Kidal vs Kanan: Fakta-Fakta Menarik tentang Dominasi Tangan Manusia
© Pexels.com/Muthe Lifane
Reporter : Abidah
Sejak masa lalu hingga sekarang, manusia ternyata sudah didominasi oleh mereka yang menggunakan tangan kanan untuk aktivitasnya.
DREAM.CO.ID - Manusia sudah didominasi orang bertangan kanan sejak Zaman Batu. Para peneliti membuktikan hal ini lewat pengukuran tulang lengan pada kerangka purba dan pola keausan pada alat-alat prasejarah. Di negara-negara Barat, orang kidal hanya berjumlah sekitar 10 persen dari total populasi, sementara orang yang menggunakan tangan berbeda untuk tugas berbeda (mixed handed) atau mahir memakai kedua tangan sama baiknya (ambidextrous) jauh lebih langka lagi.
Ilmuwan sudah lama mengetahui bahwa dominasi tangan sebagian dibentuk oleh gen, tapi baru pada 2019 mereka berhasil mengidentifikasi perbedaan DNA antara orang kidal dan orang bertangan kanan. Penelitian ini menganalisis pemindaian otak dari 9.000 subjek asal Inggris dan menemukan bahwa pada orang kidal, bagian otak kanan dan kiri yang memproses bahasa bekerja lebih sinkron. Apakah sinkronisasi ini membuat orang kidal lebih fasih berbicara masih perlu diteliti lebih lanjut.
Janin mulai menggerakkan lengannya sekitar usia 9-10 minggu kehamilan. Menjelang awal trimester kedua, bayi menunjukkan preferensi jelas dalam menghisap salah satu jempolnya. Dominasi tangan tampaknya sudah terbentuk sejak sebelum lahir, meski para ahli tumbuh kembang menyebut orang tua baru bisa mengenali tangan dominan anaknya pada usia 2 atau 3 tahun. Banyak anak masih berganti-ganti tangan untuk berbagai tugas selama masa kanak-kanak awal.
Manusia sudah didominasi orang bertangan kanan sejak Zaman Batu. Para peneliti membuktikan hal ini lewat pengukuran tulang lengan pada kerangka purba dan pola keausan pada alat-alat prasejarah. Di negara-negara Barat, orang kidal hanya berjumlah sekitar 10 persen dari total populasi, sementara orang yang menggunakan tangan berbeda untuk tugas berbeda (mixed handed) atau mahir memakai kedua tangan sama baiknya (ambidextrous) jauh lebih langka lagi.
Akar Genetik di Balik Dominasi Tangan
Ilmuwan sudah lama mengetahui bahwa dominasi tangan sebagian dibentuk oleh gen, tapi baru pada 2019 mereka berhasil mengidentifikasi perbedaan DNA antara orang kidal dan orang bertangan kanan. Penelitian ini menganalisis pemindaian otak dari 9.000 subjek asal Inggris dan menemukan bahwa pada orang kidal, bagian otak kanan dan kiri yang memproses bahasa bekerja lebih sinkron. Apakah sinkronisasi ini membuat orang kidal lebih fasih berbicara masih perlu diteliti lebih lanjut.
Dominasi Tangan Sudah Terbentuk Sejak dalam Kandungan
Janin mulai menggerakkan lengannya sekitar usia 9-10 minggu kehamilan. Menjelang awal trimester kedua, bayi menunjukkan preferensi jelas dalam menghisap salah satu jempolnya. Dominasi tangan tampaknya sudah terbentuk sejak sebelum lahir, meski para ahli tumbuh kembang menyebut orang tua baru bisa mengenali tangan dominan anaknya pada usia 2 atau 3 tahun. Banyak anak masih berganti-ganti tangan untuk berbagai tugas selama masa kanak-kanak awal.
Risiko pada Dominasi Tangan yang Campur
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa siswa yang tidak dominan tangan kanan lebih rentan mengalami kesulitan belajar dan gejala ADHD, terutama pada mereka yang mixed-handed atau ambidextrous. Salah satu penelitian menemukan bahwa anak-anak yang bergantian menggunakan tangan berisiko dua kali lebih tinggi mengalami disleksia. Penyebab pastinya belum diketahui, tapi peneliti menduga dominasi tangan yang tidak konsisten justru lebih bermasalah dibanding kidal yang konsisten.
Otak bagian kanan mengendalikan otot di sisi kiri tubuh dan sebagian besar mengatur kemampuan musikal serta spasial. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa orang kidal kerap mendominasi profesi kreatif. Mirror writing, kebiasaan menulis huruf yang terbalik, hampir selalu dilakukan dengan tangan kiri. Sejumlah penelitian menunjukkan anak-anak kidal mendapat skor lebih tinggi dalam penalaran verbal atau lebih sering masuk program anak berbakat, meski penelitian lain menunjukkan hasil berbeda.
Sebuah eksperimen menarik pada lansia bertangan kanan menemukan bahwa mereka semakin jarang mengandalkan tangan dominannya seiring bertambahnya usia. Ketika tangan kanan mereka melambat dan kurang stabil, para lansia ini bisa mengerjakan sejumlah tugas sama baiknya dengan tangan kiri. Meski begitu, mereka tetap menganggap diri sebagai orang yang kuat tangan kanan.
Dominasi Tangan dalam Dunia Olahraga
Orang kidal tampak memiliki keunggulan dalam olahraga seperti tinju atau anggar, karena mereka bisa mengejutkan lawan yang terbiasa menghadapi orang bertangan kanan. Pada beberapa musim, hampir separuh roster All-Star Major League Baseball diisi pemain kidal atau switch hitter. Namun keunggulan ini mungkin lebih disebabkan faktor praktis, seperti pemukul kidal yang berdiri lebih dekat ke base pertama, dibanding bakat atletik semata.
Terdapat kaitan yang sudah cukup mapan antara kekidalan dan kondisi mental seperti skizofrenia, yang bisa menyebabkan halusinasi dan gangguan berpikir. Sebuah penelitian besar di Inggris menemukan kaitan kuat antara area otak yang terlibat dalam dominasi tangan dan kecenderungan mengalami perubahan suasana hati, kegelisahan, serta neurotisisme — tipe kepribadian yang ditandai kecemasan dan ketakutan yang kadang berkembang menjadi gangguan mental.
Manusia bukan satu-satunya hewan dengan sifat dominasi tangan. Peneliti yang mengamati simpanse liar menemukan mereka dua kali lebih sering menggunakan tangan kiri saat mencari rayap. Pola serupa juga tampak pada simpanse yang dibesarkan dalam penangkaran. Namun hasilnya berbeda untuk tugas memecah kacang, tugas yang membutuhkan kekuatan murni, bukan keterampilan motorik halus seperti mengambil serangga, simpanse liar jauh lebih sering menggunakan tangan kanan untuk tugas ini.
Bias budaya terhadap orang kidal sudah ada sepanjang sejarah manusia. Pada Abad Pertengahan, iblis dipercaya sebagai sosok kidal. Di Jepang, China, dan negara-negara Asia lain, persentase orang kidal jauh lebih kecil dibanding di negara-negara Barat. Guru dan dokter Amerika pada awal 1900-an bahkan meyakini orang kidal lebih rentan mengalami gangguan mental, sehingga mereka menekan murid-muridnya untuk berganti tangan.