Bagaimana Tidur Memengaruhi Kadar Testosteron pada Pria

Stories | Sabtu, 29 Agustus 2026 10:00

Reporter : Abidah

Mayoritas pelepasan testosteron harian pada pria terjadi selama tidur. Hal ini menjelaskan bagaimana tidur yang kita alami memengaruhi kadar testosteron.

DREAM.CO.ID - Bagi pria yang rutin begadang atau tidur kurang dari enam jam semalam, ada satu efek samping yang jarang disadari: kadar testosteron yang ikut anjlok. Hubungan antara tidur dan hormon utama pria ini ternyata jauh lebih erat dari yang dikira kebanyakan orang.

Mayoritas pelepasan testosteron harian pada pria terjadi selama tidur. Testosteron sendiri adalah hormon seks yang secara alami ditemukan dalam tubuh, dan meski sering dianggap "hormon pria", hormon ini juga ada pada perempuan. Pada pria, testosteron sebagian besar diproduksi di testis, dengan sebagian kecil juga diproduksi di kelenjar adrenal yang terletak di atas ginjal. Hormon ini bekerja ke seluruh tubuh, memengaruhi kekuatan otot dan tulang, libido, fungsi otak, hingga pertumbuhan rambut.

Fragmentasi tidur dan sleep apnea obstruktif terbukti berkaitan dengan kadar testosteron yang lebih rendah. Pada pria lanjut usia, kadar testosteron di pagi hari bahkan sebagian bisa diprediksi dari total waktu tidur mereka semalam.

Fase REM Sangat Penting untuk Produksi Testosteron

Fase tidur REM (rapid eye movement), yang baru terjadi setelah beberapa jam tidur non-REM, punya peran krusial dalam produksi hormon ini. Jika seseorang tidur tidak cukup lama, atau terus terbangun sepanjang malam, tubuh tidak sempat masuk ke fase REM secara optimal, sehingga bisa mengganggu produksi testosteron.

Sebuah studi menemukan pria muda yang sehat namun hanya tidur lima jam semalam mengalami penurunan produksi testosteron sebesar 10 hingga 15 persen. Kadar testosteron yang lebih rendah ini dikaitkan dengan perubahan suasana hati dan tingkat energi yang menurun.

2 dari 3 halaman

Kaitan Ini Berjalan Dua Arah

Menariknya, hubungan antara tidur dan testosteron bukan jalan satu arah. Tidur yang buruk bisa memengaruhi produksi testosteron, tapi testosteron yang rendah juga bisa mengganggu kualitas tidur.

Sejumlah penelitian menunjukkan kadar testosteron rendah berdampak negatif terhadap kualitas tidur, baik pada pria lanjut usia maupun pria yang lebih muda. Tidur yang buruk terkadang menjadi tanda adanya masalah testosteron rendah, yang berarti testis tidak memproduksi cukup hormon (kondisi yang disebut hipogonadisme).

Peran Kortisol dan Ritme Tubuh

Kualitas tidur yang buruk juga mengganggu ritme alami kortisol, hormon stres dalam tubuh. Kortisol seharusnya menurun secara alami menjelang sore dan awal malam, tapi kurang tidur mencegah penurunan normal ini terjadi. Tidur yang cukup membiarkan kortisol menurun secara alami, sementara tidur yang buruk membuatnya tetap tinggi sepanjang hari. Sejumlah penelitian secara konsisten menemukan kadar kortisol yang jauh lebih tinggi di sore hari pada orang yang kurang tidur.

Yang menarik, testosteron dan kortisol pada dasarnya bekerja saling berlawanan di dalam tubuh pria. Ketika kortisol meningkat akibat kurang tidur, hal ini turut berkontribusi pada penurunan testosteron, menciptakan reaksi berantai gangguan hormon yang saling terkait.

3 dari 3 halaman

Bukan Cuma Soal Durasi, Tapi Juga Konsistensi

Riset terhadap 1.274 pria lanjut usia menemukan bahwa hubungan antara durasi tidur dan kadar testosteron sebenarnya membentuk pola melengkung: testosteron meningkat seiring bertambahnya durasi tidur hingga sekitar 9,9 jam, namun setelah itu justru menurun. Artinya, tidur terlalu sedikit maupun terlalu lama sama-sama bisa berkaitan dengan kadar testosteron yang kurang optimal, meski gangguan tidur ringan seperti latensi tidur yang memanjang atau insomnia lebih berkaitan kuat dengan penurunan massa otot dan kekuatan genggaman dibanding dengan kadar testosteron itu sendiri.

Studi terkontrol lain yang menguji efek pembatasan tidur berat (hanya 4 jam per malam selama 5 malam) pada pria muda sehat justru tidak menemukan perubahan signifikan pada kadar testosteron plasma. Namun studi jangka panjang dari kelompok yang sama, yang membatasi tidur ringan (mengurangi 1,5 jam per malam) selama 6 minggu, menemukan tren penurunan kadar testosteron yang perlahan meningkat kembali seiring waktu. Temuan yang bercampur ini menunjukkan bahwa hubungan antara durasi, kualitas tidur, dan testosteron masih memerlukan penelitian konfirmasi lebih lanjut, dan efeknya bisa berbeda tergantung usia serta kondisi kesehatan masing-masing pria.

Kondisi yang Memperberat: Obesitas dan Sleep Apnea

Pada pria dengan obesitas berat, obstructive sleep apnea (OSA) diketahui berkaitan dengan perubahan aktivitas poros hormon gonad dan kadar testosteron serum yang lebih rendah. Hubungan antara kadar testosteron rendah dan pola tidur abnormal pada pria lanjut usia sebagian besar dijelaskan oleh faktor adipositas atau kelebihan lemak tubuh, sebuah temuan yang menunjukkan bahwa berat badan berperan besar dalam rantai hubungan antara tidur, hormon, dan kesehatan metabolik secara keseluruhan.

Hubungan antara tidur dan testosteron memang kompleks, melibatkan interaksi antara durasi tidur, kualitas fase REM, ritme kortisol, berat badan, dan usia. Namun benang merahnya cukup jelas: tidur yang cukup dan berkualitas tetap menjadi salah satu faktor gaya hidup paling mendasar yang mendukung produksi hormon testosteron secara optimal pada pria. Bagi siapa pun yang mengalami gangguan tidur berkepanjangan atau mencurigai kadar testosteronnya rendah, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional tetap jadi langkah yang paling tepat untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id