Cara Beres-Beres Rumah Tanpa Menyesal: 8 Kebiasaan yang Perlu Dilakukan dan Dihindari
© Pexels.com/RDNE Stock Project
Reporter : Abidah
Merapikan rumah atau decluttering tidak harus berarti membuang sebanyak mungkin barang. Tujuannya adalah memilah apa yang benar-benar masih berguna untuk kita atau perlu untuk disingkirkan.
DREAM.CO.ID - Beres-beres rumah sering kali bukan sekadar memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain. Di rumah, barang yang sudah jarang digunakan bisa tetap disimpan karena alasan kenangan, merasa suatu hari akan membutuhkannya, atau sekadar sayang membuang sesuatu yang masih bagus. Akibatnya, lemari semakin penuh, gudang sesak, dan barang yang sebenarnya dibutuhkan justru sulit ditemukan.
Merapikan rumah atau decluttering tidak harus berarti membuang sebanyak mungkin barang. Tujuannya adalah memilah apa yang benar-benar masih berguna, apa yang bisa diberikan kepada orang lain, dijual, didaur ulang, atau memang sudah waktunya dilepaskan.
Mulai dari Barang yang Punya Kembaran
Jika bingung memulai, cari barang yang jumlahnya terlalu banyak. Mug, botol minum, kabel, kaus, tas belanja, wadah makanan, hingga peralatan dapur sering menjadi contohnya.
Memulai dari barang kembar relatif lebih mudah karena Anda tidak langsung berhadapan dengan barang yang punya nilai sentimental. Tentukan berapa jumlah yang benar-benar dibutuhkan, lalu pisahkan sisanya.
Jangan Membeli Tempat Penyimpanan Sebelum Memilah
Lemari tambahan, kotak penyimpanan, rak, atau keranjang memang bisa membuat rumah terlihat lebih rapi. Namun, membeli tempat baru sebelum mengurangi barang hanya berisiko membuat lebih banyak barang tersimpan.
Langkah pertama adalah memilah barang menjadi beberapa kelompok: simpan, jual, berikan kepada orang lain, dan daur ulang atau buang jika sudah tidak layak. Setelah itu, baru pikirkan cara terbaik menyimpan barang yang tersisa.
Jangan Terburu-buru Membuang
Tidak semua barang yang jarang digunakan harus segera dibuang. Berikan waktu untuk mempertimbangkan setiap barang. Tanyakan kepada diri sendiri: apakah saya masih membutuhkan barang ini? Apakah saya bersedia menyimpan, membersihkan, memperbaiki, dan menyediakan tempat untuknya selama satu atau lima tahun ke depan?
Untuk barang yang sulit dilepaskan, coba keluarkan dari tempat penyimpanannya dan letakkan di tempat yang mudah terlihat selama sehari. Jika setelah itu Anda merasa hidup tetap berjalan baik tanpanya, keputusan untuk melepaskannya mungkin menjadi lebih mudah.
Jangan Menyimpan Barang untuk Rencana yang Belum Pasti
Mesin pembuat roti yang tidak pernah digunakan, alat olahraga yang hanya menjadi gantungan baju, perlengkapan menjahit yang tidak pernah disentuh, atau peralatan masak yang dibeli karena membayangkan akan sering memasak adalah contoh barang yang kerap disimpan untuk “versi diri” yang sebenarnya belum pernah muncul.
Tidak perlu merasa bersalah karena ternyata hobi tersebut tidak menjadi bagian dari kehidupan Anda. Barang yang hanya menyimpan rasa bersalah tetap memenuhi ruang di rumah.
Alihkan pada Orang Lain
Barang yang tidak lagi berguna bagi Anda belum tentu tidak berguna bagi orang lain. Buku, mainan, pakaian, perabot rumah, dan perangkat elektronik yang masih layak dapat diberikan atau dijual. Dengan begitu, proses beres-beres tidak selalu berakhir di tempat sampah. Barang yang masih berfungsi bisa digunakan kembali oleh orang lain.
Foto Dahulu Barang dengan Kenangan
Foto lama, pakaian anak ketika masih bayi, kartu ucapan, atau benda dari perjalanan tertentu bisa terasa sangat sulit dilepaskan karena memiliki nilai emosional.
Sebelum membuang atau memberikan barang tersebut, pertimbangkan untuk memotretnya. Beberapa benda juga bisa diubah menjadi sesuatu yang tetap memiliki nilai kenangan, seperti kolase atau hiasan. Yang perlu dipertahankan sebenarnya adalah kenangannya, bukan selalu benda fisiknya.
Minta Bantuan untuk Memilih
Jika selalu ragu ketika harus memilih antara menyimpan atau melepaskan barang, mintalah bantuan orang yang Anda percaya. Teman yang tidak tinggal serumah bisa menjadi pilihan karena tidak memiliki kepentingan langsung terhadap barang-barang tersebut. Namun, cara ini hanya efektif jika Anda benar-benar siap menerima pendapatnya.
Jadikan Beres-beres Sebagai Pelajaran Sebelum Belanja Lagi
Setelah selesai memilah, jangan berhenti pada rumah yang lebih lega. Perhatikan barang-barang yang akhirnya dijual, diberikan, atau dibuang. Mengapa barang itu dibeli? Apakah karena benar-benar dibutuhkan, tergoda diskon, ikut tren, atau sekadar pembelian spontan?
Jawaban tersebut bisa menjadi panduan untuk belanja berikutnya. Jika banyak barang ternyata tidak pernah digunakan, mungkin masalahnya bukan kurangnya ruang penyimpanan, melainkan terlalu mudah membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
Decluttering bukanlah perlombaan untuk memiliki rumah dengan barang sesedikit mungkin. Rumah tetap boleh dipenuhi benda yang membuat penghuninya nyaman, selama barang-barang tersebut memang memiliki fungsi, nilai, atau makna. Yang perlu dikurangi adalah barang yang terus mengambil ruang tanpa lagi memberi manfaat.