Bisakah Tertular Mata Minus Gara-Gara Meminjam Kacamata?
© Pexels.com/Gustavo Fring
Reporter : Abidah
Meminjam kaca mata orang lain sebagai penyebab terjadinya mata minus merupakan sebuah mitos yang masih dipercaya banyak orang.
DREAM.CO.ID - Banyak orang tua melarang anaknya meminjam kacamata teman atau anggota keluarga lain, dengan alasan klasik, bisa "ketularan" mata minus. Mitos ini begitu kuat mengakar sampai sebagian orang enggan sekadar mencoba kacamata orang lain di toko optik. Tapi apakah klaim ini benar secara medis, atau sekadar mitos turun-temurun tanpa dasar ilmiah?
Jawabannya tegas, mata minus sama sekali tidak menular lewat kacamata. Dilansir dari McCrystal Opticians, meski memakai kacamata orang lain bisa membuat penglihatan terasa tidak nyaman, memicu sakit kepala, atau penglihatan ganda, hal itu tidak akan menimbulkan bahaya permanen pada mata, kecuali saat sedang mengemudi kendaraan bermotor.
Kacamata sendiri sepenuhnya bersifat alat optik pasif. Ia hanya membelokkan cahaya agar fokus tepat di retina, tanpa mengubah struktur mata, kornea, maupun otot siliaris sama sekali. Kesalahan refraksi mata, termasuk mata minus, ditentukan oleh bentuk dan panjang bola mata, faktor yang dipengaruhi genetik, usia, dan dalam beberapa kasus tekanan lingkungan, bukan oleh kacamata siapa yang dipakai.
Sensasi pusing dan mata terasa berat setelah mencoba kacamata orang lain memang nyata, tapi penjelasannya jauh dari soal "penularan". Lensa resep dibuat khusus sesuai kesalahan refraksi dan jarak pupil masing-masing individu. Memakai kacamata orang lain memaksa otot siliaris bekerja berlebihan untuk mengompensasi titik fokus yang salah, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan jangka pendek yang cukup signifikan, seperti pusing dan mata lelah.
Sensasi ini murni reaksi sementara otot mata yang dipaksa menyesuaikan diri dengan lensa yang tidak sesuai, dan akan hilang begitu kacamata yang salah itu dilepas. Tidak ada perubahan permanen apa pun yang tertinggal di mata akibat proses ini, sesingkat atau selama apa pun kacamata itu dipakai.
Mitos "Otot Mata Jadi Malas" Juga Tidak Terbukti
Ada mitos serupa yang sering menyertai kekhawatiran soal mata minus menular, yaitu anggapan bahwa memakai kacamata bisa "melemahkan" otot mata sehingga ketergantungan pada kacamata terus meningkat. Kepercayaan ini juga keliru. Sebagian orang percaya memaksa mata fokus tanpa bantuan justru memperkuat otot di sekitar bola mata dan mencegah kesalahan refraksi memburuk dengan cepat. Anggapan ini tidak benar, dan justru pada anak-anak, tidak memakai kacamata sesuai resep bisa mempercepat perkembangan mata minus, bukan mencegahnya.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Ophthalmology dan Investigative Ophthalmology & Visual Science secara konsisten menunjukkan bahwa perkembangan mata minus pada anak didorong oleh predisposisi genetik dan faktor lingkungan seperti aktivitas jarak dekat dan waktu di luar ruangan, bukan oleh pemakaian kacamata. Bahkan, sejumlah bukti menunjukkan koreksi mata minus yang kurang tepat pada anak justru berkaitan dengan perkembangan mata minus yang lebih cepat, kebalikan dari mitos yang selama ini dipercaya.
Faktor Genetik yang Benar-Benar Berperan
Meski tidak menular lewat kacamata, mata minus memang punya keterkaitan kuat dengan faktor keturunan. Dilansir dari studi meta-analisis yang dipublikasikan National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat, anak dengan satu orang tua yang mengalami mata minus punya risiko signifikan lebih tinggi terkena kondisi serupa, dan risiko ini meningkat lebih jauh jika kedua orang tua sama-sama mengalami mata minus.
Studi kohort lain yang juga dipublikasikan NIH menemukan bahwa mata minus pada orang tua, terutama yang muncul sejak masa kanak-kanak orang tua tersebut, berkaitan dengan risiko lebih besar munculnya mata minus dini pada anak, bahkan sejak usia satu tahun, berlaku pada berbagai kelompok etnis. Studi terhadap anak-anak prasekolah di Singapura turut menemukan bahwa riwayat keluarga menjadi faktor paling kuat yang berkaitan dengan mata minus pada usia dini, bahkan lebih kuat dibanding faktor aktivitas jarak dekat atau waktu bermain di luar ruangan pada kelompok usia tersebut.
Mata minus bukan penyakit menular, dan meminjam kacamata orang lain, sesekali maupun berkali-kali, tidak akan membuat siapa pun tiba-tiba mengalami kesalahan refraksi permanen. Yang benar-benar berperan dalam risiko seseorang mengalami mata minus adalah kombinasi faktor genetik dari orang tua dan faktor lingkungan seperti kebiasaan aktivitas jarak dekat yang berlebihan serta kurangnya waktu di luar ruangan, terutama selama masa pertumbuhan anak.
Meski begitu, bukan berarti kebiasaan meminjam kacamata orang lain dianjurkan. Ketidaknyamanan seperti pusing, mata lelah, dan sakit kepala tetap bisa terjadi akibat lensa yang tidak sesuai, sehingga tetap disarankan menggunakan kacamata sesuai resep masing-masing demi kenyamanan penglihatan sehari-hari, bukan karena alasan "penularan" yang selama ini dipercaya secara keliru.