Ancaman Terhadap Maskulinitas Pria Bisa Membuat Mereka Membuat Pilihan yang Lebih Berisiko
© Pexels.com/Samer Daboul
Reporter : Abidah
Sejumlah tindakan aneh dan berisiko cenderung akan dilakukan oleh pria ketika maskulinitas mereka seddang terancam.
DREAM.CO.ID - Ketika maskulinitas seorang pria terancam, apakah ia akan berperilaku lebih berisiko demi mempertahankan citra kejantanannya? Dilansir dari News-Medical, tinjauan terhadap 38 eksperimen menemukan bahwa ancaman terhadap maskulinitas memang bisa memicu perilaku kompensasi, namun bukti paling kuat justru terpusat pada pilihan makanan, bukan pada risiko kesehatan secara menyeluruh.
Dalam artikel tinjauan yang dipublikasikan di jurnal American Journal of Men's Health, para peneliti dari University of British Columbia merangkum bukti eksperimental soal bagaimana ancaman terhadap maskulinitas memengaruhi perilaku, sikap, dan respons fisiologis terkait kesehatan pada pria.
Hasil kesehatan pada laki-laki secara umum lebih buruk dibanding perempuan. Laki-laki punya harapan hidup lebih pendek, prevalensi kanker kandung kemih dan penyakit jantung koroner yang lebih tinggi, serta risiko kematian akibat alkohol dan penyakit kardiovaskular yang lebih besar dibanding perempuan.
Makanan dan Minuman: Bukti Paling Konsisten
Konsumsi makanan dan minuman menjadi hasil yang paling banyak diteliti. Efek ancaman maskulinitas berkisar dari perubahan perilaku dan proksi perilaku hingga pergeseran kognisi, fisiologi, dan niat. Besarnya efek ini sangat bervariasi antar domain kesehatan.
Aspek pola makan diteliti dalam 16 eksperimen di sembilan studi, delapan di antaranya menilai hasil perilaku (seperti asupan daging dan pilihan makanan/minuman), sementara sisanya mengevaluasi niat kesehatan dan kognisi (seperti sikap terhadap vegetarianisme dan asupan daging).
Ancaman maskulinitas cenderung mendorong laki-laki lebih kuat ke arah pilihan makanan yang secara stereotip dianggap maskulin, misalnya peningkatan asupan daging, penolakan terhadap makanan vegetarian, dan keterikatan emosional terhadap daging.
Studi-studi individual juga menemukan bahwa pria yang terpapar ancaman maskulinitas mengonsumsi lebih banyak alkohol dan minuman berenergi. Namun, dua studi tidak menemukan efek yang jelas: satu tidak menemukan perbedaan niat mengonsumsi daging antara pria yang terancam dan tidak terancam, satu lagi tidak menemukan perubahan pada pembenaran terkait konsumsi daging.
Stres Fisiologis, Kebugaran, dan Perilaku Berisiko: Hasil Beragam
Sembilan eksperimen meneliti stres fisiologis dan kesejahteraan emosional. Satu studi menunjukkan pria dalam kondisi ancaman mengalami peningkatan rasa marah, malu, dan bersalah, serta penurunan empati. Respons stres fisiologis, seperti peningkatan reaktivitas kortisol dan penurunan vagal withdrawal, juga teramati pada partisipan yang mengalami ancaman maskulinitas.
Enam eksperimen mengevaluasi hasil terkait kebugaran dan citra tubuh, dengan hasil yang secara keseluruhan beragam. Sebagai contoh, satu studi melaporkan pria yang terpapar ancaman menilai kekuatan otot mereka lebih rendah dibanding kelompok kontrol, sementara studi lain justru menemukan kelompok yang terancam melaporkan kemampuan push-up yang lebih besar.
Perilaku pengambilan risiko diteliti dalam lima eksperimen. Satu studi menemukan pria di bawah ancaman maskulinitas lebih cenderung mengabaikan penggunaan kondom dalam skenario yang lebih berisiko dibanding pria yang tidak terancam. Studi lain melaporkan pria dalam kondisi terancam memiliki toleransi lebih besar terhadap rasa sakit dari manset tekanan darah di lengan atas dibanding kelompok tidak terancam.
Hanya satu makalah, terdiri dari dua eksperimen, yang meneliti hubungan interpersonal, menemukan bahwa pria yang terancam melaporkan tingkat kedekatan dan komitmen yang lebih rendah terhadap pasangan romantis mereka. Keyakinan soal "precarious manhood" (maskulinitas yang mudah goyah) dan sifat-sifat maskulin yang diatribusikan pada diri sendiri turut memoderasi respons ini, membentuk kapan, pada siapa, dan ke arah mana ancaman maskulinitas memengaruhi perilaku.
Secara keseluruhan, laki-laki yang berada di bawah ancaman maskulinitas bisa menunjukkan perilaku kompensasi untuk menegaskan kembali maskulinitas mereka, meski responsnya tidak seragam di setiap individu maupun domain kesehatan. Keyakinan soal "precarious manhood" dan sifat-sifat maskulin yang diatribusikan sendiri memoderasi efek ancaman maskulinitas ini. Temuan ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap maskulinitas memiliki pengaruh kausal paling jelas terhadap perilaku kesehatan pria pada ranah preferensi daging, dengan bukti yang terbatas atau beragam pada domain lainnya.