© Arxiu De La Família Branyas Morera, Public Domain, Via Wikimedia Commons
DREAM.CO.ID - Maria Branyas hidup sampai usia 117 tahun, tercatat sebagai manusia tertua di dunia. Ilmuwan memeriksa tubuhnya dengan teknologi biologi paling detail yang ada, dan hasilnya ganjil: sebagian tubuhnya menua secepat perkiraan untuk usia itu, sebagian lagi bekerja lebih muda dan lebih sehat dari seharusnya.
Dr. Manel Esteller dari Josep Carreras Leukaemia Research Institute memimpin penelitian ini, salah satu pemeriksaan paling lengkap yang pernah dilakukan pada supercentenarian, sebutan untuk orang berusia 110 tahun ke atas. Tim internasional pimpinan Eloy Santos mengambil sampel dari tubuh Branyas lewat metode tanpa prosedur menyakitkan, lalu menerbitkan hasilnya di jurnal Cell Reports Medicine pada 2026.
Peneliti tidak berhenti pada satu ukuran penuaan. Mereka memeriksa lima lapisan biologis sekaligus: gen, protein, penanda kimia pada DNA (epigenom), zat hasil metabolisme tubuh, dan bakteri di usus (mikrobiom). Esteller menyebut hasilnya sebagai " dualitas yang menarik" , tubuh yang menunjukkan penuaan ekstrem dan umur panjang yang sehat dalam waktu bersamaan.
Bagian yang menua terlihat jelas. Telomer Branyas, bagian pelindung di ujung kromosom yang biasanya memendek seiring usia, sudah pendek sekali. Sistem kekebalan tubuhnya cenderung memicu peradangan. Sel B, salah satu jenis sel imun, sudah menua.
Bagian lain justru bekerja seperti tubuh yang jauh lebih muda. Branyas membawa gen yang melindungi jantung dan sarafnya. Peradangan dalam tubuhnya rendah. Ususnya dipenuhi bifidobacteria, bakteri baik yang biasanya menyusut seiring usia. Usia biologis dari perhitungan epigenetiknya lebih muda dari usia sebenarnya.
Temuan ini mengubah cara memandang umur panjang. Orang tidak perlu lolos dari penuaan untuk hidup lama. Tubuh bisa menua di sebagian bagian sambil menjaga organ vital tetap terlindungi dari dampak buruknya.
Hasil ini juga berguna untuk memahami penyakit darah yang muncul seiring usia, seperti leukemia dan sindrom mielodisplastik, dua penyakit yang risikonya naik ketika sistem pembentuk darah menua. Mempelajari tubuh Branyas bisa membantu peneliti memahami kenapa sebagian lansia lebih rentan kena penyakit itu dibanding lansia lain.
Branyas juga tidak mengidap penyakit berat yang biasanya menyertai usia lanjut. Kondisi ini memberi peneliti kesempatan langka: mempelajari proses penuaan itu sendiri, bukan penyakit yang biasanya menutupi gambarannya.
Peneliti belum bisa memastikan kebiasaan mana yang membuat Branyas begini. Mereka mencatat beberapa hal dari hidupnya: pola makan sehat, hubungan sosial yang luas, aktivitas yang merangsang otak, dan absennya kebiasaan buruk seperti merokok atau minum berlebihan.
Temuan ini melempar pertanyaan besar. Bisakah penuaan suatu hari diobati seperti penyakit? Terapi epigenetik dan obat penghancur sel senescen, sel yang berhenti membelah tapi tidak mati dan ikut memicu peradangan, sudah diteliti untuk kanker. Kalau pemahaman soal mekanisme penuaan makin dalam, pendekatan serupa mungkin kelak memperpanjang masa hidup sehat manusia. Apakah itu juga memperpanjang umur, belum ada yang tahu jawabannya.
Advertisement
Makna Menjadi Indonesia Menurut SBY


JK: Dalam Dunia Hari Ini, Lebih Berbahaya Kekurangan Listrik Ketimbang Kekurangan Beras

Jusuf Kalla Ajak Dekan Teknik Makassar Pelajari Industri Teknologi Langsung di China

SBY Bicara Pemerintahan di Endgame Town Hall: Saya Tak Pernah Berselingkuh dengan Konstitusi


5 Kebiasaan Malam yang Disarankan Pakar agar Bisa Hidup Lebih Panjang

Social Contagion: Mengapa Tren Memakai Parfum Bisa Ikut Menyebar di Kalangan Anak SD?

Jusuf Kalla Ajak Dekan Teknik Makassar Pelajari Industri Teknologi Langsung di China



5 Peregangan untuk Meredakan Tegang dan Kaku di Punggung Tengah

Pemanasan Global Memutus Hubungan Iklim 400 Tahun antara Samudra Hindia dan Pasifik