7 Aturan Parenting yang Tidak Harus Selalu Diikuti dan 3 Hal yang Wajib Diterapkan Orangtua
© Pexels.com/Artem Podrez
Reporter : Abidah
Ada sejumlah hal yang sebenarnya boleh disesuaikan dengan situasi. Namun, di sisi lain, terdapat prinsip dasar yang sebaiknya tetap dijaga.
DREAM.CO.ID - Menjadi orangtua sering kali terasa seperti harus mengikuti buku panduan yang tidak pernah selesai. Ada begitu banyak nasihat tentang bagaimana memberi makan anak, memilihkan pakaian, mengatur waktu bermain, hingga menghadapi tantrum. Belum lagi berbagai standar parenting yang beredar di media sosial dan membuat orangtua merasa harus selalu memberikan yang terbaik setiap saat.
Padahal, tidak semua aturan pengasuhan perlu diterapkan secara kaku. Setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda, begitu pula kondisi setiap keluarga. Ada sejumlah hal yang sebenarnya boleh disesuaikan dengan situasi. Namun, di sisi lain, terdapat prinsip dasar yang sebaiknya tetap dijaga karena berkaitan langsung dengan keamanan, kesehatan, dan perkembangan anak.
Berikut tujuh aturan parenting yang tidak harus selalu diikuti dan tiga prinsip yang sebaiknya menjadi pegangan orangtua.
1. Anak Tidak Harus Selalu Menghabiskan Makanan
Orangtua tentu ingin memastikan anak mendapatkan makanan yang cukup. Namun, memaksa anak menghabiskan seluruh makanan atau melarang mereka meminta tambahan tidak selalu menjadi solusi.
Anak secara bertahap belajar mengenali rasa lapar dan kenyang. Karena itu, orangtua dapat menyediakan makanan yang bergizi dan memberi kesempatan kepada anak untuk menentukan seberapa banyak yang ingin dimakan. Pendekatan ini dapat membantu anak mengenali sinyal tubuhnya sendiri tanpa menjadikan waktu makan sebagai sumber tekanan.
2. Sesekali Biarkan Anak Memilih Pakaiannya
Melihat anak memakai pakaian dengan warna atau motif yang tidak serasi mungkin membuat orangtua ingin segera menggantinya. Namun, selama pakaian tersebut sesuai dengan situasi dan aman digunakan, anak dapat diberi kesempatan memilih sendiri.
Kebebasan sederhana seperti ini dapat menjadi latihan untuk mengambil keputusan dan membangun kemandirian. Untuk acara tertentu seperti sekolah, pesta, atau kegiatan resmi, orangtua tetap dapat memberikan batasan yang diperlukan.
3. Anak Tidak Harus Selalu Mendapat Mainan Baru
Mainan terbaru belum tentu menjadi benda yang paling menarik bagi anak. Barang sederhana yang aman, seperti kardus, sendok kayu, atau benda rumah tangga tertentu justru dapat menjadi bagian dari permainan imajinatif.
Karena itu, orangtua tidak perlu merasa bersalah ketika tidak mampu atau tidak ingin terus membeli mainan baru. Yang lebih penting adalah memastikan benda yang digunakan aman dan memberi kesempatan kepada anak untuk bereksplorasi.
4. Tidak Perlu Membuat Aktivitas Edukatif Setiap Hari
Media sosial sering menampilkan berbagai aktivitas sensori dan permainan edukatif yang terlihat menarik. Namun, orangtua tidak perlu merasa harus menyiapkan kegiatan serupa setiap hari.
Bermain bebas, membaca buku bersama, berjalan-jalan di luar rumah, membantu pekerjaan sederhana, atau bermain peran bersama orangtua juga dapat menjadi pengalaman belajar. Anak tidak harus mengikuti kegiatan yang dirancang secara khusus setiap saat.
5. Rencana Bisa Berubah Ketika Kondisi Anak Tidak Memungkinkan
Sudah membuat janji bermain dengan teman, tetapi anak tiba-tiba mengalami tantrum atau terlihat sangat lelah? Tidak ada salahnya mengubah atau membatalkan rencana.
