Gibran-KDM atau KDM-Gibran, Siapa Capresnya? Ini Peta Pilpres 2029

Stories | Selasa, 22 September 2026 13:27

Reporter : Okti Nur

Dua nama ini mulai dipertemukan untuk 2029. Tetapi siapa sebenarnya yang punya tiket untuk memimpin?

DREAM.CO.ID - Pemerintahan Prabowo-Gibran belum genap dua tahun. Namun, skenario untuk Pilpres 2029 sudah berseliweran. Wacana dua periode belum reda, kini sayup-sayup terdengar kemungkinan untuk memasangkan Gibran dengan Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat yang akrab disapa KDM.

Wacana itu tidak muncul sekaligus. Semula hanya analisis soal kemungkinan konfigurasi politik. Namun pada 24 Agustus 2026, skenario ini masuk babak baru. Farhat Abbas, yang hadir dalam pertemuan para pendukung Jokowi, menyebut nama Gibran dan KDM dalam konteks pasangan politik.

Farhat menyampaikan wacana itu dalam pertemuan yang dihadiri Jokowi. Ayah Gibran. Namun demikian, tak ada respons dari pria bernama lengkap Joko Widodo itu. Yang jelas, potongan video Farhat dalam pertemuan itu viral. Menyedot atensi publik. Apalagi, dalam pertemuan tersebut Budi Arie, Ketua Umum Projo, juga berbicara tentang kemungkinan percepatan pemilu.

Sejak itulah wacana mengemas Gibran-KDM dalam duet politik menggelinding lebih kencang. Usulan itu kian eksplisit. Pada 1 September 2026, Fritz Alor Boy, advokat yang mengaku sebagai Ketua Perkumpulan Anak Jokowi (PAJO), secara terbuka mengusulkan Gibran berpasangan dengan KDM untuk Pilpres 2029.

Dia bahkan memberi nama "G-De" untuk pasangan tersebut. Usulan itu bahkan makin jelas dan rinci dengan menyebut Gibran sebagai calon presiden serta KDM sebagai calon wakil presiden.

Namun, wacana itu baru usulan relawan. Belum menjadi keputusan politik resmi. Sejauh ini juga belum ada partai politik yang mendeklarasikan duet tersebut. Begitu juga dengan kedua tokoh yang disandingkan: Gibran dan KDM. Mereka belum memberikan respons.

KDM Kinclong di Survei Capres

Meski baru wacana, pembicaraan soal duet Gibran-KDM kian ramai. Hasil jajak pendapat yang dirilis beberapa lembaga survei seolah menjadi bahan bakar yang kian menyalakan diskursus duet tersebut.

KDM memang kinclong di survei. Dalam survei SMRC pada 5-19 Juli 2026, elektabilitas KDM dalam bursa capres bahkan melampaui Prabowo Subianto. Elektabilitas KDM dalam simulasi semi-terbuka sebesar 35 persen. Unggul jauh dari Prabowo yang hanya 14,5 persen. Baca juga: Elektabilitas Prabowo di Pilpres 2029 dalam Berbagai Survei

Sedangkan, elektabilitas Gibran dalam jajak pendapat itu cuma 7,7 persen. Dia berada di posisi keempat, di bawah Anies Baswedan 8,2 persen. KDM juga tetap perkasa pada simulasi dua nama, head to head dengan Prabowo. Pada simulasi ini, elektabilitas KDM melenting ke angka 59 persen. Prabowo hanya 28,3 persen saja.

Survei SMRC ini melibatkan 749 responden. Sebanyak 605 responden dipilih acak dengan metode double sampling dan diwawancarai lewat telepon. Sementara, 144 responden tidak punya ponsel dipilih secara acak dengan metode stratified multistage random sampling dan diwawancarai secara tatap muka. Margin of error survei SMRC sebesar 3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Posisi KDM semakin mencolok dalam survei Tempo Data Science yang dilakukan 31 Juli-11 Agustus 2026. Dalam simulasi responden diberi daftar nama kandidat, elektabilitas Gubernur Jawa Barat itu mencapai 42 persen, unggul jauh dari Prabowo dengan 15 persen. Elektabilitas Gibran dalam simulasi ini hanya 6 persen, di bawah Anies dengan 10 persen. Baca juga: Mengapa Elektabilitas KDM Bisa Kalahkan Prabowo?

Dalam simulasi terbuka --responden diminta langsung menyebut nama tanpa disodori daftar kandidat, elektabilitas KDM 41 persen. Prabowo 15 persen. Sementara, elektabilitas Gibran drop ke angka 4 persen, di bawah Anies dengan 10 persen.

Survei Tempo Data Science dilakukan terhadap 1.260 responden di 38 provinsi, menggunakan metode multistage random sampling dengan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen dan margin of error kurang lebih 2,9 persen.

