesatkan mengenai perubahan iklim disebut ikut memperlambat kebijakan pengurangan emisi.
Padahal, dampak perubahan iklim tidak berhenti pada kenaikan suhu. Penggunaan bahan bakar fosil juga menghasilkan polusi udara yang secara langsung meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Laporan tersebut memperkirakan bahwa perbaikan kualitas udara akibat peralihan ke energi yang lebih bersih telah mencegah sekitar 400.000 kematian pada 2023 dibandingkan dengan 2016. Peningkatan penggunaan listrik dalam transportasi global bahkan mencapai 427 persen selama periode 2016–2023. Bersama pengendalian polusi udara dan promosi transportasi aktif, perubahan tersebut diperkirakan mencegah sekitar 85.000 kematian di 75 negara.
Potensi pencegahan kematian juga masih besar. Perluasan akses energi terbarukan di luar jaringan listrik utama, menurut laporan tersebut, berpotensi mencegah hingga 2 juta kematian setiap tahun yang berkaitan dengan polusi udara rumah tangga akibat penggunaan bahan bakar padat.
Perubahan Iklim Perlu Dipandang sebagai Darurat Kesehatan
Meski sejumlah perkembangan menunjukkan hasil positif, para peneliti menilai upaya global masih belum cukup cepat. Kemajuan energi terbarukan telah melampaui perkiraan sebelumnya dan sejumlah kebijakan berhasil menekan proyeksi kenaikan suhu global pada 2100 dari sekitar 3,5 derajat Celsius menjadi 2,6 derajat Celsius. Namun, angka tersebut masih menunjukkan risiko pemanasan yang serius.
Situasi juga berpotensi semakin berat jika fenomena El Niño yang kuat terjadi dan memperparah dampak perubahan iklim. Kombinasi suhu tinggi dan perubahan pola cuaca dapat meningkatkan risiko krisis kemanusiaan, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan sumber daya untuk menghadapi bencana.
Karena itu, peneliti mendesak agar perubahan iklim dinyatakan sebagai darurat kesehatan global sehingga negara-negara dapat membangun respons yang lebih terkoordinasi.
Bagi masyarakat, temuan ini menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan hanya persoalan suhu udara atau kerusakan ekosistem. Panas ekstrem dapat meningkatkan risiko kematian, mengurangi kemampuan bekerja, mengganggu ketersediaan pangan, dan memperburuk kualitas hidup.
Perlindungan kesehatan masyarakat perlu berjalan seiring dengan upaya mengurangi emisi. Pengembangan energi bersih, pengendalian polusi, perlindungan pekerja dari paparan panas, serta kesiapan menghadapi bencana menjadi bagian dari respons yang semakin mendesak.
Hampir 3 juta kematian yang diperkirakan berkaitan dengan panas akibat perubahan iklim selama 2016–2023 menjadi pengingat bahwa krisis iklim sudah memiliki konsekuensi nyata bagi kehidupan manusia. Persoalannya bukan lagi semata-mata bagaimana mencegah dampak di masa depan, melainkan seberapa cepat dunia mampu mengurangi kerugian kesehatan yang sudah terjadi.