Orangtua tidak harus memaksakan jadwal hanya karena sudah membuat janji. Mengenali kondisi anak dan menyesuaikan kegiatan dengan kebutuhannya juga merupakan bagian dari pengasuhan yang sehat.
6. Orangtua Boleh Meluangkan Waktu untuk Diri Sendiri
Menghabiskan waktu tanpa anak bukan berarti orangtua tidak menyayangi mereka. Beristirahat, melakukan hobi, bertemu teman, atau sekadar menikmati waktu sendiri dapat membantu orangtua memulihkan energi.
Kebutuhan ini tentu perlu disesuaikan dengan usia anak dan situasi keluarga. Namun, orangtua juga memiliki kebutuhan emosional dan fisik yang perlu diperhatikan.
7. Tidak Semua Nasihat Parenting Harus Diikuti
Orangtua mungkin menerima banyak nasihat dari keluarga, teman, tetangga, bahkan orang yang tidak dikenal. Masalahnya, saran yang berhasil pada satu keluarga belum tentu cocok diterapkan pada keluarga lain.
Karena itu, orangtua perlu memilah informasi berdasarkan kebutuhan anak, kondisi keluarga, dan sumber yang dapat dipercaya. Tidak mengikuti semua nasihat bukan berarti mengabaikan kepentingan anak.
3 Prinsip Parenting yang Sebaiknya Tidak Dilanggar
1. Jangan Mendisiplinkan Anak dengan Kekerasan
Memukul, menampar, mencubit, mengancam, mempermalukan, atau menggunakan hukuman fisik bukanlah cara yang direkomendasikan untuk mendisiplinkan anak. American Academy of Pediatrics menyatakan bahwa hukuman fisik dan tindakan verbal yang mempermalukan anak berkaitan dengan berbagai dampak negatif dan tidak efektif sebagai strategi disiplin jangka panjang.
Sebagai gantinya, orangtua dapat menetapkan batas yang jelas, menjelaskan konsekuensi, mengalihkan perilaku yang tidak sesuai, serta memberikan apresiasi ketika anak menunjukkan perilaku yang baik. UNICEF juga menganjurkan pendekatan disiplin positif dan konsekuensi tanpa kekerasan.
2. Berani Meminta Maaf Ketika Orangtua Berbuat Salah
Orangtua tidak selalu bisa bersikap tenang. Ada kalanya kelelahan membuat seseorang membentak anak atau mengambil keputusan yang kemudian disesali. Ketika melakukan kesalahan, meminta maaf kepada anak justru dapat menjadi contoh penting.
Orangtua dapat menjelaskan secara sederhana apa yang salah dan bagaimana seharusnya mereka bertindak. Dengan begitu, anak belajar bahwa mengakui kesalahan, bertanggung jawab, dan meminta maaf merupakan bagian dari hubungan yang sehat.
3. Jangan Merendahkan atau Mempermalukan Anak
Kritik yang terus-menerus, ejekan, atau komentar yang merendahkan dapat memengaruhi cara anak melihat dirinya sendiri. Karena itu, ketika perlu mengoreksi perilaku, fokuskan pembicaraan pada tindakan yang perlu diperbaiki, bukan menyerang karakter anak.
Misalnya, daripada mengatakan "Kamu memang anak malas", orangtua dapat menjelaskan bahwa mainan perlu dirapikan setelah digunakan. UNICEF juga menganjurkan penggunaan bahasa yang positif dan nada bicara yang tenang ketika memberikan arahan kepada anak.
Pada akhirnya, parenting bukan perlombaan untuk menjadi orangtua yang sempurna. Pengasuhan yang baik justru membutuhkan kemampuan untuk menyesuaikan aturan dengan usia, karakter, dan kebutuhan anak. Tidak masalah jika anak sesekali memilih pakaian sendiri, bermain dengan benda sederhana, atau jika rencana keluarga berubah karena kondisi mereka.
Namun, fleksibilitas tersebut tetap memiliki batas. Keselamatan anak, penghormatan terhadap dirinya, serta disiplin tanpa kekerasan merupakan prinsip yang perlu dijaga. Dengan membedakan mana aturan yang bisa disesuaikan dan mana prinsip yang harus dipertahankan, orangtua dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman, hangat, dan mendukung tumbuh kembang anak.