Namun dalam polling yang dilakukan Media Survei Nasional (Median) pada 21 Juli-2 Agustus 2026, elektabilitas KDM kalah dari Prabowo. Survei ini dilakukan secara tatap muka dengan melibatkan 1.212 responden di 38 provinsi. Jajak pendapat ini memiliki margin of error sekitar 2,76 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Dalam pertanyaan terbuka, elektabilitas KDM 19,8 persen, di bawah Prabowo dengan 32,2 persen. Sedangkan, elektabilitas Gibran dalam simulasi ini merayap di angka 2 persen saja. Angka itu jauh di bawah Anies dengan 19,5 persen, bahkan dilampaui oleh pendatang baru Sherly Tjoanda, Gubernur Maluku Utara, dengan elektabilitas 3,5 persen.

Dalam pertanyaan semi terbuka, KDM tetap nomor dua dengan 20,6 persen. Di bawah Prabowo 32,4 persen. Sedangkan elektabilitas Gibran tak banyak beranjak, hanya 2,6 persen. Jauh di bawah Anies dengan 20,5 persen, Ganjar Pranowo 5 persen, dan lagi-lagi di bawah Sherly Tjoanda dengan 4,1 persen. Baca juga: Sherly Tjoanda, Nama Baru di Bursa Pilpres 2029

Gibran Kuat di Posisi Cawapres

Elektabilitas Gibran di bursa capres memang anyep. Namun, putra sulung Jokowi itu moncer di bursa cawapres. Dalam sejumlah survei, elektabilitasnya untuk posisi cawapres berada di posisi teratas. Baca juga: Elektabilitas Gibran Disalip Muka Baru di Pilpres 2029

Dalam survei Median pada Februari 2026, misalnya, elektabilitas Gibran di bursa cawapres mencapai 17,9 persen. Posisi berikutnya ditempati Purbaya Yudhi Sadewa dengan 10,2 persen. Sedangkan elektabilitas KDM mencapai 8,4 persen, diikuti Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 8 persen, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok 6,8 persen, Mahfud MD 5,8 persen, dan Anies Baswedan 5,2 persen.

Survei tersebut dilakukan pada 10-14 Februari 2026 dengan melibatkan 1.200 responden dari seluruh provinsi di Indonesia. Survei Median itu antara lain memotret persepsi publik terkait keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace, sekaligus mengukur elektabilitas sejumlah tokoh jika Pilpres 2029 digelar saat survei dilakukan.

Gibran juga berada di posisi pertama sebagai kandidat cawapres dalam jajak pendapat Median yang dilakukan Median pada 21 Juli-2 Agustus 2026. Elektabilitas Wakil Presiden bernama lengkap Gibran Rakabuming Raka itu mencapai 20,1 persen. KDM berada di posisi tiga dengan 11,2 persen, di bawah AHY dengan 13,5 persen. Berikutnya Mahfud MD 7,9 persen dan Anies Baswedan 6,6 persen.

Survei Median tersebut dilakukan terhadap 1.212 responden melalui wawancara tatap muka dengan metode multistage random sampling. Pengambilan data dilakukan pada 21 Juli-2 Agustus 2026.

Posisi Gibran dalam bursa cawapres juga dipotret dalam survei Poltracking Indonesia yang dilaksanakan pada 2-8 Maret 2026. Dalam survei tersebut, Gibran berada di posisi teratas daftar cawapres dengan elektabilitas 26,8 persen. KDM menyusul dengan 8,9 persen dan Mahfud MD 4,3 persen. Berikutnya AHY 3,8 persen, Anies Baswedan 3,1 persen, Muhaimin Iskandar 2,1 persen, dan Purbaya Yudhi Sadewa 2 persen.

Survei Poltracking Indonesia melibatkan 1.220 responden di 38 provinsi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan metode multistage random sampling. Survei memiliki margin of error kurang lebih 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Siapa Capresnya?

Dari angka-angka sejumlah survei itu terlihat bahwa elektabilitas KDM kuat di bursa capres. Sementara, Gibran perkasa di bursa cawapres.

Namun bukan berarti posisi dalam survei itu otomatis menentukan posisi kedua tokoh jika dipasangkan dalam Pilpres 2029. Banyak faktor untuk menentukan pasangan. Tidak melulu berdasarkan elektabilitas dalam survei belaka.

Sudah begitu, jalan menuju 2029 masih panjang. Masih dua setengah hingga tiga tahun lagi. Dalam rentang itu, banyak hal bisa terjadi. Elektabilitas Gibran dan KDM juga mungkin berubah.

Elektabilitas itu menjadi potret suara responden saat survei dilakukan. Kemungkinan angka-angka itu untuk bergerak masih terbuka lebar.

Apalagi sejauh ini KDM maupun Gibran belum mengeluarkan pertanyaan bahwa mereka akan maju bersama dalam Pilpres 2029. Karena itu, ini baru sebatas wacana. Usulan duet.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id