© Pexels.com/etastic.inc
DREAM.CO.ID - Setiap kali dokter menempelkan stetoskop ke dada atau punggung pasien, alat sederhana berusia lebih dari dua abad itu sebenarnya sedang bekerja mengungkap informasi yang sangat detail soal kondisi jantung, paru-paru, hingga sistem pencernaan. Teknik mendengarkan suara tubuh lewat stetoskop ini dikenal dengan istilah auskultasi, dan meski terlihat sederhana, ia tetap jadi salah satu alat diagnosis paling andal di dunia medis hingga hari ini.
Dilansir dari Britannica, auskultasi awalnya dilakukan dengan menempelkan telinga langsung ke dada atau perut pasien. Praktik ini berubah drastis sejak stetoskop ditemukan pada 1819, dan sejak itu menjadi metode utama yang dipakai dokter untuk mendeteksi berbagai kelainan lewat suara khas yang dihasilkan tubuh, mulai dari sirkulasi darah abnormal di kepala, permukaan sendi yang kasar, gelombang nadi di lengan bawah, hingga aktivitas janin atau gangguan usus di perut.
Bidang yang paling sering diasosiasikan dengan stetoskop adalah jantung. Suara jantung normalnya terdiri dari dua bunyi terpisah, muncul saat dua set katup jantung menutup. Sumbatan sebagian pada katup ini, atau kebocoran darah akibat penutupan yang tidak sempurna, menghasilkan turbulensi pada aliran darah, yang memunculkan bunyi berkepanjangan yang bisa terdengar jelas lewat stetoskop.
Bunyi murmur atau bising jantung ini sering kali bersifat diagnostik untuk penyakit pada katup jantung tertentu, artinya kadang bisa menunjukkan katup jantung mana yang menjadi sumber masalah. Perubahan kualitas suara jantung juga bisa mengindikasikan penyakit atau kelemahan pada otot jantung. Auskultasi juga membantu dokter menentukan jenis irama jantung yang tidak teratur, serta mengenali suara khas dari peradangan perikardium, yakni kantung yang membungkus jantung.
Stetoskop yang dipadukan dengan sphygmomanometer juga digunakan tenaga medis untuk mengukur tekanan darah. Tekanan darah yang meningkat berkaitan dengan risiko penyakit jantung yang lebih tinggi, termasuk serangan jantung dan stroke.
Selain jantung, stetoskop juga digunakan luas untuk mendengarkan kondisi paru-paru. Auskultasi membantu dokter mendiagnosis berbagai kondisi pernapasan, di antaranya pneumonia yang ditandai suara crackles atau berderak dan suara napas yang melemah, asma yang ditandai suara wheezing atau mengi, gagal jantung yang bisa menghasilkan suara crackles akibat penumpukan cairan di paru-paru, serta bronkitis yang berkaitan dengan suara rhonchi akibat lendir di saluran napas.
Dokter juga memanfaatkan auskultasi untuk memantau perubahan suara paru-paru dari waktu ke waktu, membantu menilai efektivitas pengobatan untuk kondisi seperti pneumonia, asma, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Bagaimana Suara Napas Bisa Menunjukkan Kondisi Spesifik
Sebuah hasil penelitian menjelaskan bahwa paru-paru yang sehat menghasilkan suara napas normal saat bernapas. Sebaliknya, paru-paru yang tidak sehat bisa menunjukkan suara tambahan yang berkelanjutan seperti wheezing, stridor, atau rhonchi, maupun suara tambahan yang terputus-putus seperti crackles atau gesekan pleura. Tenaga medis bisa mengenali kondisi paru-paru abnormal berdasarkan ada tidaknya suara ini, jenisnya, karakteristiknya, dan lokasi kemunculannya di dada.
Kelebihan Stetoskop Dibanding Alat Diagnosis Lain
Salah satu keunggulan utama auskultasi lewat stetoskop, adalah sifatnya yang cepat, tidak menyakitkan, dan hemat biaya, berbeda dari tes pencitraan atau prosedur invasif lainnya. Alat ini memberi penilaian langsung, memungkinkan pengambilan keputusan klinis yang cepat, terutama dalam situasi darurat seperti henti jantung atau gangguan pernapasan berat, di mana auskultasi segera membantu mengarahkan tindakan penyelamatan nyawa.
Tenaga kesehatan yang terlatih dengan baik bisa menggunakan stetoskop untuk mendeteksi kelainan yang seharusnya membutuhkan tes diagnostik yang jauh lebih mahal, sehingga membantu menekan biaya kesehatan sekaligus meminimalkan paparan radiasi yang tidak perlu dari pemeriksaan pencitraan. Pemeriksaan stetoskop rutin bahkan bisa mengungkap tanda-tanda awal penyakit sebelum gejala benar-benar muncul, menjadikannya alat penting bukan hanya untuk pemeriksaan rutin, tapi juga situasi darurat.
Meski sangat berguna, auskultasi punya keterbatasan penting. Dilansir dari sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal ilmiah National Center for Biotechnology Information (NCBI), auskultasi sangat bergantung pada pengalaman dokter, sebuah proses yang bersifat sangat subjektif.
Sinyal suara terkadang sangat kompleks saat mendeteksi berbagai penyakit jantung atau paru-paru, dan identifikasi serta interpretasi suara yang ambigu dalam auskultasi telah lama menjadi masalah umum dalam praktik klinis, yang berpotensi menyebabkan diagnosis yang tidak akurat.
Karena keterbatasan ini, organisasi medis internasional seperti European Respiratory Society, International Lung Sounds Association, dan American Thoracic Society bahkan mendorong standardisasi tata nama suara auskultasi, agar interpretasinya lebih konsisten antar tenaga medis.
Menariknya, stetoskop yang sudah berusia lebih dari dua abad ini kini mulai dipadukan dengan teknologi kecerdasan buatan. Dilansir dari studi lain yang dipublikasikan di NCBI, para peneliti mengembangkan " stetoskop pintar" berbasis machine learning untuk membantu mendiagnosis pneumonia dan PPOK secara dini.
Alat ini mampu mengklasifikasikan suara paru-paru ke dalam kategori normal, pneumonia, PPOK, dan penyakit pernapasan lain, dengan tingkat akurasi mencapai 89 persen dan sensitivitas 89,75 persen, menunjukkan potensi besar teknologi ini membantu dokter, terutama yang bukan spesialis paru-paru, dalam melakukan skrining dini secara lebih akurat.
Meski kini mulai diperkuat teknologi kecerdasan buatan, inti dari kemampuan alat ini tetap bergantung pada telinga dan pengalaman dokter yang menggunakannya, sebuah keterampilan yang butuh bertahun-tahun latihan untuk benar-benar dikuasai.
Advertisement

Raden Saleh, Pelukis Jenius dari Nusantara yang Diakui di Eropa

Aroma yang Cocok Digunakan di Negara Tropis seperti Indonesia


Ini yang Terjadi pada Otak Setelah Berhenti Konsumsi Gula Tambahan Selama Sebulan

Berapa Lama Waktu Pakai Sepatu Lari? Kenali Tanda-Tanda Waktunya Ganti


Pandangan Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram untuk Ketenangan Jiwa di Masa Modern